14 April 2021 | 21:13 WIB

Urbannews.id

Independen dan Berimbang

Pertagas Akui Target Penyelesaian Proyek Pipa Blok Rokan Meleset

Direktur Eksekutif CERI Yusri Usman. foto/dok

URBANNEWS.ID – Persoalan tampaknya sudah semakin serius. Pertamina Holding seharusnya segera mengevaluasi kinerja subholding PT PGN Tbk. Termasuk anak usahanya, PT Pertagas, PGASol dan PDC sebagai kontraktor EPC. Sebab, sub holding tersebut telah gagal menjalankan tugas dari Pertamina Holding. Terutama tugas untuk menyelesaikan pemasangan pipa minyak Blok Rokan sepanjang 367 km sesuai target waktu agar proses alih kelola berjalan mulus.

Demikian menurut Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) Yusri Usman kepada urbannews.id, Kamis (1/4/2021).

“Karena alih kelola lapangan Blok Rokan merupakan tonggak sejarah penting bagi penampilan Pertamina. Pertamina selalu mengklaim sebagai perusahan berkelas dunia. Blok Rokan merupakan tulang punggung produksi minyak nasional hampir 100 tahun terakhir,” ungkap Yusri.

Bayar Rp 11,3 triliun

Menurut Yusri, untuk memperoleh hak operator Blok Rokan pun, bukan hadiah gratis dari Pemerintah. Akan tetapi melalui proses tender yang ketat. Pertamina juga telah menyerahkan uang senilai USD 786 juta atau setara Rp 11, 3 triliun. Perusahaan pelat merah ini juga sudah membuat komitmen kerja pasti selama lima tahun pertama. Nilainya USD 500 juta atau setara Rp 7,2 triliun.

“Bahkan kami bersama-sama koalisi penjaga sumber daya alam dan Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu menentang adanya pihak-pihak dari Kementerian ESDM dan seorang Menko saat itu, membuat wacana untuk tetap mempertahankan Chevron untuk tetap melanjutkan sebagai operatornya,” beber Yusri.

Kebal hukum

Oleh sebab itu, kata Yusri, sebelum terlambat, sebaiknya Pertamina Holding harus berani melibas siapa pun oknum aktor yang menghambat atau mengacaukan program alih kelola ini. Pertamina mesti menyisir semua oknum mulai dari oknum di PGN, Pertagas hingga PGASol serta PDC.

“Karena, bagi kami berita buruk ini sudah sejak September 2020 telah kami dengar dan sudah pernah kami ‘terompetkan’ di media, bahwa dugaan ‘hengki pengki’ itu terjadi dalam proses pemilihan mitra investasi dan penunjukan sub kontrak kerja dari kontraktor EPC PGASol dan PDC proyek pipa minyak Blok Rokan,” ungkap Yusri.

Bahkan, lanjut Yusri, rumor keras beredar di lingkungan kontraktor Migas sejak lama, bahwa PGASol dan PDC topengnya saja kontraktor EPC. Namun, prakteknya terkesan kental seperti broker alias calo yang tugasnya hanya membagi-bagikan pekerjaan kepada sub kontraktornya sesuai titipan dari atasan dan elit politik.

“Cilakanya lagi, menurut sumber kami yang dapat di percaya, penerima subkon itu pun bukannya mengerjakan pekerjaan sendiri. Malah katanya di tawar-tawarkan lagi ke pihak lainnya untuk jadi subkon lagi. Jika hal ini mengandung kebenaran, saya hanya bisa berucap, alamaaakjang… hajab kalilah…,” tukas Yusri.

“Meski pun aroma busuk itu sudah lama dan merebak kemana-mana, namun faktanya aman-aman saja tuh mereka. Artinya kita dapat membaca atau menduga benar adanya backing kuat alias kebal hukum,” lanjut Yusri.

Semakin mempertegas adanya ketidakpastian

Terbaru, kata Yusri, pernyataan Direktur Utama Pertagas Wiko Migantoro pada Rabu, 31 Maret 2021 ke media, bahwa sampai akhir Maret 2021, pengerjaan pemipaan blok Rokan masih 55 persen. Wiko mengatakan, pihaknya dapat memastikan pada saat alih kelola pada Agustus mendatang, Pertagas masih berusaha bisa menyelesaikan pipa jalur utara sebagai prioritas. Sementara pipa jalur selatan, nanti mereka selesaikan setelah alih kelola.

“Kata masih di usahakan untuk jalur utara dan nanti akan di lanjutkan untuk jalur pipa bagian selatan, bahwa kalimat ini semakin mempertegas ketidakpastian itu,” ungkap Yusri.

Tak hanya itu, kata Yusri, ternyata dalam proses pemilihan mitra investasi sebesar 25 persen dari total investasi USD 300, juga tertunda lama karena infonya ada perang antar ‘dewa’. Sebab, sejak Juni 2020 proses pemilihannya baru di putuskan pada Maret 2021. PGN memilih PT Rukun Raharja Tbk sebagai mitra investasi 25 persen.

“Soal pemilihan calon mitra ini pun memantik keheranan publik. Bagaimana mungkin Pertagas hanya mengundang dua perusahaan saja untuk berkompetisi. Sebab, dalam lingkungan dunia bisnis Migas mengatakan, bahwa proyek investasi itu ada ‘daging tebalnya’. Jika prosesnya lebih transparan dan di umumkan secara luas, bisa ratusan perusahaan besar antre ikut tender. Sebab, hanya soal menempatkan dana investasi saja,” ulas Yusri.

Potensi kerugian negara

Hebatnya lagi, kata Yusri, Majalah Gatra edisi 51 untuk periode 15-21 Oktober 2020, dengan cover depan berjudul ‘Anak dan Mantu Megawati di Blok Rokan’, telah mengupas tuntas dalam laporan utama sebanyak delapan halaman tentang perseteruan antar pihak dalam pemilihan mitra investasi di blok Rokan.

“Akhirnya publik akan menilai, apakah Pertamina Holding dalam waktu dekat mampu melibas oknum-oknum itu. Jika tidak mampu, maka tak salah juga di curigai oleh publik bahwa sebagian di holding pun sudah tercemar juga,” beber Yusri.

“Namun bagi semua penegak hukum, tanpa bermaksud mengajari bebek berenang, jika jeli dan peduli, akan banyak hal yang bisa di ungkap untuk menyelamatkan potensi kerugian negara,” tutup Yusri.(hen)

Baca juga:

Pernyataan Dirut PGN Pancing Kecurigaan Publik

Bagikan