Irwandy Arif Ungkap Umur Cadangan Nikel Indonesia, Saprolit Disebut Tersisa 6 Tahun

oleh
Komisaris Utama Antam, Prof. Irwandy Arif, memaparkan cadangan nikel Indonesia dalam Annual Business Meeting 2026 (Foto- MNI:Shiddiq)
Komisaris Utama Antam, Prof. Irwandy Arif, memaparkan cadangan nikel Indonesia dalam Annual Business Meeting 2026 (Foto- MNI:Shiddiq)

JAKARTA — Masa depan industri nikel Indonesia menghadapi tantangan besar seiring meningkatnya kapasitas produksi smelter. Komisaris Utama PT Aneka Tambang Tbk (Antam) Irwandy Arif mengingatkan bahwa cadangan nikel nasional dapat menipis dalam waktu sekitar 10 tahun apabila tidak dikelola secara berkelanjutan.

Peringatan tersebut disampaikan Irwandy dalam Annual Business Meeting 2026 bertema Beyond Boundaries, Toward Global Excellence yang digelar Antam Resources.Id di J.W. Marriott Hotel Jakarta, Senin (21/9/2026).

Menurut Irwandy, peningkatan kapasitas pengolahan di sektor hilir secara langsung meningkatkan pemanfaatan bijih nikel. Kondisi tersebut membuat pengelolaan cadangan menjadi salah satu persoalan penting yang harus diperhatikan industri.

“Yang akan habis segera, kemungkinan kalau kita tidak mengelola dengan baik adalah nikel. Dalam 10 tahun, kalau tidak dikelola dengan baik, cadangan nikel kita akan habis,” kata Irwandy, dikutip dari Nikel.co.id.

Ia menjelaskan, umur cadangan dapat menjadi lebih pendek apabila kapasitas produksi terus meningkat. Pada kapasitas produksi sekitar 735 juta ton, misalnya, cadangan saprolit diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar enam tahun.

Sementara itu, cadangan limonit diperkirakan memiliki umur sekitar 16 tahun pada tingkat produksi tersebut.

Perbedaan karakteristik kedua jenis bijih tersebut menjadi bagian penting dalam pengelolaan sumber daya nikel. Saprolit selama ini banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan pengolahan nikel dengan kadar lebih tinggi, sedangkan limonit memiliki karakteristik berbeda dan dapat dimanfaatkan melalui teknologi pengolahan tertentu.

Tantangan Hilirisasi

Di tengah persoalan umur cadangan, Irwandy menilai Indonesia masih mempunyai ruang untuk meningkatkan nilai tambah dari sumber daya mineral.

Menurut dia, industri nasional saat ini masih banyak menghasilkan produk antara dan belum sepenuhnya mencapai produk akhir. Kondisi tersebut juga terjadi dalam rantai pasok industri baterai.

“Kita masih berada di tengah. Kita baru menuju ke industrialisasi. Belum menuju ke produk akhir. Jadi, kita masih belum mendapatkan nilai tambah yang maksimum,” ujarnya.

Karena itu, pembangunan ekosistem industri dinilai menjadi salah satu kebutuhan penting agar pemanfaatan sumber daya nikel tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi bahan mentah atau produk antara.

Irwandy juga menyoroti peluang pemanfaatan tailing serta pentingnya penerapan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola atau ESG dalam kegiatan pertambangan.

Penguatan aspek tersebut dinilai penting agar proses hilirisasi tidak hanya menghasilkan peningkatan nilai ekonomi, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan sumber daya dan dampak kegiatan pertambangan.

Peringatan mengenai umur cadangan tersebut sekaligus menempatkan industri nikel pada persimpangan antara peningkatan produksi, pengembangan hilirisasi, dan kebutuhan menjaga ketersediaan bahan baku untuk jangka panjang.

Dengan demikian, tantangan industri nikel Indonesia tidak hanya berkaitan dengan seberapa besar produksi dapat ditingkatkan, tetapi juga bagaimana cadangan yang tersedia dapat dimanfaatkan secara lebih efisien dan memberikan nilai tambah maksimal bagi perekonomian nasional.(*)