URBANNEWS.ID – Kepala SKK Migas yang juga mantan Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero), Dwi Soetjipto terkesan ‘mengkebiri’ peran Pertamina terkait komentarnya soal penurunan lifting.
Komentar Dwi Soetjipto yang menyatakan bahwa keputusan pengelolaan Blok Corridor pascaberakhirnya kontrak pada 2023 yang diberikan kepada ConocoPhillips lebih ditinjau dari kemampuan Pertamina.
Demikian diutarakan Direktur Eksekutif CERI, Yusri Usman kepada urbannews.id, Senin (29/7/2019).
Menurut Yusri, Dwi Soetjipto menyatakan kemampuan Pertamina dalam mengelola blok migas terminasi, dimana terus terjadi penurunan lifting, menjadi pertimbangan besar dalam pengelolaan Blok Corridor. Hal itu dikatakan Dwi saat konferensi pers di Kementerian ESDM Senin (27/7/2019) lalu.
“Namun, Dwi Soetjipto mungkin lupa bahwa penurunan blok migas yang sudah beroperasi diproduksi di atas 30 tahun adalah wajar dan alamiah. Sehingga untuk mempertahankan produksi lazimnya dilakukan pengeboran sumur pengembangan atau menggunakan tehnologi EOR (Enhanced Oil Recovery),” ungkap Yusri.
Menurut Yusri, semua itu tergantung kemampuan ‘kocek’ Pertamina yang terlalu banyak diberikan beban penugasan oleh pemerintah.
“Sehingga, kalau Dwi Soetjipto berbicara meragukan kemampuan profesionalitas SDM di sektor hulu Pertamina itu ibarat Menteri ESDM dan Kepala SKK Migas sama dengan menampar muka sendiri. Karena sesungguhnya merekalah yang bertanggung jawab soal pembinaan teknis di sektor hulu migas,” kata Yusri.
Lebih lanjut, Yusri mengatakan, harus juga dilihat bukti profesional Pertamina ketika mampu meningkatkan produksi Blok West Madura Offshore dan ONWJ ketika dulu diambil alih dari operator asing 10 tahun yang lalu.
“Suatu hal yang harus dipahami, bukankah resiko jauh lebih besar dan mahal membeli blok yang belum operasi daripada dengan meneruskan blok operasi yang terminasi. Tapi saat itu, Dwi Sucipto sangat yakin akan kemampuan Pertamina dalam membeli saham Maurel & Prom, kenapa sekarang berbeda sikapnya?,” beber Yusri.
Dwi Soetjipto mungkin juga lupa, kata Yusri lagi, sewaktu dia menjadi dirut Pertamina pada 2017 pernah membeli aset blok migas di luar negeri terlalu mahal, yaitu ketika membeli blok migas masih status eksplorasi di tiga negara Afrika, yaitu Gabon, Tanzania dan Nigeria dari perusahaan Maurel & Prom, Prancis seharga puluhan triliun dengan total cadangan hanya 250 juta barel.
“Apakah itu tidak konyol? Dwi Soetjipto harus bisa membuktikan apa hasil dari membeli blok di luar negeri tersebut signifikan bagi penerimaan keuangan Pertamina,” beber Yusri.
“Sebaiknya Dwi Soetjipto jangan asal bunyi dan meremehkan serta mengkerdilkan peran Pertamina. Dwi Soetjipto adalah bukti bahwa ketika Pertamina dipimpin oleh orang ‘indekost’ maka hasilnya tidak akan mumpuni,” ungkap Yusri.(hnk)
