Kilang Balongan Terbakar, CERI: Penjelasan Pertamina Tak Masuk Akal

Kebakaran kilang Pertamina Balongan. foto/detik.com/ANTARA FOTO/Dedhez Anggara.

URBANNEWS.ID – Kebakaran besar pada Senin (29/3/3031) pukul 00.45 WIB menghanguskan empat tangki besar penyimpanan hasil olahan berupa bahan bakar minyak BBM milik Pertamina di kilang Balongan. Akibat Kilang Balongan terbakar, memakan korban luka-luka berat masyarakat sekitar.

Direktur Eksekutif Center of Resoyrces and Energy Indonesia (CERI), Yusri Usman, mengungkapkan Refinery Unit (RU) VI Balongan atau Kilang Balongan, merupakan kilang keenam dari tujuh kilang Direktorat Pengolahan PT Pertamina (Persero).

“RU VI Balongan mulai beroperasi sejak tahun 1994. Kilang Balongan ini berlokasi di Indramayu, Jawa Barat. Lokasinya sekitar 200 km arah timur Jakarta. Wilayah operasinya di Balongan, Mundu dan Salam Darma,” ungkap Yusri.

Olah minyak mentah dari Riau

Lebih lanjut Yusri memberi keterangan, kegiatan bisnis utama kilang tersebut adalah mengolah minyak mentah atau crude oil menjadi produk-produk BBM, Non BBM dan Petrokimia. Kilang Balongan mengolah bahan baku minyak mentah Duri dan Minas yang berasal dari Provinsi Riau.

“Sementara, isunya kebakaran empat tangki yang berisi produk BBM berupa gasoline karena sambaran petir. Hal itu agak sangat tidak masuk akal karena harusnya sudah menyiapkan fasilitas anti petir di kilang dan tanki BBM dan minyak mentah. Seharusnya juga selalu ada petugas yang melakukan inspeksi secara berkala secara rutin di lapangan,” beber Yusri.

Jika karena petir, sambung Yusri, timbul pertanyaan. Mengapa Kilang Balongan terbakar hanya terjadi di satu kluster empat tangki besar penyimpanan produk kilang yang habis ludes terbakar?

“Sedangkan fasilitas yang lainnya tidak ada masalah sama sekali. Tentu hal Ini bisa sangat aneh kalau itu menjadi alasannya oleh pihak Pertamina,” beber Yusri.

Masalah sistem pipa

Atau, lanjut Yusri, jangan-jangan ada masalah dengan sistem pipa dengan tanki di kluster itu. “Jangan-jangan terdapat ada kebocoran tetapi tidak terdeteksi oleh alat dan petugas Health, Safety, Security and Environtment (HSSE) di lapangan. Sehingga adanya petir menyambar minyak yang akibat kebocoran di sistem pipa di kluster itu menyebabkan kebakaran besar. Sebab, ada informasi dari masyarakat setempat bahwa setengah jam sebelum meledak dan terbakar, mereka mencium bau bensin,” beber Yusri.

Selain itu, sambung Yusri, sambil menunggu tim investigasi dari Pertamina dan Tim Puslafor Mabes Polri yang bisa menelisik faktor penyebabnya, tentu hal lain yang menjadi pertanyaan publik di sini adalah berapa besar kerugian Pertamina dari terbakarnya stok cadangan dalam empat tangki besar itu.

“Berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh PT KPI lagi untuk membangun empat tangki timbun besar yang baru? Bagaimana dengan nasib korban masyarakat yang telah menjadi korban? Dan bagaimana SOP HSSE di Kilang Pertamina serta tanggungjawab Dirut Pertamina perlu dipertanyakan,” ulas Yusri.

Menurut keterangan Yusri, isi empat tangki BBM gasoline di Kilang Balongan, total sekitar 200.000 barel.

“Jika dihargai per barel USD 70, maka nilai yang terbakar USD 1,4 juta. Belum biaya pembangunan empat tangki itu bisa menelan Rp 200 miliar dan ditambah mengganti kerugian rakyat dan biaya pemadaman dan keamanan,” beber Yusri.(hen)

Baca juga:

Kilang Pertamina Indonesia Terkesan Tutupi ‘Borok’ Proyek RDMP Dan GRR Tuban Senilai Rp 50 Triliun

Bagikan

2 thoughts on “Kilang Balongan Terbakar, CERI: Penjelasan Pertamina Tak Masuk Akal”

Komentar ditutup.