SEBENARNYA aku malas menulis tentang mu, karena sudah puluhan temanmu menulis untukmu. Aku tak mau ikutan latah saja, kupikir cukuplah aku kirim Al Fateha untukmu, berharap engkau damai di sana dan masuk surga Amin!
Tapi makin kutekan untuk tidak menulis, kau tetap menarinari dipikiranku, mengorek perasaanku agar tumpah untukmu. Aneh?
Dari sudut mana aku menulismu, hampir semua kawan-kawanmu telah menulismu di sosial media dari berbagai versi, sepertinya tak ada lagi tersisa untukku.
Tapi Perasaanku tetap saja untukmu dan mulai mengalir menggerakkan jemariku sambil mengingat tentang dirimu yang oposan dan menyenangkan itu.
Aku ingat saja yg menurutku menyentuh dan sangat membekas tentang mu, ketika aktivitas ku di Guntur 49 bersama kawan kawan membangun kembali Diskusi2, Unras/Advokasi dan Baksos atas kesadaran beroposisi, mengkritisi dan berempati terhadap banyak hal oleh organ2 lintas WAG.
Seingatku kita mulus saja berteman baik dalam pandangan politik dan aksi2 kita melihat situasi saat ini, kecuali kita berbeda fakta soal perdebatan Semaun dan Agus Salim, yang membuatku repot harus membawakan buku bacaan itu bersama Ishak Rofiq ke rumahmu di kali Ciliwung itu.
Yang aku ingat tentang sisi humanismu sebagai oposan melawan ketidak adilan tak pernah surut, bahkan ditengah sakitmu yang makin mendera dan kesehatanmu yg menurun justru berbanding terbalik dengan semangat tetap tinggi menggebu gebu sekali pun lewat medsos walau terbaring di rumah sakit, itu mengingatkan aku terhadap Mas Dawam yg ketika sakitnya pun makin keras berbaring dirumah sakit masih berbincang tentang program ekonomi pribumi yang semakin tercecer.
Dua kali saat, saat pertama aku pulang bareng denganmu sehabis Diskusi Jumat an di Guntur setelah mengantar Dessy, aku tak tega melihatmu memaksa minta turun untuk berjalan kaki di tengah sakitmu dan hujan gerimis hanya untuk ketemu seseorang kawan yg mohon di bantu.
Kali ke dua, aku ingat saat anakku Ananda LuluHayati Nur (9TH) yang ikutan Kegiatan diskusi jumatan Guntur, sangat senang bercerita kepada ibunya di kasih duit gocap untuk uang jajan di sekolah sama Om Lenon. Itulah moment dimana Om Lennon dalam keluarga ku terutama si Lulu dan adik2nya menjadi serius harus di bawa setiap Jumat ke GUNTUR hanya untuk mereka ketemu Om Lennon.
Itulah yg aku tangkap dari dirimu kawan, yang aku harus tumpahkan. Tak perlu banyak tapi cukup membekas buatku.
Selamat jalan kawan. Semoga dalam pembaringan terakhirmu bersama damai membawamu ke Surga. Al Fateha untukmu Agus Edy Santoso Amin!***
Gondangdia, 11 Januari 2020
Muhammad Nur Lapong
