Categories: Opini

Harga BBM Tidak Turun: Rakyat Menuntut Ganti Rugi Rp 24 Triliun!

Share
Ilustrasi/foto/pinterpolitik.com

TAK lama setelah pelantikannya, Presiden Jokowi menerbitkan Perpres No.191/2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Ecerean BBM pada 31 Desember 2014.

Pemerintah merevisi Perpres No.191/2014 menjadi Perpres No.43/2018 guna menambah wilayah penjualan BBM penugasan (Premium) dan kebijakan tentang penerimaan badan usaha setelah audit BPK.

Harga eceran BBM berubah, terutama sesuai fluktuasi harga minyak dunia dan nilai tukar US$/Rp. Perpres No.191/2014 menjadi rujukan Kementrian ESDM menetapkan formula harga eceran BBM secara rutin (bulanan) berbentuk Permen/Kepmen.

Permen ESDM yang pernah terbit meliputi No.39/2014, No.4/2015, No.39/2015, No.27/2016, No.21/2018, No.34/2018 dan No.40/2018, No.19K/2019, No.62K/2019, No.187/2019, No.62K/2020 dan No.83K/2020.

Implementasi peraturan tersebut tercermin pada harga BBM domestik yang berubah-ubah sesuai fluktuasi harga minyak dunia.

Misalnya, harga BBM RON-92 (Pertamax) per liter pada Mei 2015 adalah Rp 9.600, turun menjadi Rp 7.550 (4/2016), naik ke Rp 8.400 (12/2017), Rp 9.150 (2/2018) dan Rp 9.850 (12/2019), turun ke Rp 9.200 (1/2020) dan Rp 9.000 (2/2020).

Harga minyak dunia yang dinamis membuat harga eceran Pertamax pernah lebih rendah dari Rp 8.000 atau lebih mahal dari Rp 9.000 per liter.

Artinya, sesuai peraturan yang ada, rakyat harus membeli BBM lebih mahal dari Rp 9.000/liter saat harga minyak dunia naik, atau pernah menikmati harga murah lebih rendah dari Rp 8.000/liter saat harga minyak dunia turun.

Ternyata, pada saat harga minyak dunia turun signifikan menjadi sekitar US$ 32/barel Maret 2020 atau sekitar US$ 21/barel April 2020, harga BBM tidak turun.

Kondisi normal yang berlangsung empat tahun terakhir menjadi berubah, meski aturan rujukan masih berlaku.

Menteri ESDM Arifin Tasrif beralasan, harga minyak masih belum stabil dan harga BBM Indonesia sudah cukup murah.

Sedangkan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, mengatakan harga BBM tidak turun karena biaya crude domestik lebih mahal dari biaya impor.

Pertamina harus menyerap 100% produksi domestik, menjaga bisnis migas kondusif, mencegah PHK, menjaga operasi kilang, dan mengkompensasi penurunan konsumsi BBM akibat Covid-19.

Page: 1 2 3 4

Tags: BBM

Berita Terbaru

Ketua MPR Minta KPK Usut Anggaran Pemda Mengendap di Deposito

URBANNEWS.ID - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo, Selasa (27/10/202), menyatakan Menteri Dalam Negeri dapat meminta bantuan KPK untuk mengusut adanya…

28 Oktober 2020 | 08:49 WIB

CBA Serukan KPK Turun Tangan Usut Pelanggaran Kode Etik yang Bisa Berujung Tipikor di Proyek Pipa Blok Rokan

URBANNEWS.ID - Koordinator Center For Budget Analysis (CBA), Jajang Nurjaman menyatakan masalah seleksi pemilihan mitra investasi proyek Pipa Blok Rokan…

25 Oktober 2020 | 18:32 WIB

Terimakasih HCML, Sudah Peduli pada Nelayan Desa Pulau Mandangin

URBANNEWS.ID - Husky CNOOC Madura Limited (HCML) – SKK Migas telah menyerahkan bantuan jaring kepada para nelayan purse sein di…

25 Oktober 2020 | 12:01 WIB

Sentil Optimalisasi Batu Bara Lamban, CERI: Jokowi Terkesan Mengeluh pada Presiden

URBANNEWS.ID - Direktur Eksekutif CERI, Yusri Usman mengungkapkan tidak heran atas kondisi lambatnya pengembangan optimalisasi batu bara seperti yang dikeluhkan…

24 Oktober 2020 | 11:13 WIB

CBA Ungkap Kejanggalan Tender Pengadaan Mobil di Sekjen Kementerian Desa

URBANNEWS.ID - Di tengah-tengah Pandemi Covid-19, Center for Budget Analysis (CBA) menemukan dugaan tindak pidana korupsi di tubuh Kementerian Desa…

24 Oktober 2020 | 10:43 WIB

CERI Layangkan Surat Terbuka soal Beda Keterangan Petinggi PGN dan Pertagas tentang Proyek Pipa Blok Rokan Rp 4,3 Triliun

Direktur Eksekutif CERI, Yusri Usman melayangkan surat terbuka menyusul munculnya surat Corporate Secretary PT PGN Tbk Nomor: 030400S/HN.01.00/COS/2020 tertanggal 21…

22 Oktober 2020 | 16:47 WIB