Categories: City Government

Ahok Gagal Kendalikan Direksi, Janji Dirut Pertamina Lifting Minyak 1 Juta Barel Tahun 2026 Malah Tak Masuk Akal

Share

URBANNEWS.ID - Pandemi Covid 19 ternyata tidak hanya menyerang manusia  yang mempunyai penyakit bawaan dan tidak taat terhadap protokol kesehatan, tapi Covid 19 juga terbukti bisa juga membuka kondisi riil tingkat kesehatan keuangan BUMN, dalam hal ini Pertamina.

Demikian diungkapkan Direktur Eksekutif CERI, Yusri Usman kepada urbannews.id, Selasa (5/1/2021).

"Pasalnya, banyak proses bisnis Pertamina yang tidak efisien selama ini bisa tertutup rapat, tetapi ketika pandemi Covid 19 melanda di tahun 2020, semua borok borok itu bisa terungkap ke permukaan, tentu akibatnya Pertamina terbukti mengalami kerugian di semester pertama tahun 2020 sebesar Rp 11,13 triliun," ungkap Yusri.

Padahal, kata Yusri, Pertamina merupakan entitas monopoli penjual BBM 1,5 juta barel perhari, dengan harga jual yang tak terkoreksi sepeser pun ketika harga minyak dunia pada posisi terendah selama 40 tahun terakhir harusnya meraih laba, jika rugi alasan triple shock, maka turun pun konsumsinya saat pandemi hanya sekitar 25%, itu pun tak lama, karena kita tidak menerapkan lock down, hanya PSBB saja, itu pun sebagian kecil daerah dan banyak dilanggar, jadi tidak signifikan alasannya.

"Sehingga testimoni Ahok melalui youtube POIN pada 14 September 2020 yang telah menghebohkan itu, oleh sejumlah kalangan dianggap di luar kelaziman sebagai pejabat Komisaris Utama Pertamina, namun bisa jadi sikap Ahok itu dianggap mau cuci tangan terhadap kondisi riil yang dia lihat bahwa faktanya semua proses bisnis Pertamina dari hulu ke hilir memang bermasalah, dan dia pun merasa tak didukung oleh koleganya di jajaran komisaris dan dewan direksi," ulas Yusri.

Bahkan, lanjut Yusri, sempat terucap oleh Ahok, dia tak mau mundur dari Komisaris Utama, dan dia siap jika Menteri BUMN berani pecat lah dia. Puncak kekesalan Ahok adalah penempatan Direksi di Holding dan Sub Holding yang tidak dikonsultasikan dengan dia, alias main langsung-langsung saja ke kementerian.

"Tentu muncul analisa publik atas sikap ini, terkesan Ahok mau cuci tangan dan sekaligus dia bisa dapat simpati publik sebagai orang yang berniat baik untuk memperbaiki kinerja Pertamina, akan tetapi telah disingkirkan oleh pihak yang diduga berkolusi dengan mafia migas," kata Yusri.

Yusri mengatakan, beberapa hal yang diungkap Ahok secara vulgar saat itu adalah Direksi otaknya hanya minjam uang melulu untuk akuisisi lapangan migas di luar negeri, bukannya fokus mengoptimalkan produksi pada 12 cekungan di dalam negeri.Termasuk dia menuding direksi telah membuat kontrak pembelian  LNG disaat yang tidak tepat dan merugikan Pertamina.

Untuk itu, Ahok mengendus adanya kepentingan dari Dewan Eksekutif untuk mencari komisi atau fee dari aksi korporasi itu.

"Ahok juga mengungkap ketidakefisienan kinerja kilang dan adanya kejanggalan proses pemilihan EPC untuk proyek RDMP Balikpapan, termasuk dia heran mengapa ada direksi terkesan menghambat banyak investor yang murni 100% berinventasi bangun GRR atau Grass Root Refinery," beber Yusri.

Cilakanya, lanjut Yusri, pada Desember 2020 muncul ancaman gugatan akibat Pertamina ingkar janji atas kontrak LNG selama 20 tahun, yakni klaim senilai USD 2,8 miliar atau setara Rp 40 trliiun dari perusahaan Mozambik yaitu Anardako Petroleum.

"Kondisi ini tentu menambah keruwetan manajemen Pertamina. Selain itu, ternyata ada tiga kontrak LNG bermasalah juga, yaitu dari kontrak LNG dari anak perusahaan Chienere USA dan Woodside Australia serta Exxon Mobil USA yang dari sisi keekonomiannya berpontensi besar merugikan Pertamina selama 20 tahun mendatang," beber Yusri.

Sementara itu, Corporate Secretary Pertamina Fajriyah Usman pada 4 Januari 2021, kepada urbannews.id menyatakan telah membantah bahwa omongan Dirut Pertamina pada Febuari 2020 soal lifting minyak sebagai pernyataan yang ngawur.

Fajriyah mengatakan, mengacu pada penjelasan yang disampaikan Dirut Pertamina, pada berita bulan Februari 2020 bahwa Pertamina menargetkan produksi minyak 1 juta barel per hari dapat terealisasi pada 2026, dalam Rapat Dengar Pendapat Panja Komisi VI DPR RI, Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati mengatakan Pertamina optimis dengan beberapa indikatornya sebagai berikut;

Pertama, Investasi Pertamina didominasi sektor hulu. Kedua, Tahun 2021 Pertamina akan mengambilalih Blok Rokan. Ketiga, Memperbanyak pengeboran sumur dan seismik demi menemukan cadangan migas baru. Keempat, Menerapkan Enhanced Oil Recovery (EOR) pada lapangan-lapangan tua. Kelima Bekerjasama dengan SKK Migas untuk mendetailkan tekhnologi-tekhnologi yang dapat digunakan untuk mempercepat tambahan produksi di hulu.

"Pada kesempatan tersebut, Ibu Nicke juga menjelaskan alasan Pertamina mengupayakan tercapainya target produksi minyak 1 juta bopd pada 2026, karena Pertamina menyesuaikan dengan tuntasnya proyek pembangunan kilang juga akan selesai pada tahun 2026, dimana saat itu dibutuhkan crude yang lebih besar untuk memenuhi kapasitas terpasang hingga 2 juta barel per hari," beber Fajriyah.

Fajriyah juga membeberkan salah satu kutipan media tentang pernyataan Nicke tersebut.

Kutipan media yang dibeberkan Fajriyah itu menyebutkan, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menargetkan target satu juta barel dapat terealisasi pada 2026. Nicke beralasan target tersebut disesuaikan dengan beroperasinya enam proyek kilang perseroan.

“Karena kilang yang kami bangun mulai berproduksi, dan itu perlu tambahan pasokan minyak mentah,” ujar Nicke.

Untuk mencapai target tersebut, pihaknya pun bakal memperbanyak pengeboran sumur dan seismik demi menemukan cadangan migas baru. Selain itu, perseroan bakal menerapkan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) di lapangan-lapangan tua. "Direktur Hulu dan SKK Migas sedang mendetailkan kembali teknologi yang dapat kami gunakan untuk menambah produksi," kata Nicke.

Page: 1 2

Berita Terbaru

Pertamina Digugat Mozambik Rp 40 Triliun, Pemerintah Bertanggungjawab!

PADA Februari 2019 Pertamina telah menandatangani perjanjian jual beli (sale and purchase agreement, SPA) dengan Anadarko Petroleum Corporation untuk pembelian…

16 Januari 2021 | 21:44 WIB

Gelar Tinc Batch 6, Telkomsel Dorong Kolaborasi dalam Pengembangan Potensi Digital Inovator Lokal

URBANNEWS.ID – Program Telkomsel Innovation Center (Tinc) kembali membuka kesempatan bagi seluruh talenta unggul di bidang teknologi digital dari seluruh…

15 Januari 2021 | 10:17 WIB

Lieus Sungkharisma Minta Menkumham Cabut Izin Praktek Notaris Hartono, Terpidana Kasus Penipuan Jual Beli Vila Bali Rich

URBANNEWS.ID - Kaburnya lima terpidana kasus penipuan jual beli Vila Bali Rich di Ubud Bali yang telah menimbulkan kerugian moral…

10 Januari 2021 | 07:01 WIB

Pelanggaran HAM terhadap Rakyat Sipil dari Petugas Aparatur Negara

PELANGGARAN HAM adalah setiap perbuatan seseorang atau sekelompok orang termasuk aparat negara baik disengaja atau kelalaian yang secara hukum mengurangi,…

8 Januari 2021 | 20:53 WIB

MG HS Sabet Gelar Best Medium SUV, Posisi sebagai Merek Terpercaya di Pasar Otomotif Indonesia Makin Kokoh

URBANNEWS.ID - MG baru saja mencetak tonggak sejarah baru dalam kiprahnya membangun bisnis di Indonesia. Dalam waktu kurang dari 6…

8 Januari 2021 | 20:18 WIB

Aspek Indonesia Ingatkan Jangan Ada Lagi Penyelewengan Bansos untuk Rakyat

URBANNEWS.ID - Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia (ASPEK Indonesia) mengapresiasi Program Pemerintah berupa Bantuan Langsung Tunai (BLT) untuk masyarakat terdampak pandemi…

8 Januari 2021 | 15:20 WIB