Arsip Tag: Kilang Balongan Terbakar

Ada Apa di Balik Pencopotan Jabatan Direktur SDM Penunjang Bisnis KPI?

INNALILLAHI waina ilaihi rojiun. Adakah hubungan atau kaitan langsung antara Direktur SDM Penunjang Bisnis PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) dengan kebakaran Kilang Balongan, sehingga harus ada pencopotan dari jabatanya pada RUPS PT KPI tanggal 26 APRIL 2021 yang lalu. Pencopotan Direktur SDM Penunjang Bisnis PT Kilang Pertamina Indonesia di tindaklanjuti dengan telah di lakukannya Sertijab pada Rabu, 28 April 2021 pukul 08.00 WIB secara virtual? Atau ada agenda lain di belakangnya?

Mengapa yang di copot dan di ganti adalah Direktur SDM penunjang bisnisnya? Apakah di anggap ada hubungannya dengan peristiwa kebakaran? Padahal Polri sendiri memberikan statement bahwa proses penyidikan terhadap kebakaran masih berproses dan belum ada satupun yang di tetapkan sebagai tersangka. Atau apakah ada pihak-pihak yang memanfaatkan momentum kebakaran itu untuk mengganti pejabat tersebut untuk kepentingan tertentu?

Pengalaman saya selama 25 tahun bekerja di Pertamina, saya baru menemukan kasus pergantian direktur yang abnormal dan tidak lumrah seperti ini. Apalagi kejadian Pencopotan Direktur SDM Penunjang Bisnis PT Kilang Pertamina Indonesia berlangsung dalam keadaan yang tidak normal di mana yang bersangkutan saat ini sedang berkonsentrasi penuh dalam menangani proses pascakebakaran yang pastinya sangat memeras energi. Bukankah ini mencederai beliau?

Kewenangan pengangkatan Direksi Subholding adalah kewenangan Holding bukan BUMN. Apakah ada peran Menteri BUMN dalam penggantian ini? Menteri BUMN bisa saja mengirimkan surat usulan melalui holding tentang nama-nama yang harus di ganti? Atau ada tangan-tangan lain? Atau karena masih pejabat virtual yang tidak jelas kewenangan sehingga setiap saat bisa dicopot? Wallohualam bishawab.

Sampai kapan kejadian yang tidak lumrah ini akan terus terjadi, apakah hal seperti ini akan mendorong kinerja perusahaan? Bukankah sebaliknya yang akan terjadi, perusahaan akan semakin terpuruk?

Penting untuk bisa dijadikan catatan bagi semua pihak bahwa Pertamina ini adalah perusahaan besar, strategis, kebanggaan Bangsa Indonesia, dan pastinya bukan perusahaan kaleng-kaleng. Masya alloh.***

Jakarta, 28 April 2021

Ugan Gandar

Pengamat Energi, Mantan Pekerja Pertamina dan Presiden FSPPB Periode 2004 – 2015

 

baca juga:

Ketua Banggar DPR Said Abdullah Kritik Pertamina Masih Salurkan BBM Jenis Premium, Pengamat: Sesat Berpikir!

Bagikan

CERI: Polri Harus Ungkap Penyebab Kebakaran Kilang Balongan

Asap tebal masih membungbung dari komplek Kilang Balongan, Selasa (30/3/2021). foto/ist

URBANNEWS.ID – Kebakaran tangki T301 di area kilang Balongan telah menimbulkan kerugian besar bagi Pertamina. Selain itu, juga telah menimbulkan korban luka berat dan ringan 20 orang. Jika fasilitas empat tangki BBM yang terbakar ludes, maka kerugian Pertamina bisa mencapai sekitar Rp 1,25 triliun.

Demikian kata Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources (CERI), Yusri Usman kepada urbannews.id, Selasa (30/3/2021).

“Taksiran kerugian itu bukan lah mustahil. Yaitu berdasarkan asumsi jumlah BBM yang terbakar ludes sekitar 600.000 barel hingga 800.000 barel di dalam empat tangki tersebut. BBM ini bisa bernilai sekitar USD 56 juta. Di tambah biaya pembangunan empat tangki sekitar USD 20 juta dan biaya operasi pemulihan sekitar USD 2 juta,” ungkap Yusri.

“Nilai itu belum masuk akibat tindakan emergency shut down untuk mencegah penyebaran efek api. Artinya bukan normal shutdown seperti kata pejabat-pejabat Pertamina, itu keliru. Ada kehilangan produksi BBM sebanyak sekitar 400.000 barel dari kilang Balongan selama empat sampai dengan lima hari ke depan, kata Mulyono sebagai Direktur Infrastruktur Pertamina Holding pada 29 Maret 2021,” lanjut Yusri.

Merugi Rp 1,5 triliun

Lebih lanjut Yusri mengatakan, api yang membakar sampai dengan 30 Maret 2021 pagi juga belum padam total. Melihat kondisi itu, maka potensi nilai kerugian itu bisa membengkak mencapai sekitar Rp 1,5 triliun.

“Dalam catur wulan ini saja, di kilang Balongan telah terjadi dua peristiwa besar sebelumnya. Yaitu pada periode Desember 2020 dan awal 2021 telah terjadi shutdown di kilang akibat boiler blow up,” sambung Yusri.

Yusri mengatakan, terkesan kental bahwa sebenarnya jika menelisik lebih dalam, maka akan terungkap informasi bahwasanya pihak manajemen agak kurang memperhatikan sistem kerja dan kualitas SDM di area luar.

“Yakni area utilities dan area ITP. Area ini yang mengurusi instalasi pipa dan tangki serta jetty dan SBM. Termasuk juga unit laboratorium agak terabaikan. Kelihatannya mereka hanya lebih fokus memperhatikan SDM di unit proses,” ulas Yusri.

Sistem kasta di lingkungan kerja kilang

Yusri mengungkapkan, telah terjadi kasta di lingkungan semua kilang Pertamina. “Kasta paling tinggi adalah orang yang mengendalikan unit proses, kasta kedua yang menangani unit utilities, kasta ketiga adalah yang menangani unit ITP, yakni instalasi pipa dan tangki serta jetty dan SBM. Sedangkan kasta yang paling rendah adalah yang keempat, yaitu yang menangani unit laboratorium di kilang,” beber Yusri.

Jika Pertamina tidak segera membenahinya, kata Yusri, maka persoalan yang sama atau lebih parah akan dapat terjadi lagi di kilang Balongan maupun kilang lainnya. Khususnya di area di luar unit proses.

“Berdasarkan fakta yang beredar, telah terjadi kebocoran minyak di duga dari dari salah satu tangki. Sehingga ada upaya pemindahan BBM. Pemindahannya secara gravity dari tangki yang bocor berisi penuh BBM ke tangki lainnya yang isinya belum penuh,” ungkap Yusri.

Karena itu, kata Yusri, dalam proses pemindahan BBM itu, terdeteksi adanya ceceran minyak di sekitar area tangki pada Minggu, 28 Maret 2021. “Ini tercium oleh warga sekitar tangki. Warga telah mendatangi pihak sekuriti Pertamina Balongan pada Minggu, 28 Maret 2021 malam,” kata Yusri.

Lebih lanjut Yusri mengungkapkan, jika benar ada ceceran minyak, ada angin, soal pemantik kebakaran bisa saja bersumber dari mana saja.

“Bisa dari petir, bisa juga dari orang yang merokok di sekitar itu. Bisa dari signal HP petugas atau pun dari gesekan electric static di sekitar lokasi bocoran minyak,” ulas Yusri.

Telisik lebih mendalam

Lebih lanjut Yusri mengatakan, beberapa kemungkinan penyebab itu lah yang harus di telisik lebih dalam. Tentunya dari bukti-bukti yang di dapat oleh pihak Polri.

“Jika hal tersebut sebagai penyebab kebakaran mengandung kebenaran dan bersesuaian dengan hasil investigasi Tim Puslafor Mabes Polri, maka pernyataan bahwa penyebab kebakaran tangki itu adalah petir, pasti akan terbantahkan,” kata Yusri.

“Meskipun sejak awal kami sangat meragukan keterangan pihak Pertamina soal adanya petir sebagai sumber apinya. BMKG juga sudah membantahnya pada Senin 29 Maret 2021 malam,” lanjut Yusri.

Menurut Yusri, ada kemungkinan akan banyak barang bukti penyebab kebakaran, seperti posisi kebocoran tangki akan sulit di temukan di TKP. Hal ini akibat panas api yang sangat tinggi dan berlangsung agak lama, telah menyebabkan sejumlah tangki dan pipa serta peralatan safety yang telah berubah bentuk dari bentuk awalnya.

“Oleh karena itu, salah satu hal yang mutlak di lakukan adalah membuka rekaman di ruang kontrol kilang yang banyak menyimpan semua rekam jejak tentang empat tangki yang terbakar itu. Termasuk tentunya data tentang proses pemeliharaan yang rutin di lakukan oleh tim Health Safety, Security and Enviroment atau HSSE. Apakah sudah bekerja sesuai SOP dan apakah ada catatan khusus terkait keempat tangki itu sebelum terbakar, termasuk adanya kebocoran yang harus segera ada perbaikan, namun terlambat di lakukan?,” ulas Yusri.

Yusri mengatakan, keterangan dari petugas yang bertanggungjawab terhadap area tangki itu sangat di perlukan untuk memperkuat data yang di peroleh dari ruang kontrol. Hal itu agar bisa memperkuat kesimpulan akhir faktor penyebab utama yang telah membuat keempat tangki BBM itu bisa terbakar hebat.

“Padahal, pada prinsipnya jika selama proteksi safety terawat dengan baik dan standar prosedur HSSE di jalankan dengan benar dan ketat, dapat di pastikan semua fasilitas utama dan penunjang di area kilang aman terkendali,” ungkap Yusri.

Kasus Balongan jangan seperti ledakan Kilang Cilacap tahun 1984

Lebih lanjut Yusri mengungkapkan, publik berharap besar pada jajaran Polri, agar jangan terulang kembali seperti kasus terbakar dan meledaknya tangki Pertamina di Cilacap tahun 1984.

“Saat itu dua orang terdakwa Ir Wisnu Broto Pranadi dan Ir Basran Bin Hadran yang didakwa dengan dakwaan berlapis, namun dibebaskan dari segala dakwaan oleh PN Cilacap sampai Mahkamah Agung,” ulas Yusri.

Yusri menceritakan, Majelis Hakim PN sampai MA dapat menerima pleidoi Penasihat Hukum kedua terdakwa yang menjalani sidang secara terpisah. Advokat kondang Augustinus Hutajulu SH, yang dengan analisa hukumnya menyimpulkan bahwa kebakaran dan meledaknya tanki yang telah menelan korban jiwa 19 orang tewas itu adalah suatu mysterious accident, yang tidak atau belum diketahui penyebabnya.

“Dengan tidak diketahuinya penyebab kebakaran maka tidak mungkin mencari siapa yang harus bertanggung jawab secara pidana. Demikian kesimpulan Augustinus Hutajulu waktu itu,” ungkap Yusri.

Yusri menceritakan, Majelis Hakim PN dan Mahkamah Agung dapat menerima argumentasi itu dan membebaskan kedua terdakwa dari segala dakwaan alias bebas murni.

“Atas putusan itu, tim JPU bukannya menyadari lemahnya alat bukti atau kemampuan membuktikan, malah hanya berkomentar di pers bahwa apa iya penyebabnya mahluk Jin?,” ungkap Yusri.

Padahal, kata Yusri lagi, waktu itu penyidikan kasus itu melibatkan Polres Cilacap, Polda Jateng dan Mabes Polri bahkan Kopkamtib.(hen)

Baca juga:

Kilang Balongan Terbakar, CERI: Penjelasan Pertamina Tak Masuk Akal

Bagikan

Kilang Balongan Terbakar, CERI: Penjelasan Pertamina Tak Masuk Akal

Kebakaran kilang Pertamina Balongan. foto/detik.com/ANTARA FOTO/Dedhez Anggara.

URBANNEWS.ID – Kebakaran besar pada Senin (29/3/3031) pukul 00.45 WIB menghanguskan empat tangki besar penyimpanan hasil olahan berupa bahan bakar minyak BBM milik Pertamina di kilang Balongan. Akibat Kilang Balongan terbakar, memakan korban luka-luka berat masyarakat sekitar.

Direktur Eksekutif Center of Resoyrces and Energy Indonesia (CERI), Yusri Usman, mengungkapkan Refinery Unit (RU) VI Balongan atau Kilang Balongan, merupakan kilang keenam dari tujuh kilang Direktorat Pengolahan PT Pertamina (Persero).

“RU VI Balongan mulai beroperasi sejak tahun 1994. Kilang Balongan ini berlokasi di Indramayu, Jawa Barat. Lokasinya sekitar 200 km arah timur Jakarta. Wilayah operasinya di Balongan, Mundu dan Salam Darma,” ungkap Yusri.

Olah minyak mentah dari Riau

Lebih lanjut Yusri memberi keterangan, kegiatan bisnis utama kilang tersebut adalah mengolah minyak mentah atau crude oil menjadi produk-produk BBM, Non BBM dan Petrokimia. Kilang Balongan mengolah bahan baku minyak mentah Duri dan Minas yang berasal dari Provinsi Riau.

“Sementara, isunya kebakaran empat tangki yang berisi produk BBM berupa gasoline karena sambaran petir. Hal itu agak sangat tidak masuk akal karena harusnya sudah menyiapkan fasilitas anti petir di kilang dan tanki BBM dan minyak mentah. Seharusnya juga selalu ada petugas yang melakukan inspeksi secara berkala secara rutin di lapangan,” beber Yusri.

Jika karena petir, sambung Yusri, timbul pertanyaan. Mengapa Kilang Balongan terbakar hanya terjadi di satu kluster empat tangki besar penyimpanan produk kilang yang habis ludes terbakar?

“Sedangkan fasilitas yang lainnya tidak ada masalah sama sekali. Tentu hal Ini bisa sangat aneh kalau itu menjadi alasannya oleh pihak Pertamina,” beber Yusri.

Masalah sistem pipa

Atau, lanjut Yusri, jangan-jangan ada masalah dengan sistem pipa dengan tanki di kluster itu. “Jangan-jangan terdapat ada kebocoran tetapi tidak terdeteksi oleh alat dan petugas Health, Safety, Security and Environtment (HSSE) di lapangan. Sehingga adanya petir menyambar minyak yang akibat kebocoran di sistem pipa di kluster itu menyebabkan kebakaran besar. Sebab, ada informasi dari masyarakat setempat bahwa setengah jam sebelum meledak dan terbakar, mereka mencium bau bensin,” beber Yusri.

Selain itu, sambung Yusri, sambil menunggu tim investigasi dari Pertamina dan Tim Puslafor Mabes Polri yang bisa menelisik faktor penyebabnya, tentu hal lain yang menjadi pertanyaan publik di sini adalah berapa besar kerugian Pertamina dari terbakarnya stok cadangan dalam empat tangki besar itu.

“Berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh PT KPI lagi untuk membangun empat tangki timbun besar yang baru? Bagaimana dengan nasib korban masyarakat yang telah menjadi korban? Dan bagaimana SOP HSSE di Kilang Pertamina serta tanggungjawab Dirut Pertamina perlu dipertanyakan,” ulas Yusri.

Menurut keterangan Yusri, isi empat tangki BBM gasoline di Kilang Balongan, total sekitar 200.000 barel.

“Jika dihargai per barel USD 70, maka nilai yang terbakar USD 1,4 juta. Belum biaya pembangunan empat tangki itu bisa menelan Rp 200 miliar dan ditambah mengganti kerugian rakyat dan biaya pemadaman dan keamanan,” beber Yusri.(hen)

Baca juga:

Kilang Pertamina Indonesia Terkesan Tutupi ‘Borok’ Proyek RDMP Dan GRR Tuban Senilai Rp 50 Triliun

Bagikan