Advertisement

Cina dan AS Berdaulat atas Negaranya, Mengapa Kami Tidak Boleh?

Muslim Arbi.foto/ist

Oleh: Muslim Arbi, Direktur Gerakan Perubahan (Garpu)

KALAU Cina (baca RRC) juga AS (United State) berdaulat atas Negeri dan Negaranya, mengapa kami (NKRI) tercinta tidak boleh berdaulat, bahkan penuh kedaulatannya? 

Pertanyaan di atas sengaja dilontarkan. Lontaran di atas untuk mempertanyakan sejumlah keganjilan atas sitausi yang terjadi selama ini. 

Kedaulatan sebuah bangsa atas negerinya itu mencakup semua hal. Kedaulatan itu sebuah kehormatan dan harga diri. Untuk itulah Bangsa itu dihargai. Kedaulatan itu didapatkan melalui perjuangan panjang dan penuh pengorbanan. Sejarah mencatat atas semua itu. Dan umum sudah pasti tau itu. 

Sekarang ini muncul dua kekuatan besar dunia yang sedang berkuasa dengan kekuatan yang dimiliki. Blok komunis-kapitalis Cina dan Blok Kapitalis-Liberal AS. 

Dua kekuatan Dunia itu bertahan dan berebut pengaruh. Terkadang harus berusaha menguasai negara lain. Dengan berbagai tipu daya dan trik. Ada kekuatan Ekonomi dan militer. Dan juga kekuatan politik internasionalnnya. Bahkan Ideologi Komunis maupun Liberalnya. Dan Pancasila kami hanya onggokan slogan yang tidak bermakna.

Cina dan Amerika, tidak dapat dipungkiri sedang memainkan peran-peran penting untuk kuasai dunia semenjak lama.

Di Negeri ini, permainan dua kekuatan itu sangat terasa sekali. Mengapa kami tidak dibiarkan memilih pemimpin yang dapat diandalkan untuk bela kedaulatan dan kehormatan kami? Mengapa kami mesti diintervensi dengan memunculkan pemimpin boneka dengan segala pernik-pernik pencitraannya. Dan dipertahankan pula dengan kekuatan kapital dan media, dengan pemilu penuh kecurangan yang menodai demokrasi dan hak-hak azasi itu?

Padahal kami tidak lakukan itu di negeri kalian. Jika saja kami lakukan itu. Sudah pasti dianggap sebagai ancaman dan di tumpas habis bukan? 

Setelah sang pemimpin boneka itu dipertahankan dengan berbagai resiko kapital dan media yang kalian miliki. Pembentukan kabinetnya juga kalian intervensi. Orang-orang yang sepatutnya bekerja dan berjuang demi kedaulatan negeri kami juga tersingkir apalagi yang mau diakomodir di kabinet untuk kepentingan kedaulatan ekonomi dan sebagainya. Ini sebuah ironi dari ironi bangsa-bangsa yang masih terjajah di dunia hari ini.

Narasi di atas bisa disimak sebagai sebuah refleksi bagi kita anak-anak Bangsa untuk selalu berjuang untuk tegaknya sebuah kedaulatan yang berkeadilan dan berada di atas jalan kebenaran atas negeri ini. 

Dan kami mau bilang, kepada kalian semua wahai kekutan dunia pongah yang berusaha mengangkangi kami. Kami paham permainanan kalian. Kami tidak tidak tinggal diam. Allahu Akbar wa Lillahil Hamdu.***

Jakarta, 24 Oktober 2019

urbannews: @@urbannews13
Advertisement