• 0823-9251-0258
  • redaksi.urbannews@gmail.com
Pekanbaru

Tengku Muhammad Amin: Ladang Minyak Blok Rokan Berada di Tanah Kesultanan Siak Sri Indrapura, Bukan Tanah Adat

URBANNEWS.ID – Lembaga Kesultanan Siak Sri Indrapura yang merupakan wadah kekeluargaan zuriyat sah Kesultanan Siak Sri Inderapura mengutus perwakilan, H Tengku Syed Muhammad Amin dan Tengku Muhammad Toha, untuk menghadiri Rapat Dengar Pendapat Panitia Kerja Migas Komisi VII DPR RI tentang Alih Kelola Wilayah Kerja Migas Rokan, pada Selasa (9/2/2021) di Gedung DPR RI, Jakarta.

“Walaupun terjadi keributan kecil sebelum acara RDP dimulai antara perwakilan Lembaga Kesultananan Siak dengan pengamanan gedung DPR RI, namun akhirnya Pimpinan Rapat Alex Noerdin dan Wakil Gubernur Riau Edi Natar Nasution memberikan kesempatan kepada Lembaga Kesultanan Siak untuk bisa mengikuti RDP serta Memasukkan Lembaga Kesultanan Siak dalam Jajaran Perwakilan Pemerintah Provinsi Riau,” ungkap Tengku Muhammad Amin kepada urbannews.id, Minggu (14/2/2021).

Setelah dimulainya agenda acara RDP, beber Amin, pimpinan sidang Alex Noerdin mempersilakan Wagub Edi Natar untuk membacakan pemaparannya dan kemudian dilanjutkan dengan perwakilan dari LAM Riau saat setelah perwakilan LAM selesai memaparkan pimpinan sidang langsung memberikan pemaparan selanjutnya kepada Perwakilan SKK Migas, Pertamina, Chevron, PGN. Setelah itu, perwakilan FKPMR, Chaidir intrupsi dan menyatakan ingin menyampaikan aspirasinya. Setelah itu, disusul oleh Tokoh Masyarakat Riau Wan Abu Bakar.

“Melihat seperti ada kesan dibatasi, maka saya yang mewakili Lembaga Kesultanan Siak pun memencet mic yang ada di depan meja saya. Pimpinan rapat awalnya menolak, lalu terjadi perdebatan. Tetapi atas desakan Anggota DPR komisi VII yang hadir saat itu, di antaranya Abdul Wahid dari PKB, Maman A Rahman, M Nasir dan lainnya, maka pimpinan rapat akhirnya memperkenankan saya sebagai perwakilan Lembaga Kesultanan Siak untuk memaparkan dan menjelaskan pemaparan saya,” ungkap Tengku Muhammad Amin.

Dalam pertemuan itu, Tengku Muhammad Amin berulang kali membeberkan dengan nada suara bergetar dan lantang bahwa ladang minyak yang ada di Blok Rokan tersebut berada di Tanah Kesultanan Siak bukan Tanah Adat.

Ia juga mengatakan Sultan Syarif Kasim II, yang menandatangani kepada perusahaan minyak asal Amerika NV Nederlandsche Pacific Petroleum Maatschappij (NPPM) pada tahun 1930. NPPM merupakan perusahaan patungan Standard Oil Company of California (Socal) dengan Texas Oil Company (Texaco). Pada dekade 1970-an, NPPM berubah nama menjadi PT. Caltex Pacific Indonesia (PT. CPI).

“Dikarenakan Baginda Sultan Syarif Kasim telah mangkat, maka ditunjuklah orangtua saya Tengku Syed Ibrahim sebagai perwakilan Sah Zuriat Kesultanan Siak Sri Indrapura untuk ikut menandatangani perjanjian tersebut karena beliau adalah Pewaris Sah Zuriat Kesultanan Siak Sri Indrapura. Dan itu dibukukan serta terlampir di Dokumen Negara. Oleh karenanya lah Pewaris Sah Zuriat Kesultanan Siak perlu dan berkepentingan untuk hadir memperjuangkan hak mendapatkan previlledge pada pengelolaan WK Migas Rokan ini. Mengingat selama eksploitasi migas dilakukan di wilayah Kesultanan Siak Sri Indrapura, khususnya yang kini berada di wilayah Provinsi Riau, hampir tidak pernah menyentuh dan memperhatikan keluarga Zuriyat Kesultanan Siak,” ungkap Tengku Muhammad Amin.

Demikian juga, lanjut Tengku Muhammad Amin, Lembaga Kesultanan Siak menyayangkan sikap Pemerintah Provinsi Riau yang tidak mengajak duduk bersama dalam proses alih kelola WK Migas Rokan, apakah itu untuk menelusuri sejarah Sultan Siak ke-12 yang pertama kali memberikan izin eksplorasi dan eksploitasi migas di Riau atau pun mendengarkan dan meminta aspirasi dari Keluarga pewaris sah zuriyat Kesultanan Siak Sri Indrapura.

“Sultan Syarif Kasim II merupakan seorang pendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tidak lama setelah Proklamasi dia menyatakan Kesultanan Siak Sri Indrapura bergabung dengan Indonesia dan menyatakan wilayah Kesultanan Siak Sri Indrapura yang wilayahnya mulai dari Sumatera Timur, meliputi Kerajaan Melayu Deli, Serdang, Bedagai hingga Provinsi Riau dan Kepulauan Riau saat ini, sebagai bagian wilayah Indonesia, dan dia menyumbang harta kekayaannya sejumlah 13 juta gulden untuk Pemerintah Republik, atau setara dengan US$ 151 juta atau 69 juta Euro pada tahun 2011. Bersama Sultan Serdang dia juga berusaha membujuk raja-raja di Sumatera Timur lainnya untuk turut memihak Republik Indonesia,” kata Tengku Muhammad Amin.

Sumbangan Sultan Siak itu, lanjut Tengku Muhammad Amin, merupakan sumbangan terbesar kerajaan-kerajaan di nusantara kepada Negara Republik Indonesia yang saat itu bagaikan bayi baru lahir. Bandingkan dengan Kesultanan Yogyakarta. Sultan Hamengku Buwono IX hanya menyumbangkan 6,5 juta Gulden Belanda untuk modal perjuangan kemerdekaan Indonesia.

“Sejarah akhirnya mencatat, bahwa wilayah Kesultanan Siak Sri Indrapura, yang kini menjadi Provinsi Riau, adalah salah satu penghasil minyak bumi terbesar di dunia. PT Chevron Pacific Indonesia (PT CPI), beroperasi di Wilayah Kesultanan Siak Sri Indrapura (Blok Rokan, Sebanga, Duri, Minas). Salah satu lapangan yang dikelola, yakni Lapangan Minas yang terkenal karena menghasilkan minyak berkualitas tinggi, Sumatran Light Sweet Crude Oil,” ungkap Tengku Muhammad Amin.

Menurut Tengku Muhammad Amin lagi, Kesultanan Siak Sri Indrapura, Yang Dipertuan Besar Assayaidis Syarif Kasim Abdul Jalil Saifuddin (Sultan Syarif Kasim II) dengan segala kontribusi dan nasionalisme yang telah diberikan, adalah sangat patut dan pantas untuk diapresiasi. Jika Indonesia bisa memberikan keistimewaan kepada Aceh dan Papua, karena mereka berani melawan, tentu negara dapat pula memberikan hal yang sama kepada Riau karena berani menunjukkan kebaikan hati.

“Yang berani melawan pantas mendapat perhatian, dan yang baik hati pantas pula diberikan penghargaan. Jika tidak, maka Indonesia akan mewariskan sebuah tradisi dan pelajaran yang buruk, bahwa hanya dengan berani melawan perhatian baru didapatkan. Ketidakarifan dan ketidakadilan bersikap ini akan menjadi sumber kecemburuan dan keretakan negeri zaman berzaman,” ungkap Tengku Muhammad Amin.(hen)

Tags :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.