Bagi Ugan Gandar yang sudah lama aktif di Pertamina dan FSPPB, juga melihat situasi kelangkaan ini juga ada upaya-upaya untuk pengecilan atau pengebirian terhadap kemampuan PT Pertamina-Patra Niaga yang dilakukan oleh invisible hand.
“Yang pertama Pertamina tidak boleh pegang uang, yang kedua disparitas harga terlalu lebar, yang ketiga adalah pembatasan kuota. Ini jika disparitas terlalu lebar, orang industri ambil yang subsidi, maka yang terjadi adalah kelangkaan solar seperti saat ini, kemudian akan ada yang dioplos,” ungkap Ugan.
“Maka yang akan rusak nama Pertamina. Kemudian soal kuota. Diputuskan kuota 15 juta kiloliter, tetapi kenyataan pada bulan Oktober atau November habis, maka di bulan Desember akan terjadi kelangkaan. Ketika terjadi kelangkaan solar itu maka nama yang jelek sudah pasti Pertamina atau Patra Niaga. Kenapa tidak ada yang pernah menyalahkan BPH Migas, kenapa?,” lanjut kata Ugan.
Selanjutnya, kekhawatiran dari Ugan pada saat Pertamina dibuat holding dan subholding mulai tampak terjadi.
“Dengan adanya holding dan subholding maka semua subholding mempunyai kinerja atau KPI masing-masing. Bahwa subholding-subholding yang ada di Pertamina itu yang notabene core bisnis semua tentu mencari untung dan dengan biaya seefisien mungkin. Apalagi jika sudah di-IPO-kan. Ini sudah saya prediksi sejak lama,” ungkap Ugan.
“Ini kelangkaan-kelangkaan BBM segala macam itu karena akan dilakukan efisiensi oleh subholding. Apakah oleh shipping, Patra Niaga atau lainnya. Karena mereka kan harus untung. Jika tidak untung maka direksi bisa dicopot. Apa yang saya khawatirkan sudah mulai terlihat,” ungkapnya.
