8 Juli 2020

Apakah Pertamina Harus Bangun Kilang Minyak?

Ilustrasi/foto/portonews.com

APAKAH masih relevan Pertamina bangun kilang baru dengan utang dan margin kilang yang katanya sangat rendah sehingga sedikit investor yang tertarik, apalagi di seluruh dunia sudah melakukan peralihan technologi, yaitu menggunakan battery

dan hydrogen.

Apa tidak lebih baik Pertamina untuk beralih ke investasi synthetic diesel oil B100 euro 5, yang bahan baku dari 1.5 ton TBS (Tanda Buah Segar) bisa menghasilkan 1000 liter B100 dengan technologie dari Alphakat/DR KOCH Jerman yang sudah pernah di kunjungi oleh BPPT.

Supaya biaya investasi murah, sebaiknya Pertamina bisa bekerja sama dengan Alphakat Jerman DR Koch, sehingga sebahagian besar peralatan bisa dibuat di Indonesia oleh BUMN, ada PT Barata dan PT Rekin.

Di Indonesia ada potensi kebun sawit seluas 14.000.000 hektar yg bisa menghasilkan CPO 56.000.000 ton per tahun, dan hanya 15.000.000 ton dimanfatkan untuk makanan, industri dan lainnya.

Selebihnya, ada 40.000.000 ton CPO setara dengan 200.000.000 ton TBS, dan langsung bisa diproses jadi synthetic diesel oil B100 Euro 5 untuk menghasilkan 134.000.000 ton B100, setara 864.000.000 barrel per tahun atau 2.500.000 barrel per hari.

Selain itu, sebagai bahan baku bisa dari sampah, biomass, plastik, ban bekas, kayu, dan batang sawit tua.

Sehingga, kalau program itu bisa dijalankan dengan benar, maka suatu ketika Indonesia bisa mengekspor 100% produk Pertamina dari fosil dan 1.500.000 barrel synthetic Diesel oil B100 Euro 5.

Karena, cukup 1.000.000 barrel syntetic bio diesel untuk penggunaan dalam negeri, karena sebahagian kendaraan akan beralih menggunakan battery.

Pabrik bisa dibangun di setiap propinsi di Indonesia, 6 pabrik biodiesel yang sudah ada akhirnya berorentasi pasar export, karena Pertamina sudah beralih ke B100.

Mengingat ada potensi besar buah sawit dari kebun milik PTPN sebagai bahan bakunya, sinergitas Pertamina dengan PTPN bisa dibangun dan dimulai dari pabrik milik PTPN 3 dan PTPN 4 di Sei Mangkei Propinsi Sumatera Utara sebagai proyek percontohan.

Dari pabrik milik PTPN diatas dengan kapasitas 2000 ton CPO per hari sudah bisa  menghasilkan olein atau minyak goreng 77%, stearine 17%, dan pfad 5%.

Stearine dan pfad setara dengan 440 ton per hari bila ditambahkan dengan tandan kosong kelapa sawit, batang kelapa sawit tua dan kayu karet hasil replanting bisa diproses menjadi B100 dengan technologi Alphakat Jerman.

TBS dari kebun rakyat di sekitar wilayah pabrik juga bisa diserap untuk langsung diproses jadi B100, termasuk ampas tebu PTPN juga bisa diproses jadi B100.

Ini adalah program masa depan Indonesia lepas dari ketergantungan energi fosil dan defisit dari sektor energi, sekalian menolong harga TBS bisa meningkat menjadi Rp 1900 per kg yang membuat petani sawit bergairah untuk meningkatkan produksi dengan replanting mengganti sawit dengan bibit unggul DXP.

PTPN akan menjadi BUMN yang sangat kuat dan menjadi penopang energi nasional di samping Pertamina.***

Medan, 22 Juni 2020

Riza M, Founder PT FSC Oleo Chemical