Antara Benci dan Cinta

70 views

Oleh: Zeng Wei Jian

MARTIN Luther King menyatakan, "Hate is just as injurious to the hater as it is to the hated. Like an unchecked cancer, hate corrodes the personality." 

Karakter para pemain politics-of-hatred jadi sedemikian mengerikan; Jahat. Keji. Kasar. Vulgar. Jorok. Buruk dan burik. Sangar. Semuanya karena rasa benci yang nyala seperti api. Burning hell. 

To understand hate, we must first (try to) understand love. Dari cinta menjadi benci setengah mati. 

Psychologists beda pendapat seputaran "Cinta". Sebagian mengatakan "Cinta" adalah sebentuk "temporary insanity". Kegilaan sesaat. A sweet madness yang membuat manusia berprokreasi. For a lucky few, sedikit ya, "Cinta" membuat mereka deeply-madly attached until death do us part.

"Cinta" dipastikan trigger a strong “approach” motivation. Ada animal magnetism dalam "Cinta". Magnet itu menarik seseorang sehingga ingin punya relasi close dan intim dengan the loved one. 

Physiology "Cinta" dan "Benci" itu serupa; increased heart rate, respiration, gemetar dan sebagainya. 

Sebuah simple quick switch bisa mengubah "Cinta" jadi "Benci". Transformasi dari "object of desire" jadi "object of derision". Dari "objek pujaan" jadi "target caci maki". 

Seorang Pujangga-cum-playboy seperti Juhai "Rinto" Baswedan berkali-kali mengalami perpindahan posisi ini. Awalnya dipuja-puja, akhirnya dibenci. 

Di otak, Neurology "Cinta" dan "Benci" melibatkan cerebral cortex. 

"Cinta" mendeaktivasi large parts of the cerebral cortex. "Benci" sebaliknya. Seseorang yang sedang jatuh cinta akan menutup semua "negative judgments". Orang penuh benci tidak mampu melakukan "self-reflect". 

Itu alasan kenapa orang yang penuh benci menjadi tidak tau malu dan agresif. Ngamuk seperti orang gila. Merendahkan diri sendiri. 

Serupa dengan "Cinta", rasa "Benci" punya basis “approach” motivational. Fokusnya ingin menghancurkan, devaluing dan membahayakan objek kebencian itu. 

"Benci" berfungsi sebagai self-protective mechanism yang menutupi rasa insecurities, feeling helpless dan weak. 

Ngga heran bila semua pembenci itu pada dasarnya adalah orang-orang lemah dan kalah. The winners dan "Juara" has no reason to get mad nor to hate. 

"Benci" kadang-kadang hasil dari broken relationship. Separation menghancurkan mimpi senggama sebagian perempuan. Alhasil mereka marah dan benci. Stress tingkat tinggi. The primary purpose of maintaining hate beyond that is unknown.

Di antara pendukung Paslon Prabowo-Sandi ada yang berasal dari kaum kalah-lemah. 

Mereka ini adalah para pemain politics-of-hatred yang sampai sekarang masih mengutuki Pa Prabowo dan para pendukung loyalisnya.***

Bagikan
No Response

Comments are closed.