Pemerintah Tak Libatkan Keluarga Pewaris Zuriyat Kesultanan Siak Sri Indrapura dalam Alih Kelola Blok Rokan, Tanda Pengkhianatan dan Penghilangan Sejarah

oleh
Tengku Amin
Tengku Amin. foto/ist

Pada masa Sultan ke-11, yaitu Sultan Assayaidis Syarief Hasyim Abul Jalil Syaifuddin yang memerintah pada tahun 1889-1908, dibangunlah istana yang megah terletak di Kota Siak pada tahun 1889, dan istana ini diberi nama Istana Asseraiyah Hasyimiah. Pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim ini siak mengalami kemajuan terutama di bidang ekonomi.

Setelah Sultan Syarif Hasyim wafat, beliau digantikan oleh putranya yang masih kecil dan sedang bersekolah di Betavia, yaitu Tengku Sulung Syarif Kasim dan baru pada tahun 1915 beliau saat berumur 21 tahun ditabalkan sebagai Sultan Siak ke-12  dengan gelar Assayaidis Syarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin dan terakhir terkenal dengan nama Sultan Syarif Kasim Tsani (Sultan Syarif Kasim II).

Yang Dipertuan Besar Assayaidis Syarif Kasim Abdul Jalil Saifuddin (Sultan Syarif Kasim II) lahir di Siak Sri Indrapura, pada tarikh 1 Desember 1893 dan mangkat di Rumbai, Pekanbaru,  Riau, pada tarikh 23 April 1968 dalam usia 74 tahun.

Sultan Syarif Kasim II merupakan seorang pendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tidak lama setelah Proklamasi dia menyatakan Kesultanan Siak Sri Indrapura bergabung dengan Indonesia dan menyatakan wilayah Kesultan Siak Sri Indrapura yang wilayahnya mulai dari Sumatera Timur, meliputi Kerajaan Melayu Deli, Serdang, Bedagai hingga Provinsi Riau dan Kepulauan Riau saat ini, sebagai bagian wilayah Indonesia, dan dia menyumbang harta kekayaannya sejumlah 13 juta gulden untuk Pemerintah Republik. Jumlah ini setara dengan US$ 151 juta atau € 69 juta euro pada tahun 2011.

Bersama Sultan Serdang dia juga berusaha membujuk raja-raja di Sumatera Timur lainnya untuk turut memihak Republik Indonesia.

Sumbangan Sultan Siak itu merupakan sumbangan terbesar kerajaan-kerajaan di nusantara bagi bayi baru lahir, Indonesia. Bandingkan dengan Kesultanan Yogyakarta. Sultan Hamengku Buwono IX hanya menyumbangkan 6,5 juta Gulden Belanda bagi modal perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Sultan Syarif Kasim II pernah mengeluhkan nasibnya saat melihat Kesultanan Deli maju pesat setelah dilepaskan dari Kerajaan Siak Sri Indrapura oleh Belanda. Tanah Deli yang awalnya tidak punya apa-apa, dikembangkan oleh Belanda menjadi distrik pertanian ekspor paling kaya di seluruh Nusantara.