Rudiantara dan Marita Alisjahbana Turun Langsung Pantau Proyek Nikel PT Vale di Pomalaa

oleh
IMG 5803

KOLAKA — Dua Komisaris Independen PT Vale Indonesia Tbk, Rudiantara dan Marita Alisjahbana, turun langsung meninjau kawasan Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat aktivitas operasional sekaligus perkembangan pembangunan fasilitas pengolahan nikel High-Pressure Acid Leach (HPAL) di kawasan tersebut.

Dalam peninjauan itu, keduanya tidak hanya melihat perkembangan konstruksi. Rudiantara dan Marita juga mengunjungi fasilitas persemaian bibit pohon atau nursery yang menjadi bagian dari upaya pengelolaan lingkungan di area IGP Pomalaa.

Fasilitas tersebut berdiri di atas lahan sekitar 5 hektare dengan kapasitas mencapai 1 juta bibit tanaman per tahun. Bibit yang disiapkan antara lain diperuntukkan bagi kegiatan reklamasi lahan pascatambang.

Rudiantara Soroti Keberlanjutan

Rudiantara mengatakan aspek keberlanjutan menjadi salah satu hal yang perlu tetap diperhatikan seiring pembangunan IGP Pomalaa.

“Saya rasa risikonya mudah-mudahan cukup tertangani. Dan yang penting tentunya sustainable dan ESG-nya terjaga,” kata Rudiantara, sebagaimana diberitakan Teraskabar.id.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah dirinya bersama Marita melihat sejumlah aktivitas di kawasan proyek.

Kunjungan ke fasilitas nursery menjadi salah satu bagian yang mendapat perhatian karena berkaitan langsung dengan upaya reklamasi dan pengelolaan lingkungan.

Melihat Perkembangan HPAL

Setelah meninjau persemaian bibit, kedua komisaris independen tersebut melanjutkan kunjungan ke area mining tour dan lokasi pembangunan fasilitas HPAL.

IGP Pomalaa mencakup kegiatan penambangan bijih nikel yang dioperasikan PT Vale serta fasilitas HPAL yang dikembangkan melalui PT Kolaka Nickel Indonesia (KNI), perusahaan patungan PT Vale dengan Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd. dan Ford Motor Co.

Fasilitas HPAL tersebut dirancang untuk menghasilkan mixed hydroxide precipitate (MHP), produk antara yang menjadi bahan penting dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik.

PT Vale menyebut investasi untuk proyek tambang dan fasilitas HPAL di Blok Pomalaa mencapai sekitar US$4,5 miliar, dengan perkiraan produksi tahunan sekitar 120.000 ton nikel dan 15.000 ton kobalt yang terkandung dalam produk MHP.

Proyek Pomalaa Terus Berjalan

Peninjauan Rudiantara dan Marita berlangsung ketika pembangunan IGP Pomalaa terus memasuki tahapan penting.

PT Vale sebelumnya melaporkan total progres pembangunan IGP Pomalaa telah mencapai 62 persen pada awal 2026. Sejumlah infrastruktur pendukung, termasuk fasilitas persemaian berkapasitas 1 juta bibit pohon, juga telah dibangun.

Dalam laporan tahunan 2025, PT Vale menyatakan proyek HPAL Pomalaa berada dalam jalur untuk mencapai first mechanical completion pada kuartal III 2026.

Perkembangan proyek tersebut menjadikan pengawasan terhadap aspek keselamatan, lingkungan, sosial, dan tata kelola menjadi bagian penting dalam perjalanan pembangunan.

ESG Jadi Bagian dari Strategi Perusahaan

PT Vale menyatakan prinsip environmental, social, and governance (ESG) telah diintegrasikan ke dalam strategi bisnis perusahaan.

Dalam pendekatan keberlanjutannya, PT Vale menggunakan konsep double materiality untuk melihat dampak kegiatan perusahaan sekaligus aspek finansial yang berkaitan dengan keberlanjutan. Perusahaan juga mengidentifikasi 18 topik keberlanjutan yang dinilai penting bagi operasionalnya.

Laporan Keberlanjutan PT Vale 2025 juga menyebut perusahaan sedang memperkuat peta jalan ESG seiring semakin luasnya cakupan operasi, termasuk pengembangan IGP Pomalaa dan IGP Morowali.

Dengan demikian, kunjungan dua komisaris independen tersebut menjadi bagian dari pemantauan langsung terhadap perkembangan proyek sekaligus penerapan prinsip keberlanjutan di lapangan.

Pertumbuhan Ekonomi Tetap Jadi Perhatian

Selain aspek lingkungan, IGP Pomalaa diproyeksikan menjadi salah satu proyek penting dalam pengembangan industri nikel dan hilirisasi di Indonesia.

PT Vale menyatakan pengembangan proyek tersebut diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi daerah, meningkatkan daya saing nasional, serta memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

Bagi Rudiantara dan Marita, perkembangan proyek tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fasilitas pengolahan nikel, tetapi juga bagaimana kegiatan tersebut berjalan dengan memperhatikan prinsip keberlanjutan dan tata kelola.

Peninjauan lapangan itu sekaligus memperlihatkan perhatian jajaran komisaris independen terhadap pelaksanaan proyek strategis PT Vale di Pomalaa, terutama agar aspek sustainable dan ESG tetap terjaga seiring pembangunan proyek memasuki tahapan berikutnya.(*)