Advertisement

Tuhan para Pemuja

Muhammad Nur Lapong.foto/wartalika.id

Oleh: Muhammad Nur Lapong, Direktur LBH ForJIS, dan Direktur GONDANGDIA CENTER

JOKOWI, Prabowo, Anies, Ahok, mungkin ada yang lain lagi? Mereka adalah hamba hamba Allah yang mana di mata ilmu para pemuja telah menjadi manusia sakti mandraguna yang tidak boleh dinilai salah alias untuk dikritik. Bagi penganut ilmu pemuja 'pokoke' tuanku ini manusia manusia sempurna yang perlu dipuja atau tidak salah jika anda semua ikut memuji. Luar biasa!

Pelembagaan (ilmu) pemujaan terhadap sosok khususnya idola politik di negeri ini entah mulai kapan? Apakah seiring mentalitas feodal yang beririsan dengan mental imperior akibat penjajahan yang berabad abad itu? 

Entah mereka makan obat apa? Para pemuja ini dengan rela mengabdikan diri tanpa reserve sehingga akal sehat pun sudah menjadi isi dengkul. 

Beberapa waktu lampau masih lekat dalam ingatan kita semua keberadaan sebutan Sukarnois, Suhartois, anak idiologis Sukarno, bahkan seorang Balon Bupati yang berjumpa bersama saya kemaren dengan senang hati menyebut dirinya, "saya anak idiologis Suharto", ini sebagai modal moral dia menjadi Balon Bupati, katanya. Luar biasa!

Fenomena (ilmu) pemujaan idola politik sepertinya sudah menjadi genre, sama seperti aliran peminat musik tertentu yang lagi nongkrong di warung kaki lima minum kopi plus rokok, dan suasana menjadi tidak hidup dan lengkap tanpa alunan musik dangdut.

(Ilmu) Pemujaan bisa juga berarti hidup bersekawan dengan idola agar hidup bisa happy. Asiik!

Saat ini, kekaguman atas kenyamanan minat kepada seorang idola politik sudah seperti candu, kultus individu sudah membutakan seorang pemuja pada makna ranah pandangan yang berseberangan dengan idolanya. 

Rasionalitas tiba-tiba menjadi tumpul dan menyempit, ibarat melihat dalam 'kacamata kuda' lurus tak berkelok, kiri atau kanan, kecuali dibelokkan oleh tarikan dan cemeti Tuan yang menungganginya. 

Dalam batas atau toleransi tertentu fenomena ini tidak salah tentunya. Hal ini akan menjadi mengganggu ketika para pemuja menjadi ekstrem dan kehilangan konteks. Yang penting atau pokoke Anies, Ahok, Prabowo, Jokowi, atau siapa saja yang menjadi idola itulah yang number one yang lain tidak boleh mengeritiknya kecuali ikut memujanya. Luar biasa!

Dalam mencapai suatu tujuan politik substansial seorang leader yang ditunjuk mengemudi kekuasaan agar rakyatnya terlindungi dari kesewenang-wenangan untuk mencapai negara masyarakat yang adil dan makmur. Bisa menjadi sangat bias dalam dialektika ditengah masyarakat kita, yang kemudian akan memakan isi substansi dari perjuangan politik sesungguhnya dari seorang leader atau pemimpin yang ditunjuk dalam suatu proses demokrasi. Dengan kata lain basis 'hope' kerakyatan hanya sekedar harapan yang tidak bisa terwujud.  

Dalam hal ini, anehnya alih-alih kaum intelektual atau kaum terpelajar menjadi orang bijak yang memberi penyadaran atas situasi intoleransi pada politik nasional yang carut marut ini. Mereka malah sibuk dan tenggelam menjadi 'chep' juru memasak dan menggoreng masing-masing pujaannya dan lawannya. Tesis anti tesis berupa dialektika politik sehat dan bermartabat dalam demokrasi, menjadi punah karena digelapkan oleh 'bully' dan ajang hoax oleh masing-masing ilmu para pemuja.

Lingkup ajan demokrasi bukan lagi menjadi ajan gagasan dan lawan berfikir untuk mencapai tujuan, dan atau mencari sosok pemimpin yang solutif menyelesaikan masalah rakyat dan bangsa.

Kritik atas kekuasaan dinilai menjadi pandangan yang menyudutkan kepentingan kekuasaan idola yang dipujanya. Pesan 'oposisi' untuk memberi bobot kekuasaan atas jalan yang keliru, dinilai menjadi amunisi yang menjadi batu sandungan untuk tuhan kecil atau sang bos para pemuja.

Kita mau demokrasi tapi dengan case seperti ini, yang muncul hanya oligarki politisi, kegalauan kita kemudian pada akhirnya menjadi kleptokrasi karena negeri ini menjadi bancakan oleh para petualang politik anak bangsanya sendiri, atau dengan kata lain anak bangsa menjajah  negerinya sendiri.

Politik "tuhan para pemuja" adalah refleksi dari relasi sebab akibat antara pemuja dan idolanya sebagai politik patron klien yang sering tentunya beraura take and give.

Drama politik seperti ini yang mirip opera sabun, melingkar tak berujung yang penting masing-masing happy, dan tak perlu isi atau narasi kerakyatan yang selalu berujung pada politik rakyat yang gigit jari.

Sebagai contoh dahsyatnya politik ilmu puja puji ini misalnya seorang Ade Sukanda dan kelompoknya Nelayan Kamal Muara Korban Reklamasi, yang dimiskinkan oleh sebuah kebijakan reklamasi yang menguntungkan penguasa taipan tertentu diera Jokowi, Ahok dan Anies sebagai Gubernurnya, hingga 5 (lima) tahun mereka dalam kesengsaraan hidup tetap tak kunjung penyelesaian ganti ruginya atas lahan penghidupan mereka yang ditenggelamkan karena regulasi ke 3 (tiga) Gubernur tersebut.

Relasi para pemuja yang melihat ketiga tokoh tersebut sebagai tokoh yang harus dibela tanpa reserve telah menenggelamkan issu ganti rugi Ade Sukanda dan 41 orang kawan-kawannya (3 orang telah meninggal karena stress menanggung beban hidup yang tadinya hidup layak sebelum adanya reklamasi), sebagai rakyat kecil yang menjadi korban akibat kebijakan reklamasi tuhan (kecil) para pemuja. OMG!***

urbannews: @@urbannews13
Advertisement