Sarapan Pagi yang Berujung Ancaman Pecat!

Aahmad Daryoko.foto/sppperjuanganpln.org

Oleh: Ahmad Daryoko

SETELAH pertemuan antara Serikat Pekerja (SP) PLN dengan Letjen (Purn) Prabowo Subianto medio 2008 di Bidakara Tower, dan dilanjutkan Seminar di Balai Kartini di akhir 2008, Pak Prabowo sering panggil dan ajak diskusi terkait Power Sector Restructuring Program (rekayasa Zionis untuk kerjain PLN). Sehingga kami yakin bahwa beliau sampai saat ini pun sudah paham betul Sektor Energi khususnya Ketenagalistrikan. 

Tibalah suatu saat, sekitar awal 2009, ajudan beliau telpon saya. "Pak Daryoko bapaknya ingin ngajak sarapan pagi di Hotel Dharmawangsa, Sabtu besok (saya lupa tanggalnya)". "Oke, siap pak. Boleh bawa teman-teman SP PLN pak?" jawab saya sambil bertanya kepada ajudan Pak Prabowo itu.

Dan sang ajudan pun menjawab, "Boleh silahkan Pak Daryoko dan teman-teman SP PLN, berapa orang pak?" balas sang ajudan. Saya langsung menjawab. "Sekitar sepuluh orang (dalam hatiku mumpung ditraktir Capres neh...hehe)". Ajudan jawab singkat. "Oke, silahkan pak, sampai ketemu," tutup sang ajudan.

Singkat kata kami dan sekitar lima belas orang fungsionaris DPP SP PLN sarapan pagi bersama pak Prabowo di Sabtu yang cerah di restauran hotel yang mewah di Kebayoran Baru itu. Beliau didampingi, seingat saya, oleh Rahmat Pambudi, Widya Purnama, Widadi (Humas Gerindra), dan satu lagi saya lupa namanya. 

Saat itu sambil minum-minum dan makan camilan, kami dengarkan beliau bercerita tentang pengalaman kecil dan tentunya saat di Akabri (kebetulan saya juga dari Magelang sehingga nyambung cerita beliau). 

Beliau bercerita saat dikepung Fretilin, saat bertugas di Tim-tim, sekitar 1976, hampir tewas bersama anak buahnya berpangkat Kopral. Tentang operasi Mapanduma Papua (saat beliau Danjen Kopassus), serta banyak sekali pengalaman. Dan tentunya tidak lupa pula beliau jelaskan sikap beliau yang anti Laissezfire (Liberal/pasar bebas) dan perlunya sikap mandiri, sebagai kunci kemajuan bangsa.

Yang paling terkesan adalah sikap beliau yang rendah hati, dimana saat kami antri prasmanan, beliau justru berdiri di samping tumpukan piring dan memberikan piring satu persatu ke kami (cerminan Pemimpin yang memberikan proteksi ke anak buah).

Selesai acara, kami sampaikan semacam clossing statement dan dukungan kepada Pak Prabowo, dengan pesan agar bila beliau terpilih sebagai Presiden kelak,  PLN tetap dipertahankan sebagai Agent of Development sesuai Konstitusi. Dan jangan terpengaruh oleh treatment Zionis/Kapitalis dan Freemasonry sekalipun.

Setelah itu, hari Minggunya saya berangkat ke Singapura untuk menghadiri factory test yang diadakan hari Senin. Saat itu saya sebagai Pimpro sebuah Proyek PLTU di Jatim perlu hadir dalam test yang dilakukan sub kontraktor di Singapura.

Tiba-tiba saat memimpin rapat untuk tes tersebut, saya mendapat telepon dari Sekper PLN Pusat agar hadir dalam rapat Proyek Percepatan PLTU (saya sebagai salah satu Pimpronya disitu) dimana Presiden SBY ingin tahu perkembangannya. Pertanyaannya, tidak ada hujan, tidak angin kok tiba-tiba Presiden SBY ingin cek perkembangan Proyek?

Dan permintaan Sekper tersebut tidak mungkin dipenuhi. Namun setelah tiga hari dan kembali ke tanah air, saya lapor ke Dirut, dan konfirmasi terkait kunjungan Presiden SBY tersebut.

Dari hasil pertemuan dengan Dirut PLN, diketahui bahwa ternyata kunjungan Presiden yang mendadak ke PLN itu hanya sebuah modus. Tujuan sebenarnya adalah untuk mencek laporan intelijen terkait adanya manuver sekelompok karyawan PLN yang mendukung Prabowo sebagai calon Presiden.

Karena, setelah rapat proyek percepatan PLTU kemudian Presiden SBY masuk ke ruang kerja Dirut dan mengancam akan mencopot Dirut PLN  bila Daryoko tidak di pecat karena melanggar UU Pemilu.

Dengan peristiwa di atas, saya baru sadar bahwa dinding restoran ternyata punya telinga juga.

Setelahnya, saya baca di Kompas beberapa saat terjadi 'perang' antara Prabowo dan Sofyan Djalil (Meneg BUMN) terkait saya yang mau dipecat dari PLN karena dianggap melanggar UU Pemilu.

Akhirnya, SP PLN mengundang siaran pers di suatu tempat untuk klarifikasi masalah ini. Karena masalahnya menarik, banyak juga media cetak dan elektronik, termasuk Televisi Nasional yang hadir.

Salah satu pertanyaan wartawan yang penting dan paling akhir adalah, "Pak Daryoko anda kan sudah diancam pecat oleh Meneg BUMN Sofyan Djalil, apa anda tetap dukung Prabowo?" Yang ku jawab dengan singkat juga, "Rekan-rekan Wartawan, saya akan tetap dukung Prabowo selama Prabowo tidak berubah Visi. Tetapi bila Prabowo berubah Visi hanya seperti Visi SBY atau Megawati, maka tak cabut dukungan itu!"

Yang kuingat saat itu para Wartawan langsung menyalamiku. Dan ada yang nyeletuk, "Statement gila itu". Dan aku cuma bergumam, "Lha pertanyaannya juga gila, ya tak jawab gila juga!"

Namun ternyata esok harinya tidak ada satupun televisi dan koran yang menyiarkan itu. Tahun 2009 awal, medsos belum ramai. Dan polemik pecat memecat pun berakhir! Gak tahu ada apa Wallahua'lam! (*)

Bagikan
No Response

Leave a reply "Sarapan Pagi yang Berujung Ancaman Pecat!"