8 Juli 2020

Bongkar Kebohongan Pertamina ke Publik, CERI: Kinerja Mereka Selama 2019 Biasa-biasa Saja…

Ilustrasi Pertamina.foto/idntimes.id

URBANNEWS.ID – Direktur Eksekutif CERI Yusri Usman mengungkapkan laba Pertamina selama ini yang paling tinggi adalah pada laporan keuangan Pertamina tahun 2016, yaitu USD 3,1 miliar.

Sementara, laba Pertamina tahun 2019 hanya USD 2,53 miliar, dan laba Pertamina tahun 2018 sebesar USD 2,54.

“Artinya, kinerja direksi Pertamina selama tahun 2019 adalah datar alias biasa saja,” ungkap Yusri.

Dikatakan Yusri, adapun deviden dari laba bersih Rp 35 triliun tahun 2019, yang disetorkan Pertamina ke pemerintah hanya sebesar Rp 8 triliun.

“Selebihnya, sekitar Rp 128,6 triliun merupakan setoran pajak pajak, termasuk pajak BBM dan pelumas yang ditanggung rakyat dalam membeli BBM. Dan Rp 43,7 triliun adalah PNBP atau Penerimaan negara bukan Pajak dari sektor hulu, termasuk bayar signatur bonus untuk ambil blok Rokan sebesar Rp 12 triliun,” kata Yusri.

“Terkait banyaknya setoran pajak kepada negara, ya itu wajar saja, karena Pertamina memonopoli penjualan BBM dan avtur di seluruh Indonesia, pajak BBM itu kan dibayar rakyat,” kata Yusri.

Menurut Yusri, faktanya harga BBM dijual mahal di atas harga wajar sesuai peraturan. 

“Parahnya lagi, kualitas BBM mereka hanya Euro 2, yaitu Premium, Pertalite dan Solar,” kata Yusri.

Selain itu, atas rencana Pertamina melakukan IPO untuk sub holdingnya, menurut Yusri, belum terlihat apakah sudah dengan perencanaan yang matang atau tidak. 

“Harusnya Direksi Pertamina belajar jujur lah menyampaikan kinerjanya kepada publik. Yang kami ungkap ini fakta semua. Gak percaya? Silahkan buka semua jejak digital dari tahun 2015 sampi dengan hari ini,” kata Yusri.

“Dan sesungguh laporan keuangan itu hanya dalam angka, karena dikatakan untung Rp 35 triliun dan disetorkan deviden Rp 8 ke Pemerintah, maka sisanya Rp 27 triliun sebagai laba yang ditahan apakah ada uang tunainya? Karena laporan keuangan Pertamina ini hanya mencatat nilai subdisi BBM yang menjadi piutang Pemerintah, tapi gak tau dibayarkannya kapan. Makanya untuk menambal itu biasanya Pertamina melakukan issue global bond,” beber Yusri.(hen)