Pembangunan Salah Arah?

No comment 80 views
Share Button:
Ilustrasi/nusantaranews.co

Oleh: Chazali H Situmorang (Pemerhati Kebijakan Publik)

SUDAH banyak tulisan dan pemikiran yang disampaikan oleh para pengamat  maupun pemerhati politik, ekonomi, dan kebijakan publik, terkait perdebatan antara Paslon 01, dan 02, putaran kelima dengan tema ekonomi dan kesejahteraan sosial, keuangan dan investasi, perdagangan, dan industri itu.

Ada satu hal narasi yang disampaikan Prabowo terkait dengan Pembangunan yang sedang dilakukan oleh bangsa ini. Yaitu Pembangunan Indonesia menuju arah yang salah. Tetapi itu bukan kesalahan Pak Jokowi saja, tetapi juga presiden sebelumnya termasuk kita semua.

Prabowo berencana akan mengembalikan arah  pembangunan sesuai dengan UU Dasar 1945, Pasal 33. Pasal 33 Ayat 1 UUD 1945 menyatakan Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Sedangkan Pasal 33 Ayat 2 menyatakan Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.

Tetapi tampaknya Jokowi tidak merespons soal tersebut. Beliau tetap mengutarakan apa yang sudah dilakukan dan rencana selanjutnya terkait dengan pemerataan pembangunan, yang juga harus dilakukan di luar Jawa. Kali ini kita fokus pada infrastruktur, berikutnya pada pembangunan SDM, reformasi birokrasi, dan kegiatan inovatif dan kreatif. Termasuk telah menguasai kembali Blok Mahakam, Blok Rokan dan Freeport.

Sejauh mana ketiga sumber minyak dan tambang tersebut memberikan devisa kepada kocek APBN masih perlu dilihat lebih lanjut. Konon kabarnya untuk Freeport dalam beberapa tahun kedepan Indonesia belum dapat deviden.  Indonesia telah membeli puluhan triliun dengan meminjam dana dunia (global fund), yang tentunya semakin menambah struktur utang Indonesia melalui BUMN (PT Inalum).

Imbas dari pernyataan Prabowo, rupanya menimbulkan side effect, dengan timbulnya reaksi dari Partai Demokrat, salah satu partai koalisi Paslon 02.

Diketahui, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang juga ayah dari AHY merupakan presiden RI keenam. Ada pernyataan AHY, "Sebaiknya kita inginkan para pemimpin terus menghargai para pendahulu dengan semangat menjadi lebih baik dari pendahulunya," ujar AHY usai menyaksikan debat Pilpres pamungkas di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta, Sabtu (13/4/2019) malam.

Apa yang disampaikan Prabowo tersebut bukan saja SBY yang seharusnya tersinggung, tetapi Megawati, Habibie, Kel uarga Gus Dur dan keluarga Cendana, dimana Prabowo adalah menantu  Presiden Soeharto, dan menjadi Presiden tiga kali lebih lama dari SBY.

Kalau kita jernih mendengar apa yang disampaikan Prabowo tersebut, merupakan keberanian yang luar biasa. Ada kalimat ikutannya yang luput dicermati, bahwa kesalahan dimaksud juga adalah kesalahan kita semua. Jadi kesalahan kolektif yang dilakukan oleh elite politik, dan elit pemerintahan negeri ini.

Prabowo, melalui forum debat tersebut, mengajak bangsa ini, untuk bersama merubah arah pembangunan yang benar, yang sesuai dengan cita-cita pendiri Republik Indonesia yaitu Pasal 33 UU Dasar 1945.

Ungkapan itu terasa asing di telinga sebagian besar pemimpin bangsa ini, karena tidak ada lagi yang berani mengungkapkannya, kecuali Prabowo.  Tidak terkecuali Jokowi yang tidak punya beban sejarah, tetapi arah kebijakan pembangunannya masih  jauh dari amanat Pasal 33 ayat 2, UU Dasar 1945 yaitu keterlibatan asing dalam pengelolaan obyek vital Bandar Udara, dan Pelabuhan Laut.

Bagi Prabowo, mungkin sudah pada fase nothing to lose, dalam perjalanan  kehidupannya. Tidak terlalu memikirkan tingkat elektabilitas yang bisa menjadi ibarat pisau bermata dua atas ungkapannya tersebut. Sebagai seorang prajurit sejati, jiwa korsa (loyalitas dan kesetiaannya) kepada NKRI berbicara “berarti atau mati”.

Dalam debat putaran kelima (terakhir), tanggal 13 April 2019, terlihat Prabowo lebih stabil, soft, tetap tegar, tegas, dan percaya diri, didampingi Cawapres Sandiaga Uno yang cerdas.

Apakah ada hubungannya dengan pengisian jiwa Prabowo dengan kalimat La Ilaha Illallah, berulang-ulang oleh UAS beberapa hari yang lalu. Wallahu-a’lam-bish-shawabi.

Cibubur, 15 April 2019

Share Button:
author
No Response

Leave a reply "Pembangunan Salah Arah?"