Advertisement

Pahlawan dan Kepahlawanan

M Azis Syamsuddin.

Oleh: DR. H. Muhammad Azis Syamsuddin SH., SE., MH., MAF

SETIAP bangsa tentu memiliki sosok yang menjadi sumber inspirasi kolektif mereka. Sosok tersebut yang biasanya disebut sebagai “Pahlawan”. Maka tidak mengherankan bila hampir di setiap Negara terdapat hari pahlawan, baik dalam bentuknya yang khusus, seperti Gandhi Jayanti di India yang diperingati setiap 2 Oktober untuk mengenang sosok Mahatma Gandhi atau pun dalam bentuk yang paling umum seperti “Hari Pahlawan” di Indonesia, yang diperingati setiap tanggal 10 November.

Pada hakikatnya, “pahlawan” bukan tentang identitas individu, tapi tentang nilai dan gagasan yang melekat secara inheren dengan individu tersebut. 

Setiap orang tentu memiliki nilai dan gagasan subjektif yang dianut. Tapi pahlawan, memiliki gagasan yang objektif. Dia memikirkan orang lain, nasib bersama, dan kemenangan bagi semua. Universalitas nilai dan gagasan yang diusungnya, melampaui sekat-sekat perbedaan ideologis, agama, ras, ataupun golongan. Itu sebabnya kisah pahlawan bisa dituturkan dan dimaknai di setiap waktu dan tempat di seluruh dunia.

Namun demikian, se-universal apapun suatu nilai, ia tetap terikat pada konteks. Oleh sebab itu, nilai perlu dikontekstualisasikan.

Nilai dan Konteks

Sebagaimana kita ketahui, segala sesuatu yang dianggap bernilai, tidak bersifat independent. Tapi terikat pada konteks. Perbuatan menghilangkan nyawa orang lain akan bernilai kepahlawanan bila dalam konteks perang. Tapi akan bernilai pembunuhan bila dilakukan dalam situasi damai. Inilah hukum besi penilaian yang berlaku secara universal. 

Karena konteks bersifat dinamis, maka dibutuhkan sebuah kaidah yang bersifat ajeg, universal, dan timeless. Fungsinya adalah untuk mengikat konteks.

Sebab bila tidak, maka konteks akan terlepas, sehingga nilai pasti akan bergerak liar. Dan agar kaidah tersebut dapat ditransformasi dari satu generasi ke generasi secara utuh, maka ia harus diikat dengan teks.

Dalam kerangka ini, seorang pahlawan, adalah “teks yang hidup.” Dia adalah manifestasi ideal teks pada konteksnya. Apa yang dilakukan oleh seorang pahlawan pada konteks yang dihadapinya adalah apa yang diinginkan oleh teks yang bersifat universal itu. 

Ini sebabnya, sikap seorang pahlawan dikatakan kontekstual, yang dengan demikian juga bersifat universal. Dan ketika sosok pahlawan dilepaskan dari konteksnya, maka dia tak lebih dari sebuah nama tanpa bermakna.

Dengan demikian, terdapat dua variable yang perlu dicermati bagi siapapun untuk mengkontekstualisasikan suatu nilai; pertama, adalah memahami teks secara utuh, dan kedua, kemampuan mendefinisikan konteks. 

Konteks dan Kepahlawanan

Sayangnya, meski sudah tidak terhitung momen peringatan hari pahlawan di Negara ini, jarang kita menemukan sosok yang mampu memahami sosok pahlawan sebagai sebuah teks yang hidup dan menginsiprasi.

Padahal bila kita cermati, Indonesia adalah salah satu negara yang mungkin paling banyak memiliki pahlawan. Di satu sisi, ini jelas satu hal yang luar biasa. Tapi di sisi lain, kita juga adalah salah satu negara dengan minat literasi terminim di dunia. Kita sangat sedikit melahirkan karya ilmiah yang menelaah secara rinci jejak kepahlawanan satu-persatu dari pahlawan nasional kita.

Bahkan karya-karya tulis para pahlawan sulit ditemukan di perpustakaan negara, dan menjadi barang langka yang hanya dikoleksi oleh orang-orang tertentu saja.

Maka tak ayal, pahlawan di negeri ini hanya dikenal dengan namanya, tidak gagasannya. Foto ilustrasi mereka yang heroik terpampang di sablonan baju dan spanduk, tapi tidak menjelma dalam tingkah laku pemakainya. Jargon-jargon pidatonya digunakan oleh para politisi, tapi tidak metodologi pemikirannya. Sosok kepahlawanan mereka tercabut dari konteksnya, dan nama mereka dibajak sebagai magnet untuk menarik simpati massa.

Konteks yang Liar

Tidak hanya sampai di sana. Perilaku kita yang memisahkan teks dari konteks seperti ini, agaknya memang terjadi di hampir semua bidang kehidupan. Terlebih dalam beberapa tahun belakangan, dimana isu politik demikian masif mendominasi narasi publik. Sehingga tak ayal, nilai suatu pendapat atau tindakan apapun selalu digantungkan pada keberpihakan politik.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, kita menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bagaiman kita gagap mendefinisikan konteks. Dinamika politik dalam konteks pilpres, kita artikan sebagai perjuangan hidup mati mempertahan eksistensi kelompok.

Sehingga konteks pun bergerak liar. Kritik di bully, pujian dihina. Konteks Pemilu diartikan sebagai “revolusi”, dan jargon-jargon “perang” justru muncul pada konteks damai. Akibatnya, nilai persatuan kita terguncang hebat.

Hari ini, kita kehilangan gugus makna. Semua pendapat, respons, atau sikap, sudah terlanjur dibingkai dalam konteks kontestasi Pilpres dan Pemilu. Bahkan setelah musibah dan bencana sudah datang silih berganti. Kita masih terus berkutat mencari siapa yang harus disalahkan dan menghujat satu sama lain.

Dalam momen hari pahlawan kali ini, ada baiknya kita meninjau kembali imajinasi kebersamaan kita di ruang geografis yang indah ini. Imajinasi yang diikat oleh ribuan gagasan raksasa dan jejak perjuangan para pahlawan selama ratusan tahun. Untaian imajinasi inilah yang kemudian melahirkan teks kenegaraan kita. 

Sedikit menengok ke belakang, hari Pahlawan ditandai oleh momentum perjuangan rakyat Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan dari serangan pasukan sekutu. Mereka bersenjatakan apa saja, berhamburan menyongsong maut tanpa rasa takut. Bila hasil sebuah pertempuran dihitung secara kuantitatif, atau dari agregat jumlah korban, maka kita terhitung kalah. Tapi bila hasil pertempuran dihitung dari sejauh apa tujuan tercapai, maka tak ada yang bisa mengingkari, bahwa kitalah pemenangnya. Dan tujuan tersebut tidak lain adalah mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dengan demikian, bila kita menkotekstualisasikan Pilpres dan Pemilu, perbedaan di antara para kontestan hanyalah gagasan dan metode mereka dalam merawat dan membangun NKRI. Kita seyogyanya dapat menginsafi bahwa dalam konteks ini, mereka semua adalah pemenang sejati. Sebab di antara kerasnya petarungan yang terjadi, pada akhirnya setiap mereka berhasil membuat perhitungan terbaik agar NKRI tetap utuh, dan persatuan tetap terjaga. Sejarah kelak akan mencatat orang tersebut atau kelompok tersebut sebagai pahlawan.. Wallahualam bisawab. [***]

*Penulis adalah Wakil Ketua DPR RI Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Korpolkam)

urbannews: @@urbannews13
Advertisement