TANGERANG – Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti Widya Putri kembali mengajak para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) nasional untuk tetap melakukan ekspor ke pasar internasional di tengah dinamisnya kondisi dunia saat ini.
Menurut Roro, pemerintah selalu hadir dan siap membantu para pelaku usaha dalam mengembangkan usahanya.
“Kebijakan perdagangan Indonesia terus berkembang untuk mendukung pengekspor, khususnya UMKM, dalam menghadapi risiko global sekaligus meraih peluang baru. Secara umum, pemerintah sedang menjalankan program deregulasi yang komprehensif, termasuk peningkatan investasi, perbaikan sistem perizinan, fasilitasi perdagangan, dan layanan perdagangan digital,” ungkap Roro.
Roro menjelaskan, Kementerian Perdagangan (Kemendag) terus memfasilitasi UMKM dan mempromosikan diversifikasi tujuan ekspor melalui kemitraan bilateral dan regional.
Di samping itu, Kemendag juga berfokus pada penguatan diplomasi perdagangan untuk memastikan produk Indonesia memenuhi standar internasional dan dapat memasuki pasar bernilai tinggi, seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Asia Timur.
Melalui program platform ekspor digital seperti INAExport dan INATrade, serta program promosi TEI, Kemendag menghubungkan langsung pelaku usaha dengan pembeli, menyederhanakan dokumentasi, dan mendorong transparansi.
“Tujuan utamanya yaitu membuat ekspor lebih mudah, cepat dan aman, terutama bagi usaha kecil,” ujar Roro.
Roro menjelaskan, UMKM berkontribusi lebih dari 60 persen terhadap perekonomian Indonesia dan memainkan peran penting dalam penyerapan tenaga kerja, pendapatan rumah tangga, dan kegiatan ekonomi lokal.
Namun, UMKM juga menghadapi eksposur yang tinggi terhadap volatilitas perdagangan dan keuangan.
Oleh karena itu, Kemendag mengintensifkan upaya untuk mempersiapkan dan meningkatkan partisipasi UMKM dalam perdagangan global dengan menerapkan program UMKM BISA (Berani Inovasi Siap Adaptasi) Ekspor.
UMKM BISA Ekspor dirancang untuk membantu UMKM mengatasi hambatan ekspor, memahami pasar global dan memanfaatkan peluang perdagangan internasional melalui pendekatan end-to-end export development agar ke depan, para UMKM menjadi pelaku ekspor yang makin andal.
“Kami mengajak semua peserta untuk berpartisipasi secara aktif dan memanfaatkan forum ini sebagai wadah untuk berbagi wawasan, menjalin kemitraan, dan menjajaki pasar-pasar ekspor baru. Mari kita ubah ketidakpastian menjadi peluang dengan membangun rantai pasok yang tangguh, memanfaatkan perdagangan digital, dan mendorong pertumbuhan inklusif yang bermanfaat bagi semua pihak,” jelas Roro.
Menurut salah satu peserta forum yang merupakan perwakilan dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Diky Darmawan, forum ini sangat bermanfaat bagi UMKM dan seluruh pelaku usaha yang ingin melakukan ekspor.
“Melalui kegiatan ini, banyak didapatkan pengetahuan baru seputar ekspor, termasuk tantangan, peluang, dan risikonya. Forum ini juga menjadi tempat memperluas jejaring antara UMKM, asosiasi bisnis, lembaga keuangan, dan pemangku kepentingan terkait untuk meningkatkan kesiapan ekspor,” jelas Diky.
Tidak hanya itu, sebelumnya Kemendag juga menggelar sesi pitching dengan pelaku usaha UMKM sociopreneur ekspor yang memberdayakan penyandang disabilitas.
Pitching dihadiri empat perwakilan perdagangan (perwadag) RI di luar negeri dan diikuti tiga pelaku UMKM.
Kegiatan tersebut menjadi upaya Kemendang mendorong ekspor sambil mengampanyekan pemberdayaan sosial.
Kemendag berupaya memastikan agarkelompok rentan, dalam hal ini penyandang disabilitas, turut diberdayakan secara nyata dalam aktivitas ekonomi nasional dan global. Kemendag ingin menunjukkan bahwa partisipasi penyandang disabilitas dalam ekspor juga merupakan bentuk kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan perwujudan pemberdayaan sosial.
Keempat perwadag RI yang dihadirkan dalam pitching adalah Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Santiago di Cile, ITPC Osaka di Jepang, Atase Perdagangan Berlin di Jerman, dan Atase Perdagangan Bangkok di Thailand. Harapannya yakni dengan mengikuti pitching tersebut, para UMKM sociopreneur ini dapat memanfaatkan terbukanya pasar ekspor dari program UMKM BISA Ekspor.
Terlebih lagi, pitching kali ini mencerminkan implementasi prinsipBisnis dan Hak Asasi Manusia (BHAM) di sektor perdagangan.(*)
