Menendang Prabowo Terjerembab Jokowi

oleh

Oleh: Adian Radiatus

SEPANJANG ajang pilpres yang lalu mencuat nama empat mantan jenderal yaitu LBP, HP, WR dan MD yang cukup frontal menentang capres Prabowo. Sementara SBY terasa bersandiwara. Tapi Prabowo tak bergeming. Sama-sama dunia militer.Kemudian capres Prabowo dikalahkan dengan tidak elok, namun keempat jenderal itu pasti tertawa terbahak-bahak dibelakang. Bagi Prabowo sama, kalah bukan berarti tidak menang.

Pasca jalur resmi konstitusi selesai ada fenomena baru dimata publik, ada “kencan politik” di MRT antara Prabowo dan Jokowi. Jangankan dikubu pendukung Prabowo, dipihak Jokowi pun rupanya ada yang terkejut dan terkesima. Ada apa ini ? Koq saya tidak dilibatkan ? Alasan besar apa yang membuat Prabowo bersedia menemui Jokowi meski di area publik ? Waktunya dirasa bagai kejutan, emosi pendukung belum lagi reda.  Itu kira-kira pertanyaan besar saat itu dan masih relevan hingga saat ini. 

Penulis Zeng Wei Jian mengulas adanya poros ketiga dan sekarang fragmentasi dan re-grouping di pusaran kekuasaan. Kita perlu terus cermati apakah semua ini akan jadi “perang terbuka” yang bakal menyelipkan kisi-kisi penghianatan didalam pemerintahan Jokowi sendiri atau suatu rekonsiliasi nasional mengakhiri polemik berkepanjangan dan rakyat akan menerima perubahan besar pada akhirnya.

Kemarin publik sedikit dikejutan dengan judul berita menko Luhut minta Jokowi hentikan impor garam. Judulnya saja sudah bikin mengernyitkan dahi, tak biasanya menteri Luhut bereaksi seperti itu langsung menohok pada presiden. Apakah ini pertanda awal adanya pergeseran yang dimaksud dalam ulasan Zeng Wei Jian ? Apalagi sudah semakin terang signal akan adanya pertemuan empat mata, Megawati dan Prabowo. Tidak mengherankan bila pengamat politik dan kalangan peduli bangsa sudah mulai saling berhubungan mencari tahu ada apa gerangan dibalik perkembangan akhir-akhir ini.

Namun yang pasti Prabowo harus memiliki ketegasan akan pentingnya para pemimpin bangsa ini menjujung tinggi kejujuran dan kebenaran kepada rakyatnya. Karena rakyat sudah cerdas, tidak mau lagi dibodohi oleh rekayasa-rekayasa yang menyesatkan kehidupan berbangsa dan bernegaranya. Rakyat sangat cinta negerinya, Indonesia yang terkenal luas dan jaya. Tidak boleh hanya berbicara pada tataran berbagi-bagi kursi kekuasaan belaka, apalagi berbagi otoritas ekonomi semata-mata.

Semoga pertemuan Megawati dan Prabowo menjadi angin sejuk kehidupan bangsa kedepannya. Apakah mereka yang awalnya bersatu “menendang” Prabowo justru akan membuat Jokowi “terjerembab” ? Kita tunggu dan lihat!***