OTT Rommy Patut Diduga Akibat Mahalnya Ongkos Politik Mendukung Jokowi


M Romahurmuziy.foto/fajar.co.id

Oleh: Pradipa Yoedhanegara

OPERASI tangkap tangan yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi terhadap Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan di Surabaya beberapa waktu silam, ada kemungkinan disebabkan oleh faktor mahalnya biaya politik di tanah air, serta faktor mahalnya biaya mendukung petahana saat ini. 

OTT yang dilakukan oleh KPK tersebut harusnya bisa dijadikan sebagai ajang untuk membenahi partai politik secara komprehensif serta biaya pencapresan di masa mendatang.

Prihatin sekali dengan prilaku Rommy yang merupakan orang dekat presiden Jokowi, yang oleh KPK disebut sudah beberapa kali melakukan transaksi jual-beli jabatan di Kementerian Agama RI. Beberapa kali menurut komisioner KPK artinya tidak hanya sekali.

Bahkan menurut mantan Ketua MK Prof Mahfud MD, Rommy sudah dijejak alias diikuti oleh KPK, dan OTT Rommy  tamparan sekaligus pukulan bagi tuan presiden dan partai pendukung tuan Presiden Jokowi.

KPK harus berani membuka kepada publik aliran uang, mantan ketua umum partai pengusung Capres Jokowi tersebut apakah ada yang mengalir ke tim kampanye nasional KoRuf (Jokowi-Ma'ruf) serta membuka kepada publik apakah ada dugaan uang tersebut mengalir sebagai bagian setoran partai politik ke pihak istana, atau uang hasil jual-beli jabatan tersebut masuk ke rekening partai dan digunakan untuk pembiayaan mesin partai politik sang Ketum untuk mendukung petahana.

Komisi Pemberantasan Korupsi harus didorong oleh semua pihak untuk berani memeriksa Menteri Agama dan atasan sang Menteri Agama terkait jual beli jabatan di Kemenag. Karena tidak mungkin seorang Rommy yang bukan pejabat di kementrian agama berani melakukan transaksi terkait jual-beli jabatan tanpa adanya restu pejabat terkait ataupun restu dari pihak istana.

Komisi Pemberantasan Korupsi jangan takut untuk membongkar kasus tersebut sempai tuntas, agar publik tahu begitu bejatnya birokrasi kementrian agama saat ini di bawah pengelolaan rezim petugas partai. 

Komisi pemberantasan korupsi sebagai lembaga independen harus juga menyelidiki adanya kemungkinan permainan tender proyek di kementrian agama karena indikasi jual-beli jabatan ini patut diduga akan berdampak pada permainan anggaran serta proyek-proyek yang ada di kementrian tersebut.

Tertangkap tangannya 'si ganteng' Rommy (Meminjam istilah Presiden Jokowi), akan menjadi snowball di tahun politik yang bisa saja menyerang balik para penyidik KPK serta para penggiat anti korupsi, karena si ganteng Rommy kawan dekat atau sahabat sang petahana yang kini masih menjabat sebagai orang nomer satu dan sangat berkuasa di republik ini.

Penyidik KPK tidak boleh sampai lengah dan harus mewaspadai akan adanya upaya balas dendam, dan upaya pelemahan terhadap institusi KPK pascapenangkapan si ganteng Rommy. Karena bukan tidak mungkin tragedi yang pernah dialami oleh Novel Baswedan dulu akan terulang kembali kepada penyidik yang menangani kasus jual-beli jabatan di Kemenag, karena kasus si ganteng Rommy telah menurunkan serta menghancurkan kredibelitas nama besar petahana yang katanya bersih dari korupsi.

OTT KPK terhadap Rommy sekaligus berkah bagi kubu lawan Jokowi, jangan sampai hal ini dijadikan alat oleh kelompok pro rezim petugas partai seolah KPK sedang memainkan peran politik terselubung dalam rangka membantu pasangan Prabowo-Sandi sebagai presiden terpilih periode 2019-2024. Para komisioner KPK harus bisa keluar tekanan publik dari kasus OTT Rommy dengan bekerja secara profesional dan transparan agar wibawa KPK tetap terjaga dari isu tidak sedap terkait netralitas di tahun politik seperti saat ini.

Sebagai pesan penutup, publik agar terus mendorong KPK untuk tidak sekedar mengusut kasus jual-beli jabatan di Kemenag saja tapi kasus-kasus besar lainnya yang melibatkan orang-orang dekat di seputar kekuasaan istana dan kasus besar seperti reklamasi Teluk Jakarta dan Meikarta. Selain itu juga KPK wajib menuntaskan kasus 'kardus durian' di Kemenakertrans yang hingga kini tidak kunjung selesai.

Waallahul Muafiq illa Aqwa Mithoriq,

Wassalamualaikum wr, wb.***

Jakarta, 19 Maret 2019

Bagikan
No Response

Leave a reply "OTT Rommy Patut Diduga Akibat Mahalnya Ongkos Politik Mendukung Jokowi"