Categories: City Government

Satu Lagi ‘Bisul’ Pertamina Terkuak Usai ‘Ditelanjangi’ Ahok di Medsos: Saham di Maurel and Prom Senilai 700 Juta Euro Rontok

Share

"Investasi Pertamina di BMG itu merugikan negara. Pembelian tidak membawa hasil. Investasi itu tidak berjalan tanpa adanya penelitian dan persetujuan dewan komisaris," ungkap Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus M. Adi Toegarisman di Jakarta, Senin, 24 September 2018.

Adi menjelaskan, pintu masuk penyidikan perkara investasi Pertamina tersebut ada pada direktur hulu yang waktu itu dijabat oleh Bayu Kristanto. "Proses ini tanpa hasil penelitian, tanpa ada penilaian risiko, dan itu tetap berjalan yang akhirnya disetujui dan dilaksanakan investasi oleh direktur utama yaitu saudara Karen Agustiawan yang kami lakukan penahanan."

PT Pertamina, Adi melanjutkan, melakukan langkah akuisisi atau investasi Blok BMG Australia dengan penawaran berdasarkan dari ROC Oil Company Ltd.Selama penelitian, hasilnya tidak mendapat persetujuan dewan komisaris. Dalam pelaksanaanya ditemui dugaan penyimpangan dalam pengusulan investasi yang tidak sesuai dengan Pedoman Investasi dalam pengambilan keputusan investasi.

Penyimpangan investasi tersebut yaitu tanpa adanya feasibility study atau kajian kelayakan secara lengkap. Akibatnya, penggunaan dana investasi senilai US$ 31,49 juta, beserta biaya yang timbul lainnya US$ 26,8 juta, tidak memberikan manfaat atau keuntungan PT Pertamina. Sehingga, penyidik memperkirakan proyek ini merugikan negara hingga Rp 568 miliar.

Jaksa Agung Muda Pidana Khusus menetapkan Karen Agustiawan sebagai tersangka dan ditahan di Rumah tahanan Pondok Bambu, Jakarta Timur, selama 20 hari terhitung sejak 24 September 2018.

Sebelumnya penyidik Kejaksaan Agung juga sudah menetapkan tersangka lain, yakni mantan Chief Legal Councel and Compliance, Genades Panjaitan dan mantan Direktur Keuangan PT Pertamina, Frederik Siahaan serta mantan Manager Merger & Acquisition (M&A) Direktorat Hulu PT Pertamina berinisial Bayu Kristanto.

Sarat kejanggalan

Sementara itu, kompasiana.com edisi 7 April 2017, melansir soal Pertamina mencoba mengadu peruntungan dengan mengakuisisi saham Maurel & Prom (MP)dari Prancis sebesar 72,65% kepemilikan saham perusahaan. Langkah korporasi ini luput dari perhatian publik dimana banyak ditemukan kejanggalan dalam proses akuisisi tersebut. Walaupun niat mengakuisisi ini sudah ditawarkan sejak 2013, akan tetapi inisiasi pengambil alihan baru dibulan Mei 2016.

Page: 1 2 3 4

Berita Terbaru

PSHTN Fakultas Hukum UI Nyatakan RUU Cipta Kerja sebagai Proses Legislasi yang Ugal-ugalan

Pusat Studi Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Indonesia (PSHTN FHUI) menyatakan menilai bahwa proses pembentukan undang-undang saat ini bukan…

5 hari yang lalu

Hanya Tinggal Tiga Unit, Perumahan Palm Leaves Kasih Potongan Harga Hingga Rp 170 Juta

Pengembang perumahan Palm Leaves menggelar ajang promo uang muka (DP) 0 persen hingga 30 Oktober 2020 mendatang.

6 hari yang lalu

Batalkan UU Cipta Kerja: Proses Pemakzulan Jokowi Segera!

Pengunjuk rasa yang tergabung dalam Aliansi Bali Tidak Diam melakukan aksi menolak Omnibus Law di kawasan Renon, Denpasar, Bali, Kamis…

1 minggu yang lalu

Gugatan Rp 1 Triliun Terhadap Plt Gubernur Aceh Mulai Disidang Pekan Depan

Gugatan class action terhadap Plt Gubernur Aceh terkait kebijakan stickering BBM melalui Surat Edaran No. 540/9186 yang diajukan oleh 24…

1 minggu yang lalu

Ustad Abdul Somad Minta Ahda Persatukan Mataram dengan Agama

Kehadiran ulama beken, Ustadz Abdul Somad (UAS) dalam acara bertajuk Muslim United 3, Sabtu (10/10/2020) di Hotel Killa Senggigi, Lombok…

1 minggu yang lalu

Rayakan Hari Ulang Tahun ke-24, XL Axiata Tegaskan Komitmen Terus Perluas Jaringan Hingga ke Pelosok Negeri

Rayakan Hari Ulang Tahun ke-24, XL Axiata Tegaskan Komitmen Terus Perluas Jaringan Hingga ke Pelosok Negeri

1 minggu yang lalu