Sungai Siak Tercemar Khlorin dan Phospat, Percepat Kepunahan Ikan Asli Siak

oleh
8C9B5207 07BB 41F0 A102 C9819CA167D2

PEKANBARU – Tim Ekspedisi Sungai Nusantara (ESN) bersama dengan Mahasiswa Pecinta Alam Humendala Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Riau dan Badan Teritori Telapak Riau melakukan uji kualitas air Sungai Siak selama tiga hari mulai Jumat (1/7/2022) pada enam lokasi dari hulu, tepatnya di Jembatan Siak II di Rumbai hingga di hilir di Kelurahan Tanjung Rhu, Kecamatan Lima Puluh.

Menurut Peraturan Gubernur Riau Nomor 12 tahun 2003 memasukkan Sungai Siak pada kategori air kelas III. Berdasarkan hasil pengukuran kualitas air dengan mengacu pada PP 22/2021 tentang Penyelenggaran Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pada lampiran tentang baku mutu sungai kelas III, maka beberapa parameter yang diukur telah melampaui baku mutu.

   

“Hasil pengukuran uji kualitas air menunjukkan bahwa kadar Khlorin bebas Sungai Siak telah melebihi baku mutu PP 22/2021, pada beberapa lokasi kadar phospat menunjukkan kadar diatas baku mutu yang cukup tinggi yaitu jembatan Siak 2 dan batang sago sebesar 2,5 ppm padahal standarnya tidak boleh lebih dari 1 ppm,” ungkap Prigi Arisandi, peneliti ESN.

Ia menyebutkan, untuk kadar khlorin pada semua lokasi yang diteliti, kadarnya melebihi baku mutu yaitu sebesar 0,03 ppm, sedangkan pada air Sungai Siak kadar Khlorin tertinggi ada di hilir sungai  sebesar 2 ppm, sedangkan terendah ada pada sungai sail sebesar 0.09 ppm.

Dampak Khlorin Bebas dan Fosfat

Selain berdampak pada kesehatan, senyawa klorin menurut Prigi menimbulkan dampak terhadap lingkungan, klorin juga sering digunakan sebagai disinfektan yang ternyata dapat bereaksi dengan senyawa-senyawa organik yang terdapat dalam air. Klorin dapat bereaksi dengan materi organik dalam air limbah yang menyebabkan karsinogen. 

“Klorin berpotensi menyebabkan iritasi mata, kulit dan iritasi saluran pernapasan atas. Efek jangka panjang menyebabkan gangguan obstruksi saluran pernapasan. Tiga jalur masuk klorin ke dalam tubuh diantaranya melalui jalur ingesti dan kontak kulit atau terlarut. Kontak langsung melalui kulit dengan klorin bersifat iritan, maka efek yang ditimbulkan yaitu iritasi kulit, mata, dan iritasi saluran pernapasan atas. Klorin banyak digunakan dalam industri kertas sebagai bahan pemutih, dalam rumah tangga khlorin menjadi senyawa dalam bahan pemutih pakaian, desinfektan dan sebagai bahan tambahan dalam herbisida yang banyak digunakan dalam perkebunan sawit,” ungkap Prigi.

Menurut Prigi kadar Fosfat dijumpai pada dua lokasi penelitianya di Rumbai dan Sago, yang jauh di atas baku mutu. Fosfat merupakan salah satu parameter pencemaran air yang dapat meningkatkan kesuburan badan air. 

“Proses pertumbuhan alga serta tumbuhan air yang tidak terkendali (blooming alga) dapat dipengaruhi akibat tingginya unsur fosfat yang berasal dari limbah domestik, industri maupun pertanian. Kandungan fosfat dalam perairan dapat berasal dari limpasan pupuk pada pertanian, kotoran manusia, maupun hewan, kadar sabun, pengolahan sayuran, serta industri pulp dan kertas. Penggunaan detergen dalam rumah tangga juga menjadi penyumbang kadar fosfat yang signifikan dalam perairan,” ungkap Prigi.

“Tinggibya konsentrasi kadar fosfat di perairan yang telah melebihi baku mutu maka dapat dipastikan berakibat pada menurunnya kualitas perairan dan berdampak negatif pada kepunahan beragam jenis ikan yang ada di Sungai Siak,” ungkap Prigi Arisandi lagi.

Lebih lanjut Prigi mengatakan, ada tiga faktor yang mendorong kepunahan ikan di Sungai Siak. Di antaranya, Deforestasi atau penggundulan hutan.

“Vegetasi dalam hutan merupakan energi bagi perairan, daun-daun yang jatuh akan berubah menjadi seresah yang menjadi nutrisi bagi beragam jenis bioata air seperti serangga air, mulai dari anak capung, lalat sehari, engkang-engkang, kepik, dan makroinvertebrata atau biota tidak bertulang belakang. Keberadaan serangga air menjadi sumber pakan ikan selain plankton, maka jika serangga air musnah maka ikanpun akan musnah,” jelas Prigi.

Selain itu, menurut Prigi kepunahan ikan juga disebabkan limbah perkebunan sawit, pemberian pupuk yang berlebihan menimbulkan residu senyawa Nitrat dan phospat. Kadar Nitrat, nitrit dan phospat sangat berpengaruh pada pertumbuhan ikan karena phospat akan menyebabkan kerusakan pada insang. 

“Ikan akan mengalami sulit bernafas meski air mengalir karena insang mengalami kerusakan. Senyawa lain adalah pestisida pertanian dan perkebunan yang banyak digunakan tidak semua terserap dan sebagian terlepas ke perairan sungai,” jelas Prigi.

Terakhir, penyebab punahnya ikan sungai siak lantaran limbah Industri, dimana limbah cair industri banyak mengandung logam berat dan senyawa sintetis (senyawa Khlorin salah satunya) akan menimbulkan gangguan telur ikan bahkan kematian telur dalam kandungan ikan.(hen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *