Ibas: UPN Veteran Jakarta Menjadi Jembatan Diplomasi Kebangsaan dari Budaya ke Dunia

oleh
IMG 3267

JAKARTA – Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), menghadiri International Relations Anniversary Festival (INTRAFEST) 2025, dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-25 Program Studi Hubungan Internasional FISIP UPN “Veteran” Jakarta. Dalam paparannya yang berjudul “Dari Budaya ke Dunia: Membangun Jembatan Persahabatan Antarbangsa”, Ibas menegaskan pentingnya peran budaya dan pendidikan sebagai kekuatan lembut (soft power) yang mampu memperkuat posisi Indonesia di panggung global.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI ini menyampaikan bahwa sejarah diplomasi Indonesia lahir dari semangat kemandirian dan solidaritas dunia ketiga. Dari Bandung, dunia belajar tentang solidaritas lewat Konferensi Asia Afrika 1955, yang kemudian melahirkan Gerakan Non‑Blok dan menjadikan Indonesia sebagai suara bagi keadilan global. “Prinsip ‘Bebas dan Aktif’ bukan berarti netral, tapi berani berpihak pada perdamaian,” ujar Edhie Baskoro mengutip semangat Presiden pertama Indonesia, Soekarno, yang menjadi DNA politik luar negeri Indonesia hingga kini.

Lebih lanjut, lulusan Program Doktor S3 IPB University ini menyoroti perjalanan diplomasi Indonesia yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), diplomasi Indonesia dikenal lembut namun bermakna, menjunjung filosofi “A Million Friends and Zero Enemy”. “Kita ingin punya sejuta sahabat, dan tidak satu pun musuh,” tutur Ibas, mengutip pesan SBY. “Filosofi ini menunjukkan bahwa kekuatan sejati bangsa bukan terletak pada konfrontasi, tetapi pada kontribusi dan kepercayaan.”

Memasuki era global yang sarat tantangan, Dewan Penasihat KADIN tersebut menekankan bahwa pendidikan menjadi fondasi utama dalam membangun diplomasi masa depan. “Soft power melalui pendidikan adalah jembatan yang menghubungkan Indonesia dengan dunia,” ujar Ibas. Ia mencontohkan berbagai program pertukaran pelajar, beasiswa, dan riset internasional yang telah memperluas jejaring intelektual Indonesia. “Investasi terbesar bangsa adalah pada otak dan karakter generasi-nya,” tambahnya, kembali mengutip pesan Presiden ke-6 RI, SBY.

Tak hanya melalui pendidikan, Ibas yang merupakan lulusan S2 dari Rajatnam School of International Studies, Nanyang Technological University di Singapura ini, menilai budaya juga memiliki peran vital dalam memperkuat identitas dan diplomasi bangsa. “Budaya adalah bahasa universal yang menghubungkan dunia ketika politik memisahkan,” ucapnya. Melalui batik, kuliner, musik, dan film, Indonesia memperkenalkan nilai-nilai luhur seperti gotong royong, toleransi, dan keberagaman ke kancah global.

Ia juga menegaskan bahwa, di era digital saat ini, para kreator konten pun dapat menjadi diplomat bangsa ketika karya mereka membawa nilai-nilai positif Indonesia ke dunia. Kegiatan ini berlangsung hangat dan inspiratif. Anggota Daerah Pemilihan Jawa Timur VII ini mengajak mahasiswa untuk memahami bahwa diplomasi tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, tetapi oleh setiap warga negara yang membawa nama Indonesia ke luar negeri — bahkan melalui karya, sikap, dan interaksi digital mereka. “Diplomasi yang hebat bukan tentang siapa yang paling keras berbicara, tetapi siapa yang paling tulus mendengar,” tutup Ibas, disambut tepuk tangan peserta.(*)