SKK Migas, Jangan Lah Biarkan Terjadi Polemik dan Tebak-tebakan antara Chevron dan Pertamina…

Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources (CERI) Yusri Usman.foto/indopetronews.com

URBANNEWS.ID - Direktur Eksekutif CERI Yusri Usman mengungkapkan terus merosotnya produksi Blok Rokan, bukan masalah sederhana.

"Chevron mengatakan pemboran di Blok Rokan tidak ekonomis, sementara Pertamina mengatakan Pemboran di Blok Rokan sangat Ekonomis, makanya berani menawar USD 783 juta atau setara Rp 11 triliun waktu tender di Ditjen Migas pada tahun 2018," ungkap Yusri Usman kepada urbannews.id, Minggu (26/1/2020).

Yusri menuturkan, fakta itu menimbulkan pertanyaan, bagaimana SKK Migas yang tugasnya mengendalikan Production Sharing Contract (PSC), seharusnya mengetahui semua perencanaan di Blok Rokan. Baik Plan of Development (POD) semua field, Work Program (WP) and Budget serta keekonomian Blok Rokan.

"Jangan lah biarkan terjadi polemik dan tebak-tebakan antara Chevron dan Pertamina," ujar Yusri.

Dilansir cnbcindonesia.com, 24 Januari 2020, nasib Blok Rokan, salah satu tulang punggung lifting minyak RI kini memprihatinkan. Produksinya terus merosot, di sisi lain tak ada pengeboran sampai saat ini karena masih ada kemelut transisi kontraktor.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan PT Pertamina (Persero) tidak perlu membeli hak partisipasi Chevron Pasific Indonesia (CPI) untuk melakukan kegiatan pengeboran.

Menurutnya, Pertamina bisa masuk sebelum kontrak berakhir tanpa harus membeli hak partisipasi. Namun demikian, Arifin ragu jika Pertamina bisa masuk bulan ini. "Dikit lagi (negosiasi dengan Chevron), harusnya bisa ya (tanpa membeli hak partisipasi. Mudah-mudahan (bulan ini)," terangnya di Kementerian ESDM, Jumat, (24/1/2020).

Sebelumnya, Pertamina sempat menyampaikan ke awak media terkait rencana membeli hak partisipasi Chevron di Blok Rokan. Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman mengatakan Pertamina akan terus mendorong negosiasi dengan Chevron agar negosiasi bisa segera diselesaikan.

"Negosiasi dengan Chevron dengan maksimal agar dapat segera diselesaikan," ungkapnya kepada CNBC Indonesia, Jumat, (24/01/2020).

Lebih lanjut dirinya menerangkan, partisipasi adalah kepemilikan di lapangan. Pertamina, imbuhnya, sudah menang tender di Blok Rokan. "Terkait pengeboran di tahun 2020 itu menjadi bagian itu menjadi bagian yang sedang dinegosiasikan untuk tahapan transaksi," imbuhnya.

Dalam paparan di Komisi VII DPR RI sebelumnya, Chevron Pacific Indonesia selaku kontraktor eksisting menyebut sudah tidak melakukan pengeboran lagi di Blok Rokan karena menilai sudah tidak ekonomis. Laju produksi di Blok Rokan pun terus menurun dari tahun ke tahun.

Terbukti, Rokan yang semula blok dengan produksi minyak terbesar di Indonesia kini tergeser oleh blok Cepu yang dikelola oleh Exxon. Blok Rokan yang pada masa kejayaannya bisa memproduksi hingga 230 ribu barel sehari, di 2019 lalu rata-rata produksinya hanya 190 ribu barel sehari. Diperkirakan tahun 2020 akan kembali terjadi penurunan di 161 ribu barel per hari. Kondisi ini akan terus menurun sampai ke tahun 2021.

Presiden Director Chevron Pacific Indonesia Albert Simanjuntak menjelaskan saat ini tengah terjadi proses transisi di blok minyak yang dikuasai kontraktor Amerika itu hampir selama satu abad itu.Mulai 8 Agustus 2021 nanti, Pertamina yang akan mengelola blok Rokan menggantikan Chevron.

"Kami sudah mulai melakukan proses alih kelola sejak awal tahun lalu di bawah koordinasi SKK Migas dengan bentuk tim koordinasi, proses ini sudah berjalan dengan baik kami punya jadwal sudah terpenuhi," jelasnya, Senin, (20/01/2020).

Selama proses transisi ini, Albert mengakui Chevron tak melakukan pengeboran. "Mengingat saat ini kami sudah gak ekonomis untuk bor sumur, terakhir kami bor tahun 2018 sebanyak 89 sumur, 2019 kami fokus lakukan workover dengan gunakan digital teknologi yaitu memilih kandidat-kandidat sumur yang dikerjakan dan meminimalisir downtime kita," jelasnya.

Sementara itu, dilansir liputan6.com, 24 Januari 2020, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) Dwi Soetjipto mengatakan, saat ini Pertamina dan Chevron sebagai operator Blok Rokan masih melakukan negosiasi, untuk masa transisi sebelum alih kelola dilakukan setelah kontrak Chevron di Rokan habis pada 2021.

Dwi menginginkan, Pertamina segera melakukan transisi di blok migas yang menjadi salah satu tulang punggung produksi minyak Indonesia tersebut.‎

Dia pun menargetkan Pertamina bisa melakukan pengeboran 70 sumur di Blok Rokan pada tahun ini.

"Kami mendorong Pertamina segera masuk, diharapkan pengeboran 70 sumur meski pertamina lihat 20 sumur, harapan di Rokan jalan," tuturnya.

Menurut Dwi,‎ kajian transisi rokan sudah mengerucut pada skema early handover. Ini artinya, Pertamina ikut menanggung kegiatan operasi Rokan, dengan imbalan sebagian hasil produksi Rokan menjadi milik Pertamina.

‎"Kalau lebih awal itu kan berarti apa yang tadi benefit diterima Chevron itu dipindahkan, benefitnya diterima Pertamina. kalau kewajiban yang akan dipikul Chevron di akhir periode dia jgua harus dipikul Pertamina, itu kan harus kita hitung juga," tandasnya.(hen/cnbcindonesia.com/liputan6.com)

Bagikan Jika Bermanfaat