Operator Trans Jawa Berpotensi Merugi, Indef Sarankan Pemda Ikut Subsidi

Share Button:


URBANNEWS.ID - Tarif Jalan Tol Trans Jawa yang mahal telah melahirkan keluhan dari sejumlah kalangan. Mereka antara lain pengusaha dan sopir angkutan barang maupun penumpang. 

Baca juga:


Hal itu tak ditampik oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani. Kepada CNBC Indonesia di Jakarta, Ahad (3/2/2019), Hariyadi menuturkan tarif Jalan Tol Trans Jawa yang mahal juga dapat berdampak kepada operator. 

"Kalau si operator kasih harga mahal, maka akan rugi mereka. Sebab dia enggak akan dapat volume atau volumenya akan rendah karena tol ini kan alternatif," ujarnya.

Hariyadi menuturkan bahwa menjaga keseimbangan tarif adalah strategi kunci untuk menarik banyak volume. Sebab, masih banyak kendaraan atau truk-truk pengangkut barang yang memilih jalur pantai utara Jawa (pantura).

Kendati demikian, Hariyadi yakin bahwa ke depan operator akan bisa mengkaji ulang tarif Jalan Tol Trans Jawa yang dikeluhkan tersebut.

"Nanti akan titik temu biasanya enam bulan saling menyesuaikan. Nanti akan dilihat pemilik barang masuk tidak sama tarifnya. Kalau masuk mereka akan pilih tol tersebut," katanya.

Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Ecomics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira menilai ada dua opsi yang dapat menjadi jalan keluar permasalahan tersebut.

Pertama, solusi ada dalam bentuk split subsidy, yakni subsidi untuk truk angkutan logistik ditanggung sebagian oleh pemerintah daerah dan pemerintah pusat. 

"Pemerintah daerah yang dilalui jalur tol misalnya di daerah Cikampek dan mendapatkan pendapatan daerah dari kawasan industri bisa alokasikan dana subsidi dari APBD (anggaran pendapatan dan belanja daerah). Porsinya asal jangan beratkan APBD," ujar Bhima kepada CNBC Indonesia, Ahad (3/2/2019).

Selain subsidi untuk truk, opsi kedua bisa dalam wujud cross subsidy, yakni tarif untuk pengguna kendaraan pribadi dinaikan untuk subsidi tarif angkutan logistik. Sebab, secara esensi, fungsi jalan tol adalah menekan biaya logistik barang.

"Pendapatan dari kendaraan pribadi merupakan imbas turunan saja. Jadi fungsi tol harus dikembalikan ke tujuan awal, yakni tarif semurah mungkin untuk angkutan logistik. Jangan dibalik," katanya.

Terkait keluhan pengusaha dan sopir angkutan barang maupun penumpang beserta imbas kepada operator, CNBC Indonesia telah mencoba menghubungi para stakeholder. Mulai dari Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) maupun operator Jalan Tol Trans Jawa PT Jasa Marga Tbk (JSMR), namun tidak ada respons hingga artikel diturunkan. 

Namun saat ditemui seusai RUPS Jasa Marga di Jakarta, Jumat (1/2/2019), Dirut Jasa Marga Desi Arryani mengaku juga mendengar mereka yang sangat senang dengan keberadaan Jalan Tol Trans Jawa. 

"Saya banyak sekali mendengar, menerima ucapan aduh terima kasih, kita lancar, kita cepet, mungkin mahal oke, tapi kita malah bisa sangat cepet, nyaman, banyak juga saya denger kayak gitu," ujarnya.(cnbcindonesia.com)

Share Button:
No Response

Leave a reply "Operator Trans Jawa Berpotensi Merugi, Indef Sarankan Pemda Ikut Subsidi"