Memaafkan Itu Perkara Mulia

No comment 24 views
Share Button:

Resume Ceramah Kultum Subuh Tanggal 6 Mei 2019

Oleh: Ketua Mesjid Syuhada, Zulfikri Toguan

MENGAPA banyak orang ketika mau memasuki bulan Ramadhan melakukan minta maaf atau saling memaafkan, bahkan lewat medsos jika tak berkesempatan bertemu, apakah kalau tidak meminta maaf atau memaafkan puasa Ramadhan tidak jadi datang? Atau puasa kita tidak syah? Syarat puasa tidak ada mengatur harus minta maaf baru sahnya puasa, lalu mengapa meminta maaf?

Ternyata perkara memaafkan itu adalah pekerjaan yang mulia, paling tidak ada beberapa sebab;

1. Bukti Manusia sama kedudukannya dihadapan Allah SWT: Saat seseorang bersalah saat itu saat lain dia pernah baik, kita juga begitu saat ini kita benar saat lain kita pernah salah. Jadi lumrah orang bersalah dan benar jika ada orang yg bersalah terdap kita sebaiknya dimaafkan jangan disimpan dalam hati, karena akan jadi penyakit banyak yang menderita darah tinggi karena memendam dendam bahkan  ada yang berujung penjara karena meluaskan sakit hati dengan menganiaya orang lain.

2. Memaafkan melanjutkan silaturrahmi. Jika telah mampu memaafkan orang lain tidak timbul dendam dan silaturrahmi jalan terus, terbuka kerjasama dan menghasilkan persatuan. Jika silaturrahmi terus berjalan Rahmat Allah tak akan putus, namun jika sudah tak ada silaturrahmi rezeky akan putus.

3. Memaafkan tanda orang ber Iman. Tak ada yang mau memaafkan orang lain yg telah bersalah kalau dia tak yakin atau ber Iman bahwa memaafkan itu adalah sifat Allah SWT, jika Allah saja maha pemaaf (Ghofur) apalagi kita hambanya tentu harus mampu memveri maaf sehingga orang yang bersalah tersebut yg sadar atas kesalahannya dan meningkat Imannya, conto Abubakar yg tadinya kejam karena kelembutan adiknya tak mau membalas salahnya lalu masuk Islam, jadi penting diamalkan kata memaafkan ini.

Lalu pilihan kita memaafkan atau minta maaf?

Suatu hari, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam sedang berkumpul dengan para sahabatnya. 

Di tengah perbincangan dengan para sahabat, tiba-tiba Rasulullah Shallallahu 'alayhi wasallam tertawa ringan sampai terlihat gigi depannya.

Umar radhiyallaahu 'anhu yang berada di situ, bertanya : "Apa yang membuatmu tertawa wahai Rasulullah...?"

Rasulullah Shalallahu'alayhi wasallam menjawab : "Aku di beritahu Malaikat, bahwa pada hari kiamat nanti, ada dua orang yang duduk bersimpuh sambil menundukkan kepala di hadapan Allah Subhanahu wata'ala".

Salah seorang mengadu kepada Allah sambil berkata: ‘Ya Rabb, ambilkan kebaikan dari orang ini untukku karena dulu ia pernah berbuat zalim kepadaku'.

Allah Subhanahu wata'ala berfirman : "Bagaimana mungkin Aku mengambil kebaikan saudaramu ini, karena tidak ada kebaikan di dalam dirinya sedikitpun ?"

Orang itu berkata: "Ya Rabb, kalau begitu, biarlah dosa-dosaku dipikul olehnya".

Sampai di sini, mata Rasulullah Shalallahu'alayhi wasallam berkaca-kaca. Rasulullah Shalallahu'alayhi wasallam tidak mampu menahan tetesan airmatanya. Beliau menangis.

Lalu, beliau Rasulullah berkata: "Hari itu adalah hari yang begitu mencekam, di mana setiap manusia ingin agar ada orang lain yang memikul dosa-dosa nya".

Rasulullah Shalallahu 'alayhi wasallam  melanjutkan kisahnya.

Lalu Allah berkata kepada orang yang mengadu tadi : "Sekarang angkat kepalamu".

Orang itu mengangkat kepalanya, lalu ia berkata: "Ya Rabb, aku melihat di depanku ada istana-istana yang terbuat dari emas, dengan puri dan singgasananya yang terbuat dari emas & perak bertatahkan intan berlian. Istana-istana itu untuk Nabi yang mana, ya Rabb? Untuk orang shiddiq yang mana, ya Rabb? Untuk Syuhada yang mana, ya Rabb?"

Allah SWT berfirman: "Istana itu diberikan kepada orang yang mampu membayar harganya".

Orang itu berkata: "Siapakah yang  mampu membayar harganya, ya Rabb ?"

Allah berfirman: "Engkau pun mampu membayar harganya".

Orang itu terheran-heran, sambil berkata : "Dengan cara apa aku membayarnya, ya Rabb ?"

Allah berfirman: "Caranya, engkau maafkan saudaramu yang duduk di sebelahmu, yang kau adukan kezalimannya kepada-Ku". Orang itu berkata: "Ya Rabb, kini aku memaafkannya".

Allah berfirman: "Kalau begitu, gandeng tangan saudaramu itu, dan ajak ia masuk surga bersamamu".

Setelah menceritakan kisah itu, Rasulullah Shalallahu 'alayhi wasallam berkata : "Bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaknya kalian saling berdamai dan memaafkan. Sesungguhnya Allah mendamaikan persoalan yang terjadi di antara kaum muslimin".

(Kisah di atas terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Hakim, dengan sanad yang shahih).***

Share Button:
author
No Response

Leave a reply "Memaafkan Itu Perkara Mulia"