Hidayat Nur Wahid Dorong Diplomasi Mekah-Iran untuk Jaga Keamanan Jemaah dan Palestina

oleh
Dr. H. M Hidayat Nur Wahid, MA
Dr. H. M Hidayat Nur Wahid, MA

JAKARTA — Keamanan jemaah haji dan umrah di tengah ketegangan Timur Tengah menjadi salah satu isu yang disoroti Wakil Ketua MPR RI M. Hidayat Nur Wahid. Ia mendukung rencana pertemuan delegasi Koalisi Mekah dengan Iran sebagai upaya meredakan konflik kawasan dan membuka ruang bagi diplomasi perdamaian.

Dalam keterangan tertulis yang dirilis Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada Senin (26/10/2026), Hidayat Nur Wahid, yang akrab disapa HNW, berharap pertemuan di Teheran tersebut dapat mendorong penyelesaian ketegangan serta menjaga keamanan warga sipil, termasuk jemaah yang menjalankan ibadah di Tanah Suci.

Delegasi Koalisi Mekah yang disebut dalam keterangan tersebut terdiri atas Arab Saudi, Turki, dan Pakistan. Pertemuan itu direncanakan melibatkan sejumlah pejabat dari negara-negara tersebut bersama Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan pejabat keamanan Iran.

Menurut HNW, dialog antarpihak yang memiliki pengaruh di kawasan dapat menjadi jalur diplomatik untuk mengurangi risiko konflik yang berdampak pada keamanan masyarakat dan kegiatan ibadah.

Ia menyoroti pentingnya menghentikan serangan yang menyasar warga sipil serta menjaga Mekah dan Madinah agar tetap aman sebagai tempat pelaksanaan haji dan umrah.

“Dengan demikian, umat Islam, termasuk dari Indonesia, bisa beribadah umrah dan haji dengan tenang,” ujar HNW dalam keterangan tersebut.

Diplomasi untuk Meredakan Ketegangan

HNW juga mengaitkan pertemuan itu dengan upaya memperkuat hubungan antarnegara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Menurut dia, kerja sama regional diperlukan agar perbedaan kepentingan tidak memperluas konflik dan mengalihkan perhatian dari persoalan kemanusiaan.

Ia turut menyoroti ketegangan yang melibatkan kelompok Houthi di Yaman dan pemerintah Arab Saudi. HNW berharap dialog dengan Iran dapat membantu membuka jalan penyelesaian, mengingat pentingnya menjaga stabilitas kawasan dan keamanan dua kota suci umat Islam.

Selain jalur diplomasi antarpemerintah, HNW mendorong OKI mengambil peran lebih aktif. Ia menilai organisasi tersebut memiliki potensi untuk mengoordinasikan negara-negara anggotanya dalam menjaga kedaulatan, menghentikan konflik, dan memperkuat kerja sama.

HNW juga mengusulkan pendekatan diplomasi lunak dengan menjadikan kepentingan bersama untuk menjaga Mekah dan Madinah sebagai salah satu titik temu pihak-pihak yang bertikai.

Palestina Tetap Menjadi Agenda Utama

Di luar persoalan keamanan kawasan, HNW menekankan bahwa upaya meredakan ketegangan tidak boleh membuat perjuangan kemerdekaan Palestina kehilangan perhatian internasional.

Ia merujuk pada pernyataan bersama para menteri luar negeri Koalisi Mekah di Turki pada 24 Oktober 2026, yang menurut keterangan PKS memuat dukungan terhadap solusi dua negara dan kemerdekaan Palestina dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota.

HNW berharap langkah diplomatik dengan Iran dapat memperkuat kerja sama negara-negara OKI untuk mendukung penyelesaian konflik Palestina serta melindungi Masjid Al-Aqsa.

Menurutnya, stabilitas Timur Tengah dan perjuangan Palestina perlu berjalan beriringan. Pengurangan ketegangan di kawasan diharapkan membuka ruang lebih besar bagi negara-negara anggota OKI untuk mendorong perlindungan warga sipil dan penyelesaian konflik secara damai.

Ia pun meminta OKI memaksimalkan perannya dalam menyatukan negara-negara anggota untuk menjaga perdamaian, keamanan kawasan, dan memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

Pertemuan Koalisi Mekah dengan Iran tersebut masih merupakan jalur diplomatik yang diharapkan menghasilkan kemajuan. Dampaknya terhadap penghentian konflik, keamanan jemaah, dan penyelesaian persoalan Palestina akan bergantung pada tindak lanjut serta komitmen pihak-pihak yang terlibat.(*)