
URBANNEWS.ID – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) bisa menjadi solusi persoalan tidak terserapnya hasil panen petani. BUMDes bisa membeli hasil panen dan bahkan bisa mengolah di tahap industri hilir komoditi hasil petani.
Demikian diungkapkan Pakar Pertanian Universitas Riau, Ahmad Rifai kepada urbannews.id, Rabu (10/6/2020).
“Kalau saat ini BUMDes menjadi bagian penting dalam pembangunan ekonomi peedesaan. UU No. 6/2014 tentang desa memberikan solusi lembaga ekonomi perdesaan yang inklusif. Jadi sudah sepantasnya semua pihak terutama kepala desa punya tanggungjawab memberdayan BUM Desa sebagai pilar ekonomi perdesaan untuk melindungi petani dari hal-hal yang merugikan,” ulas Ahmad.
Menurut Ahmad Rifai, BUM Desa bisa bergerak tidak hanya sebagai pengelola pasar produk petani tapi juga bisa mendirikan industri yang mengolah hasil pertanian sesuai kebutuhan konsumen lokal.
“Nah, ke depan tentunya OPD yang menjadikan desa sebagai sasaran program kegiatan, khususnya yang berkaitan dengan pengembangan ekonomi masyarakat harus bersinergi di lapangan dengan misi yang sama, memberdayakan masyarakat dengan membangun kelembagaan ekonomi yang dapat melindungi semua kepentingan masyarakat desa,” ungkap Ahmad.
Sementara itu, terkait tidak terserapnya produksi jeruk nipis petani di Kampar dan Kuansing, Ahmad mentatakan pasar biasanya punya respon yang lambat terhadap dinamika produksi, apalagi hanya mendandalkan konsumen rumah tangga.
“Solusi cepat ya perusahaan atau industri yang membutuhkan produk jeruk nipis ini harus dikejar dan segera negosiasi agar mereka bersedia menampung produk yang melimpah tersebut. Industri sebagai pasar mesti menjalin kemitraan yang sejajar dengan petani,” beber Ahmad.
“Dimana pabrik sabun yang dulu mengatakan mereka bisa menampung produk tersebut? Ayo pemerintah memfasilitasi tersebut agar petani terbantu dan tidak makin terpuruk,” timpal Ahmad Rifai.
Menurutnya, menebang jeruk yang telah produksi tersebut akan membuat petani makin melarat karena harus mengganti tanaman mereka.
“Tentu butuh waktu lagi untuk menunggu produk baru, padahal dulu sebelum menanam jeruk nipis, petani juga sudah mengorbankan tanaman semula di lahan mereka tersebut. Nah, akan kah itu terulang lagi?,” ungkap Ahmad Rifai.(hen)