CIRRUS: Pernyataan Inalum Soal 9 Kuntungan Divestasi Freeport Menyesatkan dan Melecehkan Bangsa Indonesia

Share Button:


Direktur Cirrus, Budi Santoso.foto/majalahtambang

URBANNEWS.ID - Pernyataan PT Inalum yang membeberkan sembikan keuntungan berkaitan dengan akuisisi 51% saham Freeport lebih banyak menyesatkan daripada mengemukakan realitasnya.

Pernyataan tersebut ada kesan untuk menutupi sesuatu dan membesar-besarkan yang sebenarnya tidak berpengaruh apakah divestasi 51% itu terjadi atau tidak.

Demikian pernyataan Direktur Centre for Indonesian Resources Strategic Studies (Cirrus), Budi Santoso kepada urbannews.id, Selasa (26/2/2019).

"Keuntungan finansial seharusnya disebutkan dalam valuasinya, bukan dunyatakan angka-angka parsial.

Saya kira Inalum tahu bagaimana menyajikan parameter keuangan ketika satu proyek itu menguntungkan finansial atau tidak. Jangan ditutup-tutupi dan dibesar-besarkan, kalau kenyataannya tidak seperti itu, masyarakat bisa marah," kata Budi Santoso.

Menurut Budi, logikabya sederhana, kalau memang dapatnya segitu tapi tetep miskin, duitnya 'dicuri' siapa?

"Inalum dalam membuat pernyataan jangan menyesatkab. Atau memang secara valuasi nilai Freeport tidak setinggi yang dipublikasikan terutama dikaitkan dengan investasi smelter dan masalah lingkungan," ungkap Budi.

Keuntungan manajemen, kata Budi lagi, pada kenyataannya Komisaris Utama dan Direktur Utama masih orang-orang dari Freeport.

"Kalau kenyataanya tidak memiliki otoritas dalam pengurus perushaan bisa-bisa pihak yang ditunjuk cuma proxy saja. Dan bahkan operasional masih dipegang oleh Freeport, kalau mau belajar yang benar, seseorang harusnya memiliki otoritas. Karena kalau cuma sebagai pendamping bangsa ini tidak akan mampu berdiri sendiri," ujarnya.

Menurut Budi Santoso, mengenai pernyataan posisi di bawah pemerintah, kondisi ini karena amanah undang undang, jadi bukan karena divestasi.

"Pernyataan Inalum justru terkesan melecehkan Undang Undang dan menyesatkan. Diakuisisi atau tidak seharusnya memang berubah menjadi IUPK," ujar Budi.

Mengenai pernyataan cadangan emas terbesar di dunia, menurut Budi Santoso, terminologi cadangan tidak ada dalam bentuk nilai uang, harus tonase dan kadar. 

"Pernyataan ini juga sangat menyesatkan dan berbahaya. Kalau pernyataan dalam bentuk uang bisa dipersepsikan sebagai valuasi tambang tersebut. Kalau nila tambangnya sebesar itu maka sangat bodoh Freeport menjualnya dengan nilai USD 3.8 miliar," ujar Budi.

Dijelaskan Budi, Inalum ingin menunjukan bahwa take over tersebut sangat cerdas.

"Dan kalau sampai muncul persepsi bahwa angka tersebut adalah nilai tambang, maka bisa membuat penilaian publik yang salah, dan kalau tambang itu memang nilainya segitu besar dan ternyata rakyat cuma dapat yang kecil, akan ada pertanyaan, duitnya siapa yang nyuri? Inalum harus mengkoreksi ini," tegas Budi.

Selanjutnya, menenai pernyataan masyarakat Papua diuntungkan, menurut Budi, informasi yang didapatkan dari Pak Simon, sewaktu beliau menjadi Dirjen, seharusnya masyarakat Papua dapat gratis 10% saham Freeport, sebagai kompensasi Sungai Akwa yang dipergunakan sebagai bagian dari proses produksi.

"Karena sungai tersebut tidak dapat difungsikan secara ekonomi oleh masyarakat Papua kecuali untuk kepentingan tailingnya Freeport," ujar Budi.

"Dan menurut pak Simon, Moffet sudah setuju kompensasi 10% tersebut gratis dan pernah dikemukakan kepada Gubernur sekarang, sekitar 4 tahun lalu. Justru pernyataan menguntungkan ini malah memalukan, seharusnya gratis, disuruh membayar kok disebut menguntungkan," tukas Budi.

Lebih lanjut, mengenai pernyataan Inalum untuk keutungan 6, 7, 8 dan 9, ada atau tidak adanya akuisisi 51% akan terjadi juga.

"Juatru sekali lagi, menunjukan Inalum sangat mengecewakan karena tidak ada perubahan mendasar walau pemerintah Indonesia mengeluarkan dana yg begitu besar," kata Budi Santoso.

Menyoroti Transfer teknologi, Budi mengatakan, juga menunjukan bahwa seolah-olah Freeport 'memberikan' teknologi dan jerih payah tenaga ahli Indonesia dianggap pemberian teknologi dari asing. 

"Mereka secara pribadi berjuang meningkatkan diri dan berkompetisi dengan koleganya dari negara lain. Kalau disebut dengan divestasi 51% Indonesia lebih melek teknologi, ini sangat merendahkan tenaga ahli Indonesia dan bangsa Indonesia secara umum," sergah Budi.

"Selama ini Freeport pun juga beli teknologi dan walau sudah dibeli tetep hak paten teknologi tersebut tetap milik providernya," tambah Budi.

Budi lantas menegaskan, pernyataan Inalum secara umum cenderung sebagai pernyataan politik daripada seorang profesional. 

"Sebaiknya Inalum menjelaskan program road mapnya ke dean, bagaimana bangsa ini lebih bisa membanggakan dalam pengelolaan SDA dan memiliki kedaulatan," tutup Budi.(hen)

Baca juga:

Share Button:
author
No Response

Leave a reply "CIRRUS: Pernyataan Inalum Soal 9 Kuntungan Divestasi Freeport Menyesatkan dan Melecehkan Bangsa Indonesia"