URBANNEWS.ID – Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources (CERI) Yusri Usman, Rabu (2/9/2020) angkat bicara soal wacana penghapusan bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dan pertalite.
“Sekarang untuk mengalihkan kerugian Rp 11,13 Triliun, lagi diframing Pertamina akan menghapuskan BBM jenis Premium dan Pertalite. Ini benar-benar sontoloyo, bagaimana mungkin Premium bisa dihapus total? Desain kilang kan sejak dulu dibangun memang untuk memproduksi premium dan solar dengan kualitas Euro 2,” ungkap Yusri.
Dikatakan Yusri, kalaupun proyek modernisasi kilang dalam program RDMP berjalan, baru kilang Balikpapan yang bisa digunakan pada tahun 2024 untuk memproduksi BBM kualitas Euro 4 dan Euro5, itu pun kapasitasnya terbatas.
“Sehingga wacana menghapus Premium dan Pertalite di saat sekarang itu diduga ada agenda ingin impor BBM kualitas Euro 4 sebanyak 80% dari kebutuhan BBM nasional, tentu banyak kilang Pertamina tidak bisa dioperasikan, karena sudah tua,” ulas Yusri.
Menurut Yusri, di saat pandemi Covid 19 yang telah melemahkan daya beli rakyat, adalah tak mungkin pemerintah berani membuat kebijakan menghapus peredaraan Premium dan Pertalite, sebab bisa berpotensi terjadinya krisis politik.
“Kebijakan penghapusan premium itu merupakan ranah pemerintah, yaitu sesuai Peraturan Presiden Nomor 34 Tahun 2018 yang merupakan perubahan dari Perpres 191 tahun 2014, dan semuanya ditandatangani Presiden Jokowi,” ulas Yusri.
Wajar saja, kata Yusri, Dirut Pertamina tak mampu menjawab pertanyaaan anggota DPR ketika ditanya berapa proyeksi impor minyak mentah Pertamina mulai sekarang sampai dengan 2024.
“Karena enam dari direksinya, lima anak kos dan hanya satu orang dari Pertamina, yaitu Mulyono, dan parahnya lagi yant kelima itu tidak berlatar belakang pendidikan migas dan pengalaman di bidang migas,” kata Yusri.
Selain itu, lanjut Yusri, hebatnya lagi, perusahaan di dunia yang jumlah komisarisnya lebih banyak dari direksinya, hanya Pertamina, dengan tujuh komisarisnya mengawasi hanya enam direksi.
“Sejak pemerintahan Jokowi enam tahun, struktur organisasi Pertamina sudah berubah lima kali, dan dirutnya empat kali, yaitu Dwi Sucipto ke Plt Yeni Handayani, kemudian ke Elia Masa Manik, dan Nicke Widyawati,” ulas Yusri.
Selain itu, kata Yusri, memang kemampuan direksinya di bawah rata-rata, diduga tumpulnya pengawasan terhadap Pertamina yang menyebabkan kerugian, ada juga peran dari oknum BPK dari wakil rakyat Senayan terhadap Pertamina, karena kekenyangan dana CSR dan dapat ‘cawe’ proyek-proyek dan agen LPG, SPBBE dan SPBU.
“Wajar publik saat ini menjagokan Pertamini dari pada Pertamina yang konon kabarnya mau dijual melalui anak-anak usahanya,” kata Yusri.(hen)
