JAMBI — Ketahanan energi nasional menjadi perhatian dalam sosialisasi kebijakan energi yang digelar Dewan Energi Nasional (DEN) bersama Universitas Jambi (UNJA), Rabu (23/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Pascasarjana Gedung Singadekane, Kampus Telanaipura UNJA, tersebut membahas pemahaman Kebijakan Energi Nasional (KEN), isu strategis, hingga cadangan energi nasional.
Wakil Rektor Bidang Akademik UNJA, Prof. Dr. Hafrida, S.H., M.H., mengatakan isu energi berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat dan masa depan Indonesia.
“Ketika kita bicara soal energi nasional, kita berbicara soal kebutuhan bersama dan masa depan Negara Republik Indonesia,” kata Hafrida, seperti diberitakan Jambi Ekspres.
Sosialisasi menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Sekretaris Jenderal DEN Dadan Kusdiana, Anggota Pemangku Kepentingan DEN Muhammad Kholid Syeirazi, Kepala Pusat Unggulan Iptek Bio-Geo Material dan Energi LPPM UNJA Nazarudin, Corporate Secretary PT Pertamina Hulu Rokan Eviyanti Rofraida, serta Kepala Dinas ESDM Provinsi Jambi Tandry Andry Negara.
Kholid menjelaskan, KEN terbaru yang diatur melalui PP Nomor 40 Tahun 2025 memiliki sejumlah perubahan strategis. Di antaranya terkait target pertumbuhan ekonomi menuju negara maju pada 2045, perkembangan teknologi dan energi baru terbarukan, serta dekarbonisasi menuju target Net Zero Emission pada 2060.
Menurut Kholid, kebijakan energi juga diarahkan untuk memperkuat kedaulatan, kemandirian, dan ketahanan energi.
Ketahanan energi, kata dia, mencakup empat aspek utama, yakni ketersediaan energi, keterjangkauan harga, kemudahan akses, serta aspek lingkungan.
Dalam kegiatan tersebut, Dadan Kusdiana menyampaikan bahwa berdasarkan laporan Eye on the Market dari JP Morgan Asset Management, Indonesia mencatat tingkat ketahanan energi 77 persen.
Laporan tersebut menganalisis 52 negara konsumen energi terbesar yang secara keseluruhan mewakili sekitar 82 persen konsumsi energi global. Dalam laporan itu, Indonesia berada di bawah Afrika Selatan yang mencatat 79 persen, serta berada di atas China 76 persen, Uzbekistan 71 persen, dan Amerika Serikat 70 persen.
Dadan juga menyebut Indeks Ketahanan Energi Indonesia pada 2025 berada pada kondisi “tahan” dengan skor 7,13. Angka tersebut meningkat 0,39 dibandingkan capaian pada 2024.
Potensi Energi Jambi
Dari sisi daerah, Jambi memiliki potensi energi primer yang cukup besar. Data Outlook Energi Indonesia yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut mencatat potensi gas bumi Jambi mencapai 5.517,8 BCF.
Selain gas, Jambi memiliki cadangan batu bara sekitar 2.224,9 juta ton dan minyak bumi sebesar 228,3 MMSTB.
Potensi tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam pembahasan ketahanan energi karena kebutuhan energi masyarakat terus berkembang.
Sementara itu, akademisi UNJA Nazarudin menekankan pentingnya penelitian yang tidak berhenti pada laporan akademik, tetapi dilanjutkan menjadi pengembangan dan penerapan.
Ia memperkenalkan konsep “3R 3D” yang menempatkan riset sebagai bagian dari siklus berkelanjutan hingga menghasilkan pengembangan yang dapat diterapkan.
Dari sektor hulu migas, Corporate Secretary PT Pertamina Hulu Rokan Eviyanti Rofraida menyampaikan bahwa dukungan berbagai pihak diperlukan untuk menjaga operasional migas berjalan aman dan mendukung peningkatan produksi.
Pertamina Hulu Rokan juga merencanakan eksplorasi lanjutan setelah menyelesaikan tahap pertama. Pengembangan berikutnya disebut mencakup wilayah Pancoran dan Jambi Merang.
Meski secara administratif Jambi Merang berada di Sumatera Selatan, proses perizinan untuk pengembangan wilayah tersebut akan dikoordinasikan dengan pihak terkait.(*)
