KARO — Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap temuan awal dalam penyelidikan kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami ratusan pelajar di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Salah satu dugaan masalah yang ditemukan berkaitan dengan penyimpanan bahan baku ikan.
Kepala BGN Sudaryono mengatakan sekitar 200 hingga 300 ekor ikan yang digunakan untuk menu MBG tidak dimasukkan ke dalam freezer. Ikan tersebut disebut berada pada suhu ruang selama sekitar 12 jam atau lebih.
Temuan tersebut disampaikan Sudaryono saat mengunjungi korban yang masih menjalani perawatan di rumah sakit di Sumatera Utara, Minggu (16/8/2026). Menurut dia, kondisi itu menjadi bagian dari investigasi yang masih berlangsung.
“Bahan baku ikan itu sebagian besar dimasukkan ke freezer. Ada sekitar 200 atau 300 ekor yang tidak masuk ke freezer, kemudian ditaruh di suhu ruangan dalam kurun waktu 12 sampai lebih dari 12 jam,” kata Sudaryono, seperti diberitakan RMOL Sumut.
Ratusan pelajar mengalami keluhan kesehatan
Kasus tersebut terjadi setelah pelajar di sejumlah sekolah di Berastagi, Kabupaten Karo, mengonsumsi makanan MBG pada Kamis (13/8/2026).
Data korban kemudian bertambah. Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution menyebut jumlah pelajar yang mengalami keluhan telah mencapai 353 orang. Sebagian mengalami reaksi ketika masih berada di sekolah, sementara lainnya baru merasakan gejala beberapa jam kemudian.
Satu pelajar sempat dirujuk ke rumah sakit di Kota Medan dan menjalani perawatan intensif. Bobby mengatakan kondisi korban tersebut mulai membaik.
Dalam laporan detikSumut, Bobby menyebut sampel makanan telah dibawa ke Laboratorium Kesehatan Sumatera Utara untuk memastikan sumber masalah. Karena itu, pemerintah belum menyimpulkan penyebab kasus hanya berdasarkan dugaan awal.
Sebelumnya, jumlah korban yang dilaporkan pada tahap awal mencapai sekitar 265 pelajar dari beberapa sekolah. Mereka mengalami keluhan seperti mual, muntah, pusing, dan lemas setelah mengonsumsi menu MBG.
Dapur SPPG dikenai sanksi
Sebagai tindak lanjut, BGN menghentikan sementara operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terkait dengan kasus tersebut.
Sudaryono juga menyatakan Kepala SPPG akan dikenai sanksi lebih berat. Ia mengatakan pihaknya mengajukan pemberhentian dengan tidak hormat apabila proses pemeriksaan membuktikan adanya pelanggaran yang memenuhi ketentuan.
Metro24 melaporkan dapur SPPG Karo Sempajaya Berastagi dikenai status suspend berat. BGN juga meminta seluruh petugas yang terlibat dalam pengolahan makanan menjalankan prosedur keamanan pangan secara ketat.
Langkah tersebut dilakukan setelah BGN menemukan adanya dugaan kelalaian dalam penanganan bahan baku. Namun, hasil investigasi menyeluruh dan pemeriksaan laboratorium tetap diperlukan untuk memastikan penyebab kasus.
Keselamatan penerima MBG jadi perhatian
Sudaryono menegaskan keamanan makanan harus menjadi prioritas dalam pelaksanaan program MBG karena makanan tersebut dikonsumsi langsung oleh masyarakat, termasuk anak-anak sekolah.
Kasus di Kabupaten Karo kini masih dalam proses pemeriksaan. Selain evaluasi terhadap dapur SPPG, sampel makanan dan bahan yang berkaitan dengan menu tersebut menjadi bagian dari pemeriksaan untuk mengetahui penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami para pelajar.
Pemerintah daerah dan BGN juga masih memantau kondisi para siswa yang menjalani perawatan. Kejelasan hasil pemeriksaan nantinya akan menjadi dasar untuk menentukan langkah lanjutan terhadap pengelolaan SPPG dan pelaksanaan program MBG di wilayah tersebut.
Catatan: Penyebab yang disebutkan dalam berita ini merupakan temuan awal/dugaan investigasi, bukan kesimpulan final. Penentuan penyebab pasti tetap menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan investigasi lengkap.(*)
