URBANNEWS.ID – Achmad Novian Nasution menyatakan siap menjadi Ketua Organisasi Radio Amatir (ORARI) Provinsi Riau periode 2021-2026. Pria yang lebih dikenal dengan nama panggilan Andre Nasution ini tak lain merupakan putera Gubernur Riau pertama, Kaharuddin Nasution.
“Jika diberi amanah, tentu saya siap menjadi Ketua ORARI Riau lagi. Karena sebelumnya pada tahun 2007 saya juga sudah menjadi salah satu ketua juga dimana waktu itu Ketua Umumnya Pak Erizal Muluk,” ungkap Andre Nasution berbincang dengan wartawan di Kantor ORARI Riau di Jalan Sutomo Pekanbaru, Rabu (20/1/2021).
Musyawarah Daerah (Musda) ORARI sendiri dijadwalkan berlangsung selama dua hari mulai 23 Januari 2021 di Hotel Pesona Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru. Agenda Musda antara lain memilih Ketua ORARI Riau.
Menyinggung kepengurusan ORARI Riau, Andre menyatakan jika memang diberi amanah oleh ketujuh Lokal ORARI se-Riau menjadi ketua, maka ia ingin mencoba membangkitkan ORARI Riau lagi untuk yang kedua kalinya.
“Dulu ORARI Riau ini sangat hebat. Sampai ke luar negeri malahan. Walau pun waktu itu hanya ada tiga Lokal ORARI saja. Sekarang jika memang diberi dukungan, saya siap untuk membangkitkan ORARI Riau lagi,” ungkap Andre.
Bagi pria 61 tahun ini, kembali eksisnya ORARI Riau sangat penting agar bisa memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat Riau.
“ORARI ini bisa sangat bermanfaat untuk masyarakat, terutama dalam keadaan bencana, atau pun juga terhadap komunikasi cepat mengenai situasi kemanana dan ketertiban masyarakat,” ulas Andre.
Sebab, kata Andre, ORARI bisa menyebarkan informasi meski pun tidak ada listrik sama sekali. “Dulu ORARI Riau ini sangat terkenal, bahkan memiliki alat paling canggih di kala itu. Saat daerah lain itu belum ada apa-apa, Riau sudah maju duluan saat itu,” kenang pria yang lahir dan besar di Rumbai, Pekanbaru itu.
Ke depan, lanjut Andre, jika memang diberi amanah mengomandoi ORARI Riau, ia berencana menyatukan masyarakat radio amatir di Riau, salah satunya dengan langkah yang sudah mulai ia lakukan secara pribadi dengan menyiapkan repeater yang menjangkau seluruh kabupaten dan kota di Riau.
Andre memperkirakan, saat ini tak kurang dari seribu pengguna radio amatir ada di Riau. “Memang jauh berkurang dari era 80-an ya. Dulu ada sampai sepuluh ribu pengguna,” ungkap Andre.
Diceritakannya, setiap pengguna radio amatir yang menggunakan frekuensi, wajib memiliki izin dari pemerintah melalui Balai Monitoring Frekuensi atau Balmon. “Selain itu, setiap pengguna radio amatir harus mengikuti ujian terlebih dahulu untuk bisa mendapatkan izin. Materi ujiannya lengkap mulai dari aspek teknis hingga pengetahuan nilai-nilai kebangsaan,” jelas Andre.
Dikatakan Andre, sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang ada, penyalahgunaan frekuensi radio amatir juga diancam dengan hukuman kurungan enam tahun penjara dan denda hingga Rp 600 juta.
Didukung Tujuh Lokal ORARI
Sementara itu, tim pemenangan Andre Nasution, Yulhendri mengungkapkan, setakat ini ia dan tim telah melakukan komunikasi dengan sejumlah masyarakat pengguna radio amatir di Riau, terutama para pemilik suara pada Musda ORARI Riau mendatang.
“Untuk Musda tentunya kami sudah menjalin komunikasi dengan rekan-rekan dan sejauh ini dukungan menguat kepada Om Andre Nasution. Dengan waktu yang masih ada menjelang pelaksanaan Musda nanti, kami terus melakukan komunikasi intensi untuk hal ini. Semoga bisa terlasana dengan baik Musda kali ini dan ketua terpilih secara aklamasi,” beber Yulhendri yang mendampingi Andre Nasution kemaren.
Sedangkan menurut Ketua Panitia Pelaksana Musda ORARI Riau, Wirzamrisal, persiapan pelaksanaan Musda tersebut telah matang dan pihaknya tidak menemui ada kendala. “Soal dukungan ini, kami sebagai panitia tentu sangat terbuka dengan adanya usulan dari masyarakat radio amatir,” ujarnya.
Menurut agenda panitia, kata Wirzamrisal, Musda akan dibuka oleh Gubernur Riau dan mengundang jajaran Polda Riau serta forum komunikasi pimpinan daerah Riau lainnya.
Tantangan perubahan zaman
Sementara itu, ditemui di sela perispan Musda ORARI Riau, seorang pencinta radio amatir yang juga sudah sepuh di ORARI Riau, Indra Mukhlis Adnan, radio amatir memang menghadapi tantangan perubahan zaman yang begitu cepat.
“Yang pastinya, ORARI sangat dibutuhkan dalam dunia komunikasi, apalagi kalau terjadi bencana. Kita tahu semua bahwa negeri kita ini hidup di cicin api, bawaannya negeri kita ini rentan bencana. Nah, dalam situasi seperti ini ORARI sangat memainkan peranan penting. Itu terbukti waktu bencana besar seperti di Aceh dan daerah lainnya. Kala semua alat transportasi tidak dapat berfungsi, ORARI tampil dan dapat diandalkan untuk penyaluran informasi yang cepat,” ulas mantan Bupati Indragiri Hilir itu.
Menurut Indra, di kalangan masyarakat umum, memang ORARI tidak sepopuler peralatan telekomunikasi yang ada sekarang. “Tapi di kalangan Pramuka, pencinta alam, resimen mahasiswa, apalagi kepolisian dan militer, radio amatir sudah sangat familiar,” ulas Indra.
Menyoal legalitas penggunaan frekuensi radio amatir, Indra mengamini saat ini makin banyak terlihat pelanggaran dan bahkan cenderung liar. “Nah, penggunaan secara liar ini sangat berbahaya, apalagi jika sampai mengganggu stasiun radio penerbangan, ini bisa berakibat fatal sekali,” ulas Indra.
Lebih lanjut, mengenai sosok calon pemimpin ORARI Riau ke depan, Indra mengaku belum mengetahui siapa saja calon yang akan menjadi ketua nantintya. “Poinnya bagi saya tentu yang terbaik lah menjadi Ketua ORARI Riau ke depan, agar bisa bangkit serta menelurkan program dan terobosan yang bermanfaat bagi masyarakat,” tutup Indra.
Dibutuhkan pemerintah
Sementara itu, Balmon Pekanbaru yang diwakili Toninotitto kala bertandang ke markas ORARI Riau di Jalan Sutomo kemarin mengungkapkan peran penting ORARI dan RAPI dalam pengawasan pengguaan frekuensi radio amatir di Riau.
“Setiap provinsi hanya ada satu kantor Balmon. Riau saja ada 12 kabupaten dan kota. Nah, kondisi ini tentu tidak memungkinkan jika pengawasan dan pemantauan frekuensi ini kami lakukan sendiri oleh Balmon saja. Maka dari itu, pemerintah sangat membutuhkan ORARI dan RAPI dalam hal ini untuk pemantauan penggunaan frekuensi radio amatir ini,” ungkap Toni.
Sedangkan mengenai legalitas penggunaan frekuensi radio amatir, Toni membenarkan bahwa setiap pengguna frkuensi mesti memiliki izin dari pemerintah. “Untuk mendapatkan izin ini, kami melaksanakan ujian untuk pengguna yang mengajukan izin,” ungkap Toni yang mendukung siapa pun calon Ketua ORARI Riau yang akan terpilih pada Musda nantinya.(hen)
