Advertisement

Cerita Lepas Seorang Ibu Mengenai Sosok Arnes Lukman

Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta, Arnes Lukman.foto/jurnas.com

Oleh: Mariska Lubis

CALON Wakil Anies Baswedan yang digadang-gadang Partai Gerindra yang mewakili kelompok profesional, bernama Arnes Lukman, yang akrab saya panggil Uda Arnes. Dia lebih dikenal sebagai seorang pengusaha, meski sebenarnya beliau juga adalah seorang psikolog.

Sisi lain yang mungkin akan mengejutkan banyak orang, mengingat jarang sekali hal tersebut muncul mengemuka dalam ruang publik, beliau juga sebenarnya sudah sejak dari muda mengurus Pesantren Mustafawiyah Purba Baru, pesantren tertua di Sumatra. Bahkan beliau hingga kini adalah Ketua Pembina Pesantren tersebut.

Nah, bagaimana caranya seseorang yang juga Dewan Pembina Asosiasi Mall se-Indonesia dan Dewan Penasehat Asosiasi Mall se-DKI ini berpikir?! Mulai dari menggagas Jakarta Great Sale sampai mengurus para santri yang jumlahnya 12,000 santri per tahun, duh! Keren, ya?

Kebetulan saya kenal dengan beliau sejak lama, sejak masih ganteng banget, deh! Beliau juga sempat bareng dengan saya sekolah di Australia, memang dari dulu orangnya pintar, cerdas, dan yang paling saya suka adalah banyak sekali ide brilliannya. Nggak pernah bisa bicara sebentar, rasanya tidak pernah ingin berhenti berbincang dengannya.

Saya pribadi bisa banyak belajar dari beliau, mengingat beliau juga seorang psikolog, bukan hanya psikolog biasa, tapi juga Wakil Ketua Ikatan Sarjana Psikologi Universitas Pajajaran, Bandung, beliau bisa mengerti isi kepala dan hati saya dengan baik. Bahkan Arnes sapaan akrabnya banyak sekali juga membimbing dan mendorong saya selama ini untuk tetap tegar dan kuat.

Saya masih ingat, pada suatu malam, kami berbincang lama sekali tentang kehidupan dalam makna yang lebih luas. Beliaulah mengajarkan saya tentang makna sosok ibu dan menjadi perempuan sejati.

Bagaimana keberadaan beliau yang selalu datang ke makam ibunda yang melahirkan beliau, menjaga, dan merawatnya sebagai baktinya, sungguh membuat hati saya tersentuh.

Saya secara pribadi, tidak akan pernah lupa perbincangan kami di tengah dinginnya udara di daerah Dago, Bandung. Nasehat beliau malam itu sangat berarti, bagi diri saya pribadi dalam peran saya sebagai seorang ibu dan perempuan.

Satu hal yang saya tahu persis tentang beliau adalah tidak pernah mau “show off” soal sisi baiknya. Beliau lebih menonjolkan sisi kehidupannya sebagai seorang lelaki yang berani, nekat, dan bandel yang diimbangi sisi professionalismenya sebagai pengusaha sukses.

Tampilan sisi penghayatan relijius beliau misalnya adalah banyak terlibat membantu orang tanpa perlu basa basi. Saya masih ingat sekali bagaimana beliau ini memberikan gigi palsu untuk sopirnya, karena kasihan tidak bisa makan enak. Belum lagi orang per orang yang terus didukung dan didorognya untuk terus maju dan berkembang dalam bidang pengembangan potensi.

Dalam sisi religius yang paling menonjol dan tidak pernah beliau bahas adalah soal pembinaan dan pengembangan pondok pesantren Mustafawiyah Purba Baru di Mandailing Natal. Beliau sudah sejak muda menjadi pengurus pesantren tersebut, dan bahkan meskipun lahir sebagai putra Minang, beliau juga merupakan bagian dari keluarga Nasution, Mandailing. Saya tahu bukan karena beliau cerita, tapi karena saya seorang Lubis. Beliau malah cengar-cengir saja kalau ditanya soal pondok pesantren ini.

Sisi nasionalismenya, jangan ditanya lagi. Misalnya beliau bahkan meminta saya untuk terus mendengarkan cerita dari Almarhum Mas Idris Sardi secara langsung.

Beliau prihatin di negeri ini “Tidak ada lagi maestro biola yang bisa kita banggakan selain Mas Idris!”, begitu ucapan beliau saat itu. “Anak-anak muda Indonesia harus mengerti sejarah dan perjuangan, yang bisa dilakukan bahkan lewat musik. Mas Idris Sardi berjuang bagi Indonesia lewat musik, dan ini luar biasa sekali,” kata beliau saat itu melanjutkan dengan berapi-api.

Beliau memang tidak mau orang tahu banyak tentang hal ini, itu sisi dari kerendahan hatinya. “Masih banyaklah yang lain yang lebih patut dibilang baik, saya ini apalah dibandingkan mereka”, kata beliau.

Tidak heran ketika saya berjumpa dengan beliau secara tak sengaja di mall, beliau malah sedang membawa jalan ayah angkatnya yang sudah berusia 85 tahun. Siapa coba yang mau bawa lelaki tua ke mana-mana, demi menyenangkan hati orangtua, tidak malu pula dibawa dan diajak rapat ke mana-mana?

Arnes memang begitulah orangnya. Siapapun yang mencalonkan beliau untuk jadi wakil Anies Baswedan, saya jamin orang tahu persis bagaimana kiprah seorang Arnes Lukman, dan saya 100% mendukung!

Jakarta membutuhkan sosok beliau bukan hanya untuk lebih maju, rapih, dan teratur, tapi juga "rasa memiliki” yang menjadi kekuatan kita dalam membangun bangsa dan negara.***

Jakarta, 21 November 2019

urbannews: @@urbannews13
Advertisement