JAKARTA – Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Marsekal TNI Yusuf Jauhari mendorong penguatan kerja sama industri pertahanan Indonesia dengan Turkiye melalui alih teknologi, produksi bersama, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat kemampuan industri pertahanan dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasokan alat utama sistem persenjataan (alutsista) dari luar negeri.
Yusuf menyampaikan hal itu dalam peringatan Hari Nasional Turkiye ke-103 di Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Menurut Yusuf, Indonesia mengutamakan kemitraan pertahanan yang memberikan dampak nyata dan berkelanjutan. Karena itu, kerja sama tidak cukup hanya berorientasi pada pengadaan peralatan militer, tetapi juga harus menghasilkan peningkatan kemampuan teknologi dan kapasitas produksi nasional.
“Indonesia memprioritaskan kerja sama pertahanan yang berdampak nyata dan berkelanjutan melalui alih teknologi, produksi bersama, penguatan industri pertahanan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia,” ujar Yusuf.
Dia menegaskan, kemitraan dengan Turkiye merupakan bagian dari upaya membangun kemampuan pertahanan nasional yang tangguh, adaptif, dan berkelanjutan.
Harapan tersebut sejalan dengan perkembangan kerja sama pertahanan Indonesia, Turkiye, Qatar, dan Pakistan melalui penandatanganan Memorandum Badr di Doha, Qatar, pada 21 Oktober 2026.
Kementerian Pertahanan RI menjelaskan, kesepakatan empat negara tersebut mencakup tiga bidang utama, yakni riset dan pengembangan serta alih teknologi, kolaborasi industri dan manufaktur, serta pengembangan sumber daya manusia.
Kerja sama tersebut juga membuka peluang investasi dan kolaborasi produksi alutsista dengan menggabungkan kemampuan industri pertahanan masing-masing negara.
Sementara itu, Duta Besar Turkiye untuk Indonesia Talip Kucukcan menyatakan Memorandum Badr dapat membuka jalan bagi penguatan kemitraan industri pertahanan Indonesia dan Turkiye.
Talip juga menyebut perusahaan-perusahaan pertahanan kedua negara tengah menjalin kerja sama untuk mewujudkan produksi bersama di Indonesia.
Dia mengungkapkan Turkiye telah mencapai tingkat kemandirian sekitar 80 persen dalam industri pertahanannya. Pengalaman tersebut, menurut Talip, dapat dibagikan kepada Indonesia melalui penguatan kemitraan dan transfer teknologi.
Bagi Indonesia, kerja sama ini diharapkan tidak berhenti pada hubungan pengadaan alutsista, tetapi berkembang menjadi kolaborasi industri yang mampu meningkatkan kemampuan produksi dalam negeri.
Yusuf berharap kemitraan pertahanan Indonesia dan Turkiye terus diperkuat melalui inisiatif konkret, berkelanjutan, dan saling menguntungkan, sekaligus memberikan kontribusi terhadap perdamaian dan stabilitas kawasan maupun dunia.(*)
