JAKARTA – PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD) menyiapkan alokasi belanja modal ataucapital expenditure (capex) di atas Rp 600 miliar pada 2026. Angka ini meningkat dibandingkan realisasi capex tahun sebelumnya yang sebesar Rp 550,92 miliar.
Direktur Garudafood Putra Puteri Jaya Fransiskus Johny Soegiarto mengatakan, peningkatan capex tersebut menjadi cerminan keyakinan perusahaan terhadap prospek pertumbuhan bisnis pada tahun ini.
“Di tahun 2026, perseroan menetapkan total capex group di atas Rp 600 miliar. Ini menunjukkan keyakinan kami terhadap prospek pertumbuhan 2026 dan komitmen untuk terus berekspansi,” ujarnya, belum lama ini.
Ia memaparkan, alokasi terbesar akan difokuskan untuk ekspansi kapasitas produksi, salah satunya pembangunan pabrik keju di bawah anak usaha PT Mulia Boga Raya Tbk (KEJU). Investasi ini ditujukan untuk mendukung pertumbuhan produk Prochiz.
Selain itu, Garudafood juga memperluas kapasitas pada lini dairy product, termasuk pengembangan produk Klevo.
Selanjutnya, dana capex tahun ini digunakan untuk peningkatan produktivitas, efisiensi operasional, serta penghematan energi.
Menurutnya , efisiensi energi menjadi salah satu fokus penting perusahaan, sehingga GOOD terus melakukan investasi pada penggunaan energi yang lebih hemat dan berkelanjutan.
Beberapa investasi yang dilakukan antara lain pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) serta penggunaan boiler dengan teknologi energi yang lebih baru dan efisien.
Ketiga, perusahaan juga memperkuat jaringan distribusi dengan meningkatkan kapasitas gudang dan kapabilitas operasional logistik.
“Dengan distribusi yang semakin luas, kami perlu meningkatkan kapasitas gudang maupun capability operasional gudang, termasuk melalui investasi tanah dan bangunan di titik-titik yang memiliki potensi distribusi besar,” tambahnya.
Terkait sumber pendanaan, Fransiskus menyebut, alokasi capex berasal dari kombinasi dana internal dan dukungan mitra eksternal, termasuk pinjaman dari pihak ketiga maupun perbankan.
Sebagian dana internal berasal dari laba bersih tahun 2025 yang akan dialokasikan untuk mendukung belanja modal tahun ini.
Selain ekspansi bisnis, perseroan juga mencermati kenaikan biaya bahan baku dan kemasan yang berpotensi menekan margin usaha pada 2026.
Salah satu tekanan terbesar datang dari kenaikan harga kemasan plastik, terutama bahan polypropylene (PP), yang menjadi komponen penting dalam kemasan primer produk.(kontan.co.id)
