SURABAYA – Transformasi PT Garam (Persero) diarahkan untuk memperkuat rantai pasok garam nasional, mulai dari peningkatan produktivitas hingga pengembangan industri hilir. Langkah tersebut diharapkan ikut memperluas penyerapan hasil produksi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap garam impor.
Komitmen transformasi itu disampaikan Direktur Utama PT Garam Abraham Mose dalam puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 perusahaan di Ballroom Shangri-La Hotel Surabaya, Sabtu (31/10/2026).
Mengusung tema Transform to Expand, Grow Beyond, PT Garam menyiapkan pengembangan usaha berbasis sumber daya air laut melalui penerapan teknologi, hilirisasi, peningkatan produktivitas, serta penguatan kapasitas industri.
Dalam kegiatan tersebut, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mendorong PT Garam mempercepat pengembangan industri yang terintegrasi untuk mendukung target swasembada garam nasional pada 2027.
Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur Abdul Qohar AF diwakili Kepala Bagian Tata Usaha Dr. Ko Triskie Narendra dalam acara tersebut. Kejati Jatim menyatakan dukungan melalui pendampingan hukum agar proses transformasi perusahaan dapat berjalan sesuai koridor hukum dan tata kelola yang berlaku.
Kebutuhan Industri Masih Menjadi Tantangan
Transformasi PT Garam berlangsung di tengah kesenjangan antara produksi dan kebutuhan garam nasional. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dalam publikasi 12 Agustus 2026, mencatat produksi garam Indonesia rata-rata sekitar 1 juta hingga 2 juta ton per tahun, sedangkan kebutuhan dalam negeri mencapai 4,5 juta hingga 5 juta ton.
KKP juga menyebut Indonesia masih membutuhkan impor sekitar 2,5 juta hingga 3 juta ton per tahun, terutama untuk memenuhi kebutuhan industri yang mensyaratkan kualitas garam lebih tinggi.
Persoalan kualitas menjadi salah satu tantangan bagi petambak garam dalam negeri. Menurut KKP, sebagian besar garam rakyat memiliki kadar natrium klorida (NaCl) maksimal sekitar 94 persen, sementara kebutuhan industri tertentu mensyaratkan kadar minimal 97 persen.
Kondisi tersebut membuat peningkatan produksi perlu disertai perbaikan mutu, teknologi pengolahan, dan fasilitas penyimpanan. Dengan demikian, hasil produksi petambak tidak hanya bertambah dari sisi volume, tetapi juga memiliki peluang lebih besar untuk memenuhi spesifikasi pasar industri.
Dalam siaran pers pada 16 Februari 2026, KKP menyampaikan strategi hilirisasi melalui modernisasi teknologi evaporasi, pembangunan kawasan pergaraman terintegrasi, serta pengembangan fasilitas pencucian dan kristalisasi garam. Langkah tersebut ditujukan untuk menghasilkan garam industri dengan kadar NaCl di atas 97 persen.
KKP juga menyebut penguatan sarana produksi, seperti geomembran, mesin pompa, pengering garam, dan gudang penyimpanan, sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas serta ketersediaan pasokan.
Bagi PT Garam, pengembangan teknologi dan kapasitas produksi menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai industri dari hulu hingga hilir. Perusahaan menegaskan komitmennya mendukung target swasembada garam nasional pada 2027.
Sementara itu, pendampingan hukum dari Kejati Jatim diharapkan dapat membantu memastikan pelaksanaan transformasi dan pengelolaan usaha perusahaan berjalan sesuai ketentuan.(*)
