Investasi Rp2,4 Triliun di Jatim Buka Peluang Kerja bagi Masyarakat

oleh
Investasi Rp2,4 Triliun di Jatim Buka Peluang Kerja bagi Masyarakat
Investasi Rp2,4 Triliun di Jatim Buka Peluang Kerja bagi Masyarakat

SURABAYA — Sebanyak 12 komitmen investasi senilai Rp2,4 triliun yang dihasilkan East Java Investment Forum (EJIF) 2026 membuka peluang bertambahnya aktivitas usaha dan penyerapan tenaga kerja di Jawa Timur.

Bank Indonesia (BI) mencatat komitmen tersebut dalam forum yang digelar bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada 1-2 Oktober 2026 di Surabaya.

Media ANTARA melaporkan, Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur Ibrahim mengatakan investasi tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga berdampak terhadap penyerapan tenaga kerja dan pengentasan kemiskinan.

“Momentum investasi Jawa Timur perlu terus didukung melalui sinergi dan kolaborasi,” kata Ibrahim di Surabaya.

Dalam EJIF 2026, sebanyak 28 proyek Investment Project Ready to Offer (IPRO) ditawarkan kepada investor dengan total potensi investasi mencapai Rp73,7 triliun.

Proyek tersebut mencakup sektor manufaktur, pariwisata, infrastruktur, dan agroindustri. Selain itu, terdapat tujuh kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus serta 80 aset potensial milik pemerintah daerah yang turut ditawarkan.

Forum tersebut mempertemukan pelaku usaha, calon investor, pemilik proyek, pemerintah daerah, dan lembaga keuangan. Investor dari Inggris, Belanda, Australia, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Arab Saudi, Singapura, dan Malaysia juga mengikuti kegiatan tersebut.

Bagi masyarakat, investasi pada sektor-sektor tersebut berpotensi berkaitan langsung dengan kebutuhan tenaga kerja ketika komitmen investasi berlanjut ke tahap realisasi. Namun, BI dalam laporan tersebut belum merinci jumlah lapangan kerja yang akan tercipta dari 12 komitmen investasi senilai Rp2,4 triliun.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan Pemprov Jawa Timur bersama pemerintah kabupaten dan kota terus memperkuat dukungan untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif.

Emil menyebut sektor manufaktur dan pertanian menjadi modal dasar sekaligus daya tarik investasi di Jawa Timur.

Sementara itu, Ibrahim mengatakan kondisi investasi perlu didukung keberlanjutan fiskal, stabilitas sistem keuangan, dan sistem pembayaran sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Rangkaian EJIF 2026 juga menghadirkan diskusi panel bersama Danantara Indonesia, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, serta Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur untuk membahas prospek investasi dan dukungan terhadap dunia usaha.(*)