Wamenkomdigi Nezar Patria Ingatkan AI Bisa Bikin Manusia Lebih Percaya Mesin

oleh
IMG 5856
Nezar Patria. foto/infobanknews

JAKARTA — Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengingatkan bahwa perkembangan kecerdasan artifisial (AI) tidak hanya membawa kemudahan, tetapi juga memunculkan risiko sosial yang sebelumnya sulit diperkirakan.

Salah satu risiko yang disoroti Nezar adalah munculnya hubungan sintetik (synthetic relations) antara manusia dan mesin. Kondisi tersebut berpotensi membuat seseorang merasa lebih nyaman atau percaya kepada mesin dibandingkan manusia lain.

Nezar menyampaikan hal itu dalam acara Philosophy in the Age of AI di Jakarta, Jumat (21/8/2026). Menurut dia, kemampuan AI kini berkembang jauh melampaui fungsi sebagai alat bantu teknologi.

AI telah digunakan dalam berbagai sektor, mulai dari ekonomi, kesehatan, pendidikan, pertambangan, pertanian hingga kehidupan sosial. Perkembangan tersebut membuat keputusan yang melibatkan AI semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

“Perkembangan Artificial Intelligence ini betul-betul memunculkan apa yang kita sebut unintended consequences, konsekuensi yang tidak kita inginkan atau tidak kita duga,” kata Nezar.

AI Mulai Membangun Relasi dengan Manusia

Nezar mengatakan tantangan akan semakin kompleks ketika AI berkembang menjadi embodied AI atau physical AI, yakni teknologi kecerdasan buatan yang memiliki wujud fisik seperti robot humanoid.

Dengan dukungan large language model (LLM), robot dapat berkomunikasi, mengenali orang yang berinteraksi dengannya, melakukan profiling, hingga membangun hubungan sintetik.

Situasi tersebut, menurut Nezar, dapat mengubah cara manusia berinteraksi.

“Ada kemungkinan manusia justru lebih mempercayai mesin dibandingkan sesama manusia. Orang merasa bahwa dia lebih bisa percaya sama mesin ketimbang dengan manusia,” ujarnya.

Nezar menilai persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan hanya dengan meningkatkan kemampuan teknis AI. Perkembangan teknologi harus dibarengi pembahasan mengenai nilai, tujuan, serta dampak keputusan yang dihasilkan AI.

Lulusan Filsafat Dinilai Makin Dibutuhkan

Di tengah perkembangan tersebut, Nezar justru melihat ilmu filsafat akan memiliki peran semakin penting.

Menurut dia, kemampuan AI dalam mengolah data, membuat prediksi, dan menghasilkan keputusan perlu diimbangi kemampuan manusia untuk mempertanyakan aspek etika dari keputusan tersebut.

“Sebentar lagi lulusan filsafat akan dibayar mahal karena semua decision making yang dibuat oleh AI akan punya dimensi-dimensi etik,” kata Nezar.

Ia menjelaskan, AI memang dapat menjelaskan berbagai pemikiran filsafat, tetapi kemampuan tersebut berbeda dengan proses manusia dalam melakukan refleksi secara kritis dan menyeluruh.

“AI bisa menjelaskan filsafat, tapi belum bisa melakukan apa yang kita kenal sebagai berfilsafat,” ujarnya.

Pernyataan Nezar sejalan dengan pemberitaan ANTARA yang menempatkan persoalan etika sebagai salah satu tantangan penting dalam pengembangan AI. ANTARA juga melaporkan bahwa perusahaan teknologi global mulai membutuhkan keahlian filsafat untuk membantu mempertimbangkan dimensi etis dalam pengambilan keputusan berbasis AI.

Karena itu, Nezar menilai masyarakat perlu mempertahankan kemampuan berpikir kritis dan reflektif ketika AI semakin hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, masa depan AI bukan hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi tersebut, tetapi juga bagaimana manusia menetapkan batas, tujuan, dan nilai yang harus menjadi dasar penggunaannya.(investortrust.id)