JAKARTA — Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono menyampaikan aktivitas gempa susulan masih terjadi setelah gempa utama magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur.
Hingga 17 Agustus 2026 pukul 11.00 WIB, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 1.624 gempa susulan dengan magnitudo berkisar M1,3 hingga M6,2.
Data tersebut disampaikan dalam siaran pers BMKG yang dimuat pada 17 Agustus 2026. Aktivitas gempa susulan itu terus dipantau sebagai bagian dari perkembangan pascagempa kuat yang sebelumnya juga memicu tsunami di sejumlah wilayah pesisir Flores.
Daryono: Aktivitas Gempa Susulan Masih Berlangsung
Daryono menjelaskan, aktivitas gempa susulan merupakan bagian dari proses penyesuaian kondisi kerak bumi setelah terjadinya gempa utama.
Berdasarkan pemantauan BMKG, gempa susulan di kawasan tersebut masih terdistribusi di wilayah utara Pulau Flores dengan variasi kekuatan gempa dari magnitudo kecil hingga gempa yang cukup kuat dirasakan masyarakat.
BMKG terus melakukan pemantauan untuk melihat perkembangan aktivitas kegempaan dan perubahan pola gempa susulan di wilayah terdampak.
Warga Diminta Tidak Terpengaruh Informasi yang Belum Terverifikasi
Dalam situasi pascagempa, BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum dapat dipertanggungjawabkan.
Warga juga diminta berhati-hati terhadap bangunan yang mengalami kerusakan akibat gempa. Sebelum kembali memasuki rumah atau bangunan, masyarakat disarankan memastikan kondisi bangunan tidak membahayakan keselamatan.
Imbauan tersebut merupakan bagian dari prosedur mitigasi yang secara konsisten disampaikan BMKG dalam menghadapi aktivitas gempa dan gempa susulan.
Gempa M7,7 Sebelumnya Picu Peringatan Tsunami
Gempa utama yang mengguncang Flores sebelumnya berkekuatan magnitudo 7,7 dan terjadi di wilayah Nusa Tenggara Timur.
BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami sebelum kemudian mengakhirinya berdasarkan hasil pemantauan kondisi muka laut dan perkembangan situasi.
Media Reuters melaporkan gempa tersebut menimbulkan kerusakan di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur dan menghambat akses ke beberapa daerah akibat longsor serta gangguan komunikasi. Sementara itu, laporan Suara Merdeka Jakarta mencatat sejumlah gempa susulan juga terjadi setelah gempa utama.
Pemantauan BMKG Terus Dilakukan
Jumlah gempa susulan yang mencapai lebih dari seribu kali menunjukkan aktivitas kegempaan pascagempa utama masih berlangsung.
Namun, jumlah kejadian gempa susulan dapat berubah seiring pembaruan data hasil pemantauan BMKG. Masyarakat di wilayah terdampak diminta mengikuti informasi resmi melalui kanal BMKG dan pemerintah daerah.
Daryono dan tim BMKG terus memantau perkembangan aktivitas tersebut untuk memberikan informasi terbaru kepada masyarakat dan pihak terkait dalam penanganan dampak bencana.(*)
