URBANNEWS.ID – Bisnis penerbangan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dipastikan tetap tumbuh di akhir tahun ini. Hal tersebut didasarkan pencapaian kinerja keuangan perseroan di kuartal tiga yang tumbuh positif.
Per kuartal III-2019, Garuda Indonesia secara konsolidasi mengantongi pendapatan US$ 1,35 miliar, naik 10,3% dari periode sama 2018 sebesar US$ 1,22 miliar.
Seiring pencapaian itu, perseroan mampu membukukan laba bersih US$ 122,8 juta, membaik dari posisi rugi bersih US$ 110,2 juta.
Plt Direktur Utama Garuda Indonesia, Fuad Rizal mengatakan, pada kinerja kuartal IV-2019 akan ada impairment karena sejumlah transaksi.
Dia mencontohkan, berakhirnya kerja sama perseroan dengan Sriwijaya Air Group yang terjadi baru-baru ini. Alhasil, perseroan belum dapat memastikan apakah target dalam RKAT 2019 bisa tercapai atau tidak.
“Profit perseroan sedang diaudit oleh PWC atau kantor akuntan publik. Saya belum bisa bicara soal profitability lebih jauh. Tapi, kuartal IV ini bisa dikatakan tetap untung,” kata dia di Tangerang, kemarin.
Selain itu, kepemilikan saham perseroan dalam PT Gapura Angkasa yang berkurang juga turut masuk dalam pencatatan impairment.
November lalu, kepemilikan Garuda dalam Gapura Angkasa terdilusi lantaran peningkatan modal yang dilakukan oleh PT Angkasa Pura II, sebagai mitra strategis perseroan.
Transaksi tersebut membuat Garuda kehilangan kendali atas Gapura Angkasa per 1 Desember 2019 karena kinerja Gapura terkonsolidasi laporan keuangannya di Angkasa Pura II.
Airport Council International (ACI) melaporkan bahwa Soekarno-Hatta berada di peringkat 20 besar bandara dengan jumlah penumpang paling banyak di dunia. Airport Council International (ACI) melaporkan bahwa Soekarno-Hatta berada di peringkat 20 besar bandara dengan jumlah penumpang paling banyak di dunia.
Sebagai informasi, sebelum transaksi ini, kepemilikan Garuda dalam Gapura Angkasa sebesar 58,75%. “Yang perlu diketahui, aksi ini bukan penjualan saham mayoritas, tapi melepas sebagian,” kata Fuad.
Tahun depan, lanjut Fuad, perseroan berencana memperbaiki beberapa rute internasional. Strategi perseroan adalah memaksimalkan networking dengan aliansi Sky Team maupun non-aliansi.
Selain itu, perseroan juga akan mendorong bisnis kargo dan logistik, guna mengantisipasi iklim usaha industry penerbangan yang semakin kompetitif.
“Dari sisi efisiensi, kita akan terus lakukan program perpanjangan sewa pesawat. Tahun depan, Garuda juga tidak ada belanja modal, yang ada hanya biaya pemeliharaan dan biaya yang harus kita bayarkan ke lessor (perusahaan leasing) karena perpanjang sewa operasi,” jelas dia.
Tahun depan, Garuda Indonesia siap mendatangkan empat pesawat baru Airbus A330-900. Semua pesawat yang datang tahun ini dan selanjutnya adalah hasil pemesanan yang dilakukan sebelum tahun 2015.
Artinya, sejak 2015, perseroan sudah tidak lagi melakukan pemesanan pesawat baru. Perseroan juga tercatat sudah membatalkan seluruh pemesanan pesawat jenis Boeing 737 Max 8 dengan alasan keselamatan dan pelayanan penerbangan.(hen/neraca.co.id)
