PEKANBARU – Yayasan Ikatan Keluarga Kapur Sembilan (IKKS), Sabtu (26/6/2021) secara resmi menerima tanah wakaf seluas dua hektare dari Rektanir beserta keluarga, yang tak lain merupakan putra asli Kapur Sembilan, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.
Serah terima lahan seluas dua hektare yang terletak di Nagari Muarapaiti Kapur IX Kebupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat itu, berlangsung di kantor Notaris Yusrizal Azhar SH Mhum di Jalan Tuanku Tambusai Pekanbaru.
Penyerahan secara simbolis dari Rektanir kepada H Edward Idrus Latief selaku Ketua Pendiri Yayasan IKKS dan dilanjutkan penyerahan kepada Ketua Yayasan IKKS Arizal Spd Mpd untuk selanjutnya menjadi lokasi pembangunan Pondok Pesantren Berbasis Surau (PBS).
Penyerahan tanah wakaf itu dihadiri anggota IKKS Family Sarantau dan Pengurus Yayasan IKKS.
Para pendiri Yayasan IKKS yang hadir pada kesempatan itu antara lain H Edward Idrus Latief, yang juga sebagai Ketua Umum IKKS. Selain itu, Dr Yazil Karimi dr SPD, MPd, juga merupakan pendiri Yayasan IKKS.
Selain itu, Dr Ustadz Harmen Hadi SHi MHum, juga merupakan pendiri Yayasan IKKS yang juga merupakan pengasuh Pondok Pesantren Berbasis Suau (PSB). Dua pendiri yayasan lainnya yakni Sukarni AP MSi dan Iwad Endri. SH MHum.
Penyerahan tanah wakaf tersebut juga dihadiri Sekretaris Yayasan IKKS Sri Marlena, SE dan Bendahara Yayasan IKKS Erna Delpita SPd.
Berlangsung secara mematuhi protokol kesehatan, tampak hadir juga sejumlah pengurus IKKS dan Yayasan IKKS.
Usai penyerahan tanah wakaf, H Edward Idrus Latief mengungkapkan, pihaknya menerima amanah tanah wakaf itu dan akan dipergunakan untuk pembangunan PBS demi menjaga dan meningkatkan keimanan dan ketakwaan generasi penerus terutama di Kapur Sembilan.
“Selain meningkatkan keimanan dan ketakwaan generasi penerus kita, sentuhan teknologi juga sangat penting mengingat tantangan yang ada di masa sekarang ini,” ungkap Edward Idrus.
Senada, DR Jazil Karimi Spd Mpd juga menimpali bahwa pembekalan penguatan spiritual Islami sangat penting bagi generasi yang akan datang.
“Kita ketahui bahwa anak-anak di Kapur Sembilan rata-rata dalam keseharian mereka setelah pulang sekolah, mereka di rumah sedangkan orangtua mereka bekerja di kebun. Waktu yang ada setelah mereka bersekolah itu harus dimaksimalkan untuk menambah ilmu bagi mereka,” ungkap Jazil.
Sementara itu, Ketua Yayasan IKKS, Arizal Spd Mpd mengungkapkan, bahwa konsep PBS yang akan diterapkan nanti, tidak akan mengganggu sekolah anak-anak yang sudah dijalani saat ini. Baik mulai dari tingkat SD, SMP, atau pun SMA. “Jadi kita memanfaatkan waktu mereka sejak pulang dari sekolah, belajar di Ponpes,” kata Arizal.
Menurut DR Harmen Hadi, yang merupakan pengasuh PBS Yayasan IKKS, konsep berbasis surau dikembangkan karena sebagian besar putra-putra Kapur Sembilan yang sudah sukses saat ini di berbagai bidang, merupakan didikan surau.
“Pendidikan surau itu lengkap. Bukan hanya pendidikan agama, melainkan juga pendidikan adat istiadat dan bahkan sampai pendidikan ilmu bela diri silat. Kita lihat ini lah yang menjadi pengaruh kuat suksesnya para putra-putra terbaik kita saat ini,” kata Harmen Hadi yang telah mendirikan berbagai pondok pesantren di Pulau Jawa itu.
Lebih lanjut Harmen mengatakan, dengan tantangan zaman saat ini, ia mencetuskan konsep surau namun ditambahi dengan sentuhan modern dan teknologi. “Sehingga menjadi aktual dan kekinian dan tidak meninggalkan nilai agama dan sejarah,” ungkap Harmen.
Sementara itu, Rektanir dan keluarga mengaku tergerak untuk mewakafkan tanah milik mereka lantaran ingin berbagi pahala dengan sesama keluarga Kapur Sembilan dan juga untuk tetap menjaga silaturahmi sebagai putra Kapur Sembilan.
“Surga itu kan luas, kalau saya bangun pondok pesantren sendiri di tanah saya, nanti kan saya sendiri di surga pak, kan tidak enak. Makanya saya ingin bersama-sama kita beramal ini,” ungkap Rektanir sambil tersenyum haru.(hen)
