Strategi Merampok Hutang Luar Negeri Lewat Kelistrikan!

KABEL listrik di kampung kita itu dari dulu ya cuma itu itu juga! Warna hitam lusuh. Dulu saat kabel-kabel itu dikelola PLN orang menjuluki listrik dimonopoli PLN.

Nah, perlu diketahui saat ini kabel-kabel listrik itu sudah disewa oleh Kartel Listrik Swasta atau Kartel Liswas, beranggotakan perusahaan aseng dan asing, taipan 9 naga, Luhut Panjaitan, JK, Erick Tohir, Dahlan Iskan dan lain-lain. Dan saat ini PLN hanya kebagian menjadi penjaganya saja!

Dan karena seluruh asset PLN, kecuali jaringan transmisi, distribusi dan kabel-kabelnya, saat ini sudah dikuasai aseng dan asing, maka orang-orang PLN mulai direksi sampai karyawan paling bawah saat ini sudah menjadi karyawan kartel Liswas itu!

Mereka masih adakan rapat-rapat antar instansi, bahkan masih diundang RDP dengan DPR RI dengan mengatasnamakan PLN, padahal yang dibahas adalah soal kepentingan Kartel Liswas.

Meskipun kesana kemari masih menggunakan seragam PLN , kendaraan-kendaraan dinasnya kendaraan dinas PLN, gedung-gedungnya, kabel-kabelnya masih menggunakan simbol PLN, namun essensinya mereka ini bergerak atas nama Kartel Liswas! Di sinilah rakyat tidak tahu kalau oknum-oknum ini beroperasi menggunakan kedok Negara!

Tahu-tahu tahun 2020 kemarin Kartel Liswas menagih subsidi listrik ke Pemerintah sebesar Rp 200,8 triliun (Repelita Online 8 Nopember 2020) atau 400% dari sebelumnya saat kelistrikan masih dioperasikan PLN (lihat Laporan Statistik PLN sebelum 2020).

Memang tarif listrik tidak naik dan bahkan pelanggan di bawah 900 VA gratis. Sehingga “pat gulipat” perampokan subsidi listrik ratusan triliun di atas tidak diketahui rakyat.

Strateginya cukup canggih. Rakyat yang ingin “menelusuri” permainan ini akan dihadapkan dengan sistem kelistrikan yang rumit. Meliputi istilah-istilah canggih seperti MBMS, Vertically Integrated System, IPP, PPA, TOP, Execlussive Right, Merit System, dan seterusnya. Yang setiap saat akan disebut oleh “antek-antek Neolib” itu agar kita terlihat “bego” dan akhirnya merasa tidak “pede” menggugat perampokan asset negara di bidang kelistrikan ini!

Dan ternyata yang menikmati perampokan asset negara saat ini tidak hanya unsur kapitalis tetapi juga dari unsur komunias (China) juga, bahkan lebih besar! Innalillahi wa Inna ilaihi roojiuunn!***

Jakarta, 4 Maret 2021
Ahmad Daryoko
Koordinator INVEST

Bagikan

One thought on “Strategi Merampok Hutang Luar Negeri Lewat Kelistrikan!”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.