Kemerdekaan Sejati: Membebaskan Manusia dari Penuhanan Sesama

oleh
IMG 5827
Edy Mulyadi. foto/wahananews

HARI ini, Senin, 17 Agustus 2026. 81 tahun silam Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Ya, setiap kali Agustus menyapa, ingatan kolektif bangsa ini digiring pada inguk-binguk panggung perayaan. Masyarakat yang hanya diajak sekadar “menonton”. Menengok dari jauh. Terkesima secara pasif melihat kemegahan panggung perayaan, tanpa benar-benar terlibat atau merasakan makna substansial di dalamnya.

Upacara megah, ornamen merah-putih, dan pidato kenegaraan yang riuh kembali mengisi ruang publik. Namun, ketika gempita itu usai, sebuah pertanyaan fundamental kerap tersisa di pojok sunyi kesadaran kita. Setelah 81 tahun memungkas kolonialisme fisik, apakah kita benar-benar telah menjadi manusia yang merdeka?

Secara sosiologis dan politik, pembacaan atas kemerdekaan kerap berhenti pada angka-angka statistik. Indeks ketimpangan, hukum yang tebang pilih, atau disparitas ekonomi. Diskursus ini tentu valid. Sah. Namun jika berhenti di sana, refleksi kita berisiko menjadi klise. Berulang kali mendiagnosis gejala tanpa pernah menundukkan akar persoalannya secara filosofis dan teologis.

Kemerdekaan pada hakikatnya adalah persoalan pembebasan jiwa. Dalam terminologi spiritual, konsepsi merdeka sejati berkelindan erat dengan firman Allah SWT dalam QS. Az-Zariyat: 56:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu.”

Ayat ini bukan sekadar perintah ritualistik. Ia sebuah deklarasi kemerdekaan yang paling radikal dalam sejarah peradaban. Landasan inilah yang melahirkan apa yang bisa kita sebut sebagai imperatif tauhid emansipatoris. Sebuah perintah mutlak (imperatif) dari keyakinan kepada Keesaan Allah (tauhid). Tujuannya untuk membebaskan manusia (emansipatoris) dari segala bentuk penindasan, keterbelakangan, dan perbudakan.

Tauhid sebagai Instrumen Pembebasan

Mengapa tauhid bersifat emansipatoris? Sebab ketika seorang manusia menyatakan Lā ilāha illallāh (tidak ada tuhan selain Allah), secara otomatis dia memproklamasikan pembebasan mutlak jiwanya dari segala bentuk tuhan-tuhan kecil di muka bumi. Tauhid meruntuhkan klaim superioritas manusia atas manusia lain. Tauhid menegaskan bahwa derajat seluruh makhluk adalah sejajar di hadapan Allah SWT Sang Pencipta.

Prinsip kesetaraan ini ditegaskan secara eksplisit dalam QS. Al-Hujurat: 13:

يٰۤاَ يُّهَا النَّا سُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَآئِلَ لتعارَفُوْا ۗ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَ تْقٰٮكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.”

Ayat ini meruntuhkan seluruh kriteria kemuliaan semu buatan manusia. Di hadapan Allah, garis keturunan, trah politik, kebangsawaan, jumlah kekayaan, maupun tingginya jabatan tidak memiliki nilai intrinsik yang membuat seseorang berhak menindas orang lain. Ukuran sejati martabat manusia hanyalah ketakwaan. Konstruksi teologis ini memberikan dasar moral yang kokoh. Tidak boleh ada struktur sosial atau politik yang menempatkan satu kelompok manusia sebagai “tuhan” yang harus disembah, dipatuhi, ditakuti oleh kelompok lainnya.

Dengan demikian, tauhid tidak berhenti di atas sajadah. Tapi juga hadir sebagai prinsip sosial yang membebaskan. Menjadi hamba Allah berarti menolak untuk tunduk, takut, atau menghambakan diri kepada harta, tahta, pangkat, maupun jabatan. Merdeka sejati berarti tidak ada lagi penuhanan manusia atas manusia lain.

Sebaliknya, krisis berbangsa kita hari ini justru bersumber dari pengangkangan atas prinsip tauhid ini. Perbudakan modern tidak lagi berwujud rantai besi serdadu kolonial. Perbudakan dan penindasan modern berupa penundukan jiwa pada materi, pencitraan, dan libido kekuasaan.

Pemimpin yang Selesai dengan Dirinya

Imperatif tauhid emansipatoris ini menemukan urgensi paling krusial pada orientasi kepemimpinan. Jabatan dan kekuasaan adalah ujian penghambaan yang paling berat. Ketika seorang pemimpin melepaskan kesadaran tauhidnya, kekuasaan secara otomatis bergeser menjadi ilah baru. Jadi tuhan yang dipuja dan dipertuan.

Pemimpin yang memegang teguh kesadaran sebagai hamba Allah adalah sosok yang telah selesai dengan urusan dirinya sendiri. Dia menyadari sepenuhnya bahwa kekuasaan bukanlah hak milik mutlak untuk dimanipulasi. Tapi amanah sementara yang kelak dimintai pertanggungjawaban di hadapan Sang Maha Raja. Kesadaran teologis inilah yang menjadi benteng terkuat melawan godaan pembangkangan moral.

Seorang hamba Allah yang menduduki tampuk kepemimpinan mustahil menggunakan jabatannya untuk memuaskan hawa nafsu ekonomi dan politik pribadi, keluarga, atau kelompoknya. Dia tidak akan menjadikan hukum sebagai instrumen melanggengkan dinasti. Juga tidak menjadikan kekayaan negara sebagai bancakan jejaring oligarki. Bagi seorang hamba, memperalat rakyat demi kepentingan pragmatis adalah bentuk penuhanan diri yang nyata. Dan itu sebuah tindakan takabur yang mengambil peran “Tuhan kecil” di bumi.

Sebaliknya, tauhid melahirkan kepemimpinan yang bersahaja, adil, jujur, dan berani. Yang bersangkutan akan bekerja ekstra keras melebihi batas jam kerja biasa untuk menyejahterakan rakyatnya. Motivasi utamanya bukan demi mengejar tepuk tangan pujian atau algoritma pencitraan. Melainkan karena dia gemetar membayangkan rintihan rakyat miskin yang akan menuntutnya di Yaumul Hisab.

Pemimpin model inilah yang memiliki keteguhan untuk berkata “tidak” pada kompromi jahat. Sebab rasa takutnya kepada Allah telah menghabisi rasa takutnya kepada tekanan politik atau kehilangan jabatan.

Meruntuhkan Feodalisme Modern

Di sisi lain, imperatif tauhid emansipatoris juga mendidik rakyat untuk merdeka secara mental. Menjadi hamba Allah berarti meruntuhkan mentalitas kawula-gusti atau feodalisme modern yang masih mengakar dalam kebudayaan kita.

Rakyat yang memiliki kesadaran tauhid tidak akan menghambakan diri secara buta kepada figur politik. Tidak memperjualbelikan suara demi materi sesaat. Tidak takut menyuarakan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim. Sebab dalam pandangan tauhid, rezeki, umur, dan martabat hidup sepenuhnya berada di tangan Allah. Bukan ditentukan oleh belas kasihan penguasa atau kekuatan modal.

81 tahun Indonesia merdeka harus menjadi momentum untuk melakukan dekontaminasi jiwa berbangsa. Kita perlu mengembalikan makna kemerdekaan ke porosnya yang paling hakiki: membebaskan manusia dari penyembahan sesama manusia menuju penghambaan penuh kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tanpa transformasi spiritual dan emansipatoris ini, kemerdekaan hanya akan menjadi pergantian nama majikan. Dari penjajah asing, menjadi elit lokal berjas rapi yang sama-sama menuntut rakyat untuk tunduk dan menyembah kepentingan mereka.***

Jakarta, 17 Agustus 2026

Edy Mulyadi

Wartawan Senior