Advertisement

Salah Kaprah Pemahaman Wisata Halal

Praktisi Pariwisata, Bambang Ijo.foto/ist

Oleh: Bambang Ijo, Praktisi Pariwisata Lebih dari 30 Tahun

AKHIR-akhir ini ada beberapa orang yang mempermasalahkan wisata halal. Wisata halal dinyinyiri seolah sebagai sebuah kegiatan yang salah. Ada sebagian orang yang menolak daerahnya menyediakan wisata halal. Sebagian lagi nyinyir lewat media sosial. Apakah nyiyir mereka memang berlasan? Mari kita tengok fata berikut ini.

Salah sangka dengan diskriminasi

Masyarakat Indonesia memang majemuk. Ada banyak suku, agama, ras dan golongan yang biasa disingkat dengan SARA. Inilah realitas sosial di Indonesia. Masyarakat majemuk memang rawan konflik ketika ada unsur diskriminasi. Jadi sebenarnya kombinasi antara SARA dan diskriminasi inilah pemicu konflik. Bukan hanya keanekaragaman saja.

Misalnya ketika hanya suku tertentu atau golongan tertentu yang diutamakan, yang lain dianaktirikan. Inilah pemicu kecemburuan sosial yang bisa berkembang menjadi konflik bahkan bentrokan fisik.

Lihatlah sejarah Indonesia di masa feodalisme berjaya. Siapakah yang berhak menjadi pimpinan negara? Hanya anak laki-laki tertua dari permaisuri. Apakah ini diskriminasi? Jelas iya. Dimanakah keadilan? Di manakah prinsip meritokrasi? Hilang, tenggelam dalam samudra kebodohan dan feodalisme.

Lihatlah struktur sosial politik Hindia Belanda. Dalam sistem hukum mereka ada tiga kelas warga negara. Kelas pertama adalah kaum Eropa. Kedua timur asing dan pribumi adalah kelas tiga. Adakah unsur diskriminasi disini? Tidak terbantahkan adanya unsur diskriminasi disini. Dimana keadilan? Tidak ada. Siapa yang diuntungkan dengan sistem itu? Kelas tertinggi tentunya. Siapa yang dirugikan? Kaum pribumi. Maka sah-sah saja kita melawan dan mengupayakan kemerdekaan saat itu. Perlawanan itu tentu saja dianggap sebagai ekstrimisme oleh penjajah.

Bagaimana dengan wisata halal? Apakah ada unsur diskriminasi? Sila simak.

Wisata halal ini sebenarnya kegiatan wisata biasa tapi yang mewadahi kebutuhan wisatawan Muslim. Apakah kebutuhannya? Kebutuhan utamanya adalah makanan halal dan tempat ibadah alias masjid.

Kaum muslimin terikat peraturan soal makanan. Mereka membutuhkan makanan yang halal. Haramnya babi sudah lazim diketahui oleh non muslim sekalipun. Meskipun demikian ada lagi lainnya. Binatang yang diperbolehkan dimakan seperti ayam misalnya harus disembelih dengan menuruti aturan Islam, antara lain dibacakan doa dengan menyebut asma Allah. Jadi meskipun ayam dan bebek kalau tidak disembelih sesuai syariat Islam tetap haram. Dia termasuk bangkai yang haram dimakan. Karena itu kaum muslimin membutuhkan rumah makan halal, yaitu rumah makan yang menyajikan masakan halal.

Apakah makanan halal hanya boleh dimakan oleh muslim? Tentu saja tidak. Semua orang boleh saja makan makanan halal. Karena itu unsur diskriminasi tidak ada di sini. Jadi tidak ada yang salah. Kalau ada yang mengatakan salah, ya artinya pemahamannya dangkal.

Kemudian Muslim diwajibkan solat lima kali dalam sehari. Memang kalau sedang bepergian mereka dibolehkan merangkap solatnya. Jadi duhur dan asar misalnya bisa dirangkap di waktu asar atau duhur. Tapi kalau di destinasi yang dikunjungi ada masjid mereka pasti ingin berkujung ke masjid untuk solat, tidak hanya melihat keindahannya. Apakah ada yang salah dengan kunjungan ke masjid? Tentu saja tidak. Kalau ada yang menyalahkan kunjungan ke masjid, malah aneh.

Selain itu wisata halal juga tidak mengunjungi rumah judi untuk berjudi. Kalau berwisata ke Macau misalnya ada kunjungan ke sebuah mall besar bernama The Venetian di mana ada rumah judinya. Tapi wisata halal tidak bertujuan berjudi. Peserta hanya menikmati keindahan mall itu. Sebagian berbelanja dan menikmati perahu di kanal buatan seperti di Venezia, Italia, tapi tidak berjudi. Apakah ada yang salah dengan tidak berjudi? Silahkan dinilai sendiri.

Wisata halal juga tidak melayani kunjungan ke tempat prostitusi. Kalau ada peserta yang meminta maka tour leader tidak akan melayani permintaan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam ini. Apakah ini salah? Apakah ini diskriminasi? Silahkan dinilai sendiri dengan akal sehat dan hati bersih.

Apakah non Muslim boleh mengikuti wisata halal? Tidak ada larangan untuk mengikutinya. Siapapun silahkan saja ikut wisata halal. Jadi tidak ada diskriminasi sama sekali.

Dari paparan di atas jelas sekali bahwa tidak ada yang salah dengan wisata halal. Tidak ada aturan agama dan negara yang dilanggar. Wisata halal tidak merugikan siapapun. Wisata halal tidak merusak alam, tidak merusak tatanan sosial, tidak merusak apapun. Jadi mereka yang nyinyir dengan wisata halal sesungguhnya sedang menunjukkan kedangkalan pemahamannya, bukan kedalaman pemikirannya.

Karena tidak ada unsur negatifnya, bahkan banyak positifnya lagipula pasarnya menggiurkan, maka negara di mana masyarakat non Muslim menjadi mayoritas seperti Tiongkok, Jepang dan Korea sekarang sudah sangat serius mengembangkan wisata halal. Apakah Indonesia masih mau ribut saja atau bertindak serius mengembangkan wisata halal? Pilihannya terserah anda.***

urbannews: @@urbannews13
Advertisement