Analisa Kritis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal Kedua Tahun 2021

oleh
Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi akseleran co id
Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi. foto/akseleran.co.id

Makanya meski pertumbuhan Q2/2021 nampak mengesankan, sebetulnya angka PDB-nya sendiri hanya Rp 2.773 triliun, alias masih di bawah angka PDB Q3/2019 atau sebelum ada Pandemi, yang Rp 2.819 triliun. Alias ekonomi kita masih menciut, belum kembali ke angka yang semula atau normal.

Last but not least, khususnya bagi ekonom yang suka dengan analisa varian atau pun hipotesa yang lebih kritis, dan tetap dengan metode YoY, dapat diungkapkan sebagai berikut, PDB (riil) Q2/2019 adalah Rp 2.735,4 Triliun.

Bila diasumsikan keadaan normal yaitu pertumbuhan ekonomi 5%, maka PDB Q2/2020 seharusnya Rp 2.872,2 Triliun alias masih lebih besar dari angka PDB Q2/2021 yang hanya Rp 2.773 Triliun, yang berarti masih minus.

Bila pertumbuhan Q2/2020 diasumsikan NOL persen alias sama saja dengan Q2/2019 yaitu Rp 2.735,4 Triliun, maka angka PDB Q2/2021 yang Rp 2.773 Triliun itu hanya menunjukkan pertumbuhan 1,3%.

Maka meski kita bersyukur dengan angka pertumbuhan resmi Q2/2021 yang 7,07% (YoY), tapi ekonomi kita sebetulnya masih jauh dari pulih. Kenapa? Karena PDB Q2/2021 masih di bawah PDB Q3/2019 yang Rp 2.819 Triliun atau praktis masih sama dengan Q4/2019 yang Rp 2.770 Triliun.

Itulah sebabnya saya sebutkan bahwa pertumbuhan 7,07% itu masih relatif rendah sebab untuk mengejar ketinggalan selama ini kita harus tumbuh dengan 2 digit seperti Singapore, USA dan Uni Eropa. Artinya, kita masih harus kerja keras dan cerdas, bukan euphoria apalagi membusungkan dada.***

6 Agustus 2021
Fuad Bawazier