TERNATE – Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), E. Aminudin Aziz, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat ekosistem literasi di Maluku Utara, khususnya di tengah tantangan geografis wilayah kepulauan dan keterbatasan akses bacaan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan saat menghadiri Rapat Koordinasi Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Maluku Utara di Ternate, Senin (11/5/2026). Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe, Bunda Literasi Provinsi Maluku Utara Rusni Sarbin, kepala dinas perpustakaan dan kearsipan, serta pengurus TP-PKK kabupaten/kota se-Maluku Utara.
Dalam kesempatan itu, Kepala Perpusnas menyoroti kondisi literasi di Maluku Utara yang masih membutuhkan penguatan. Berdasarkan data tahun 2025, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Provinsi Maluku Utara berada pada angka 10,99. Sementara Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) mencapai 60,66.
Ia menjelaskan, sejumlah daerah masih menghadapi tantangan serius dalam pembangunan literasi, mulai dari rendahnya kelengkapan data, lemahnya koordinasi antarorganisasi perangkat daerah (OPD), hingga ketimpangan distribusi pustakawan dan layanan perpustakaan.
“IPLM dan TKM merupakan kinerja pemerintah daerah secara kolektif. Tanggung jawab untuk mencapainya adalah tanggung jawab bersama, sehingga sinergi program mutlak dilakukan oleh OPD terkait,” tegasnya.
Aminudin juga menekankan bahwa pembangunan literasi tidak cukup hanya dengan menghadirkan gedung perpustakaan. Menurutnya, budaya baca harus dibangun melalui gerakan bersama yang melibatkan keluarga, sekolah, komunitas, dan pemerintah daerah.
“Tidak cukup hanya membangun gedung perpustakaan. Kita perlu menggerakkan kebiasaan membaca dari rumah,” ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan literasi di Maluku Utara, Perpusnas telah menyalurkan berbagai bantuan, antara lain tiga unit motor perpustakaan keliling, 20 unit mobil perpustakaan keliling, enam pojok baca digital, bantuan bahan bacaan bermutu di 231 lokus, serta program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial di lima lokus.
Selain itu, bantuan lain juga diberikan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik maupun nonfisik untuk mendukung pengembangan layanan perpustakaan di daerah.
Aminudin menegaskan, tantangan geografis Maluku Utara sebagai provinsi kepulauan harus dijawab dengan penguatan layanan literasi digital. Ia mengemukakan Perpusnas terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi melalui penyediaan koleksi digital yang dapat diakses masyarakat secara gratis.
Kepala Perpusnas juga mengajak Tim Penggerak PKK dan Bunda Literasi untuk mengambil peran lebih aktif dalam menggerakkan budaya baca di masyarakat. Menurutnya, berbagai program kolaboratif dapat dilakukan, seperti pemanfaatan bantuan bahan bacaan bermutu di TBM dan desa, Hari Kunjung Perpustakaan, penguatan Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS), hingga KKN Tematik Literasi.
“TBM dan komunitas literasi harus menjadi ruang tumbuh budaya baca masyarakat. Gerakan literasi tidak boleh berhenti pada seremoni, tetapi harus hadir dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.(*)
